Tuesday, April 10, 2012

Unsur-Unsur Intrinsik Cerpen/Novel


Unsur-Unsur  Intrinsik Cerpen/Novel


       Unsur intrinsik ialah unsur/bagian yang membentuk sebuah cerita (cerpen/novel). Unsur-unsur intrinsik tersebut adalah: tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.

A.  Penokohan

1.    Pengertian
       Penokohan sering juga disebut perwatakan, yaitu pelukisan mengenai tokoh cerita. Pelukisan ini mencakup keadaan lahir dan batin tokoh. Keadaan lahir merupakan bentuk jasad tokoh, keadaan batin mencakupi pandangan hidup tokoh, sikap tokoh, keyakinan, dan adat istiadat.

2.    Teknik Penokohan
       Dalam menggambarkan watak tokoh pengarang menggunakan dua cara yaitu (1)penggambaran langsung dan (2)penggambaran tidak langsung.

(1) Penggambaran Langsung
       Dikatakan penggambaran langsung karena penulis langsung menyatakan watak tokoh; pembaca tidak perlu lagi menafsirkan.
Contoh:
a.           Bangkuro lelaki yang tampan. Jejak ketampanannya tampak jelas menutupi garis-garis ketuaannya. Ia sangat disayangi rakyatnya. Di balik kekerasan watak dan pembawaannya tersimpan hati yang sangat penyayang. Hutan di mana mereka bermukim sangat dijaga oleh Bangkuro dengan berbagai peraturan. Tidak ada yang boleh dirusak dan diganggu jika tidak dibutuhkan. Hewan buruan ditangkap sekedar untuk dimakan, bukan untuk kesenangan. Ia pun menggalakkan bercocok tanam kepada rakyatnya. Bukan hanya menggantungkan hidup kepada alam seperti yang selama ini mereka lakukan.
Jurang Perdamaian, Abu Syuhada

Watak tokoh ”Bangkuro” dalam penggalan cerita di atas adalah berwatak keras dan hatinya penyayang.

b.           Badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih dan tenang, berbayang, bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati; tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak seorang yang mampu dan tertib sopannya, menyatakan ia anak seorang yang berbangsa tinggi.
Siti Nurbaya, Marah Rusli
Watak tokoh ”ia” dalam penggalan cerita di atas adalah lurus (jujur)  dan  keras hati.

(2) Penggambaran Tidak Langsung
       Penggambaran watak tokoh secara tak langsung maksudnya pembaca menafsirkan sendiri watak tokoh. Watak tokoh ditafsirkan berdasarkan: (1) fisik tokoh, (2) dialog antartokoh, (3) tanggapan tokoh lain, (4) lingkungan tokoh, (5) tindakan/perbuatan tokoh, (6) pikiran tokoh.

a.    Dialog antartokoh
Yaitu pembaca dapat mengetahui watak tokoh dari pembicaraan tokoh dengan orang lain. Bagaimana tokoh itu berbicara, apa isi pembicaraannya dengan tokoh lain, menggambarkan watak si tokoh.
Contoh:
     ”Aku tidak peduli! Pokoknya hari ini, malam ini, detik ini juga kalian angkat kaki dari rumah ini!” Sang juragan menatap Adi dan ibunya dengan mata penuh api.
     ”Juragan, kasihanilah kami. Beri waktu seminggu lagi, kami akan segera lunasi uang kontrakan,”  ibu memandang sang juragan dengan air mata berlinang.
Dari penggalan cerita di atas, dari apa yang ia ucapkan kita tahu sang juragan adalah seorang yang berwatak bengis dan tak punya rasa kemanusiaan.

b.    Tanggapan (ucapan) tokoh lain
     Yaitu pembaca dapat mengetahui watak tokoh dari tanggapan yang dilontarkan oleh tokoh lain dalam cerita.
Contoh:
     ”Ada masalah apa antara kau dan Leni, Meri?” tanya Mak suatu malam.
     ”Itulah, Mak. Aku memang tak senang dengan dia. Dia tak bisa menyimpan rahasia. Mulutnya ember, bocor, tak ada remnya. Aku sudah bilang, tolong jangan cerita pada orang lain. Eh, barus sehari udah banyak orang yang tahu.”
Dari penggalan cerita di atas, berdasarkan ucapan Meri, watak Leni adalah tidak bisa menyimpan rahasia.

c.    Perbuatan tokoh
Yaitu pembaca bisa menentukan watak tokoh dari apa yang dilakukan tokoh tersebut.
Contoh:
     Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka,melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
     Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Watak Rafli adalah setia kepada istrinya.

d.   Pikiran tokoh
Yaitu pembaca bisa menentukan watak tokoh dari apa yang dipikirkan tokoh tersebut.
Contoh:
     Sampai jauh malam Iyen masih terjaga. Ia terus menguatkan hati. Ia tak boleh merasa lemah oleh masalah dan kesulitan. Ia harus terus melangkah  maju. Kehidupan serba sulit yang saat ini ditanggungkan keluarganya harus ia ubah. Iyen yakin, dengan cara sekolah setinggi-tingginya kemiskinan yang membalut keluarganya bisa ia lawan.
Watak Iyen yang tidak suka berputus asa tergambar dari pikiran tokoh Iyen di atas.


B.  Sudut Pandang

  Sudut pandang adalah posisi penulis dalam cerita. Hanya ada dua sudut pandang, yaitu:
1.    Sudut pandang orang pertama
      Artinya penulis terlibat dalam cerita, ditandai dengan adanya seorang tokoh yang bernama “Aku”.
     Terbagi dua:
a.    Orang pertama pelaku utama
Penulis, si ”Aku”, adalah tokoh utama dalam cerita. Cerita tersebut adalah peristiwa yang menimpa penulis.
Contoh:
Mak memandangku dengan mata penuh kasihan dan sayang. Aku lebih kasihan lagi pada Mak. Membesarkan lima orang anak sendirian bukan pekerjaan mudah. Aku ingin membantu meringankan beban Mak. Separuh hari sekolah, separuh hari berkuli. Kalau libur, sepanjang hari aku berkuli.
Aku ingin membahagiakan Mak. Itu citaku.
”Biarlah Adi belajar tentang pahitnya hidup, Mak. Mungkin berguna nanti.”
”Tapi Mak  kasihan. Pulang kerja kamu terkapar keletihan. Lagian, nanti belajarmu terganggu.”
”Percayalah pada Adi, Mak. Adi tidak akan mengecewakan Mak. Insyaallah.”
Mak diam. Itu kalimat pamungkasku. Suara hatiku yang paling dalam. Mak selalu terdiam kalau mendengar kalimat itu.
                                                               Anjing, karya Abu Syuhada
b.    Orang pertama pelaku sampingan
Penulis, si ”Aku”, bukan tokoh utama, tapi tokoh sampingan dalam cerita. Cerita tersebut adalah pengalaman teman, sahabat, saudara, dll. dari penulis yang penulis— si Aku —ikut terlibat dalam peristiwa cerita.
Contoh:
       Mata Adi menatapku dalam. Aku melihat derita yang sangat pedih di mata itu.
       ”Aku akan membalaskan apa yang telah mereka lakukan pada keluargaku.”
       ”Sabarlah, Di. Sehatkanlah dulu badanmu.”
       ”Terima kasih, Can. Kau sangat banyak membantuku.”
       Adi langsung bangkit dari duduknya. Dengan agak sempoyongan ia berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum menutup pintu, ia menoleh kepadaku sebagai tanda meminta izin pulang. Aku mengangguk.
Entah apa yang akan terjadi esok. Adi pasti mencari siapa orang yang telah membantai seluruh anggota keluarganya.


2.    Sudut pandang orang ketiga
Artinya penulis berada di luar cerita; tidak ada tokoh yang bernama “Aku”.
Terbagi dua:
a.    Orang ketiga terarah
Penulis fokus pada menggali isi pikiran dan perasaan dari tokoh utama. Tokoh-tokoh lain tampak diabaikan, tidak terlalu diungkap pikiran dan perasaannya.
Contoh:
       Rasa tak tertanggungkan lagi oleh Alim konflik rumah tangganya kali ini. Rumah tangganya seperti di ambang keruntuhan. Semua pihak yang terkait sudah tak punya lagi stok kesabaran yang bisa mendinginkan situasi. Suasana selalu panas. Pertengkaran sambung menyambung setiap kedua pihak  bertemu.
“Seperti tak ada jalan keluar lagi,” kata Alim seperti kepada dirinya sendiri.  Alim memandang Fatah, sahabat karibnya.  Matanya jelas menampakkan kekisruhan yang sangat. Matanya terlihat sayu ketika memandang Fatah.
       “Alim, Allah yang memberi masalah dan mintalah pertolongan pada-Nya jalan keluar,” kata Fatah.
       Secercah cahaya berkilat di mata Alim. Ia seperti tersiram air sejuk pegunungan Sibayak.  Apa yang diucapkan Fatah benar. Ia telah melupakan Sang Pemberi Masalah. Mengapa ia tak bertanya kepada Yang memberi masalah ini kepadanya. Tentu Yang memberi masalah tahu jawabannya. Alim beristighfar sebanyak-banyaknya dalam hatinya. Ah, alangkah telah jauh aku darimu Ya Allah.

b.    Orang ketiga serbatahu
Penulis serbatahu apa yang dipikirkan dan dirasakan seluruh—sebagian besar—dari tokoh-tokoh dalam cerita. Sebagian besar tokoh cerita ia ungkap pikiran dan perasaannya.
Contoh:
       ”Kembalikan saja semua yang telah kauambil,” kata Ustad Imran memandang Dodi tenang. Ustad Imran tahu bahwa Dodi harus diberi ketenangan. Ketenangan ini akan memberi kekuatan kepadanya. Masalah yang dihadapinya bukan masalah yang ringan. Berat, sangat berat.
       Dodi sangat galau. Wajahnya kusut, dahinya berkerut penuh lipatan. Sedang terjadi pertarungan batin yang luar biasa di dalam dadanya. Dadanya serasa mau pecah, dan kepalanya seakan mau berkeping-keping.  Ia harus mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya untuk mengakui perbuatan salahnya dan mengembalikan hasilnya.

Monday, April 9, 2012

naskah muhasabah mabit

Sang ibu terus mengelus-elus perutnya yang membesar, mengirimkan pesan cinta pada sang buah hati. Banyak kesakitan tak terungkap yang dirasanya. Kaki susah dibawa berdiri, apalagi berjalan. Mudah letih, sakit kepala, dan sangat perasa. Tidur berbaring serba sulit. Pekerjaan rumah tak berkurang dari semula.

Sang buah hati menendang-nendang, dan sang ibu tersenyum.

Dengan rasa sakit tak terungkap kata, dengan taruhan nyawanya, lahirlah sang buah hati ke dunia. Ibu tersenyum. Didekapnya sang anak, diciumi. Hilang semua rasa sakit dan keletihan yang luar biasa dalam sekejap.

Terima kasih ya Allah, telah Kau karuniakan aku anak yang mungil dan manis. Kembali ia peluk anaknya dengan penuh cinta.

Perawat mencoba mengambil sang anak. Sang anak menangis keras. Sang ibu cepat-cepat mengambil dan mendekapnya, ia pun diam. Sang anak akan terus diam dan damai dalam dekapan sang ibu dalam tahun-tahun awal kehidupannya. Ia merasakan kenyamanan dan kesejukan tak berhingga di sana. Ibu seperti sebuah pohon yang rindang teduh dikelilingi mata air yang sejuk dan jernih. Segala kemarau dunia ini takluk dalam dekapan sang bunda.

Darah yang selama ini mengalir dalam tubuhnya ia alirkan pada sang buah hati. Ia tertawa gembira ketika sang anak mengencingi tubuhnya. Ia tersenyum ketika sang anak buang air besar seenak hatinya. Ia bersihkan, dan ia pakaikan pakaian terbaik kepada anaknya.

Siang sang anak tidur dan malamnya ia bangun,menangis meraung sekuat tenaga. Malam dan seluruh makhluk penjaganya jadi saksi raungan sang anak. Sang ibu, siang bekerja mengurus keluarganya, malam ia habiskan mengurus sang buah hati tercinta. Keletihan seperti apa yang tak terasa. Tapi, ia begitu cinta pada anaknya.

Heningnya malam bergetar oleh senandung sang ibu meninabobokkan anaknya,
Tidurlah anak si buah hati
Obat letih pelerai demam
Cepatlah besar
Jadi orang berguna bagi agama, sesama

Tiba-tiba sang anak sakit.  Sang ibu panik dan sangat sedih. Air mata senantiasa menggenang di pelupuk matanya.  Tak bisakah sakit anaknya itu ia yang menggantikannya. Sang anak rewel luar biasa. Tak henti-henti menangis. Sang ibu tak lepas-lepas menggendongnya. Terbengkalai kebanyakan dari pekerjaannya. Siang malam ia terus tunggui sang anak tercinta, tak mau jauh dari sisinya. Terus ia berdoa pada Allah agar sang anak disembuhkan dan diberi panjang umur. Jangan kau ambil buah hatiku, ya Allah…. Bisik hatinya dengan gemetar dan pilu.

********
Sang anak  tumbuh besar jadi remaja, gagah, cantik.

*

“Ibu, aku mau sepatu yang bagus seperti punya temanku.”
“Ibu tidak sanggup membelikannya, Nak. Pakai sajalah sepatumu, itukan masih bagus dan belum lama dibeli.”
“Ibu bohong. Pokoknya aku mau yang itu,” kata sang anak sambil membalikkan tubuh dan wajahnya dengan ketus dan kasar. Ia tinggalkan sang ibu dengan menghentakkan kakinya ke bumi, wajahnya  kesal dan marah.

Sang ibu diam terpaku.

Mulut yang dahulu ia beri minum dari air susunya. Mulut yang dahulu  ia suapi dengan lembut. Mulut yang dahulu tangisannya membuat ia resah dan cepat datang memeluknya. Mulut itu sekarang menuduhnya pembohong.

Wajah yang dahulu ia selalu cium. Wajah yang selalu ia hapus air matanya. Wajah yang dahulu ia usahakan selalu tersenyum. Wajah itu hari ini  penuh kekesalan dan kebencian padanya.

Sesungguhnya Allah Mahatahu bahwa semenjak sang anak mulai besar, remaja, hati sang ibu telah hancur, harapannya seakan musnah. Ia seakan tak percaya, bagaimana sang buah hati yang manis dan lucu, yang menggemaskan, ia sayang sepenuh hati, kini…
Tiada hari tanpa hatinya terluka oleh mulut yang tajam.
Hatinya teriris oleh pandangan yang sinis dan menyalahkan.
Dan kata-katanya seperti angin lalu, tak diacuhkan.


Ya Allah, bukankah telah kuberikan segala cinta kepada anakku.
Bukankah aku telah rela menyerahkan hidupku asal anakku panjang usia.
Biar kutanggungkan seluruh kepahitan dunia ini untuk seulas senyum di bibirnya.
Bukankah aku telah membanting tulang, tak kenal lelah mencarikan kebutuhan dirinya.
Apalagi yang harus aku lakukan.

Mengapa ini balasannya…
Kemarahan, kekesalan, caci maki. Ia begitu  sinis dan merendahkanku.
“Perempuan tua,” begitu katanya.




Sang anak tak peduli. Ia terus durhaka. Ia penuhi  hidupnya dengan hura-hura, maksiat. Ia coreng malu di kening orang tuanya.  Tak satupun nasihat sang ibu yang ia dengarkan. Ia bantah sang ibu dengan segala kehebatan yang ia dapat dengan kepintarannya, katanya. Ia rendahkan ibunya sebagai seorang tua bodoh yang tak tahu perkembangan zaman.

Katika sang ibu sakit, tak ia peduli sedikit pun.  Jangankan ia tunggui, menengoknya saja ia enggan. Alangkah luar biasa kemarahan dan kebenciannya ketika sang ibu tak memberi apa yang ia minta.  Mau rasanya ia  menghancurkan rumah yang dahulu ia dibesarkan di sana. Ia lalu pergi tak pulang-pulang menghilangkan sakit hati, meninggalkan sang ibu dalam kecemasan.

**

Sang ibu telah ringkih, renta. Mata telah kabur, badan telah lemah dan sakit-sakitan.  Sang anak telah dewasa dan punya banyak uang.

Dan alangkah angkuhnya sang anak. Ia memandang rendah pada ibu yang menompang hidup kepadanya.  Alangkah senang hatinya bila sang ibu cepat mati dan tak lagi membebaninya. Tak pernah sekalipun lagi ia mencium tangan ibunya. Bahkan tak hendak hatinya untuk menyapa perempuan tua yang dahulu ia selalu tertidur damai dalam pelukannya.

Alangkah durhaka dirimu sang anak. Alangkah celaka dirimu.  Neraka adalah tempat tinggalmu,

Perempuan tua itulah yang dahulu mengganti tiap tangisanmu dengan senyum kegembiraan.
Perempuan tua itulah yang dahulu selalu setia menemanimu kapan saja dalam kesedihan, mendekapmu dengan cinta seluas samudra, cinta setinggi himalaya.
Perempuan tua itulah yang menangis untuk tiap derita yang menyapamu
Perempuan itulah yang dahulu hingga hari ini membasahi mulutnya dengan doa-doa untuk kebahagiaanmu.
Perempuan tua itulah  yang telah mengambil pilihan ketika ia diberi pilihan apakah ia yang hidup atau anaknya, maka ia memilih memberikan hidupnya.


Andai Allah memang mengambil hidupnya ketika itu, ketika si buah hati yang mungil itu mencintainya dan ia pun sangat cinta kepadanya. Ketika mereka saling mencintai. Alangkah ia berbahagia.

Sang ibu terus menjalani hidupnya dalam siksaan tak berujung dari si anak, anak yang tahu membalas budi. Air susu dibalas air tuba.

Akhirnya ia bisa berbahagia. Ketika, kematian datang dan menjemputnya, ketika kematian datang memisahkan ia dari sang anak, anak durhaka.


Anak-anak yang durhaka:
·         Tiada hari tanpa ia menyakiti hati orang tuanya.
·         Ia permalukan orang tuanya dengan ulahnya.
·         Kata-kata tajam mengiris hati
·         Wajah ketus penuh kekesalan
·         Terus-terus meminta apa yang ia inginkan, tanpa peduli dengan kemampuan orang tuanya
·         Menjawab apa saja kata orang tuanya
·         Tak satu pun nasihat orang tua yang ia pedulikan
·         Ia terus berbuat dosa dan maksiat, sehingga hancur nama baik orang tuanya. Sehingga, bukan hanya manusia yang murka kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya, Allah Yang Mahapencipta pun murka kepada orang tuanya. Di hari kiamat sang orang tua ikut dibelenggu bersama sang anak yang penuh dosa.







naskah muhasabah yang dibacakan siswa


Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarokatuh.
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami memberi kami hidup, telah memberi kami makan dan minum. Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami orang tua yang sangat menyayangi kami. Segala puji kepada Robbul’alamin yang telah memberi kami guru-guru yang mau berjerih payah mengajar dan mendidik kami untuk masa depan kami yang lebih baik. Terima kasih ya Allah, sungguh nikmat dan karunia-Mu tiada berhingga dan tiada terhitung, hanya saja kami belum mau dan mampu bersyukur. Yang kami kerjakan adalah kedurhakaan kepada-Mu, kepada kedua orang tua kami, kepada bapak ibu guru kami. Kalau ditimbang kedurhakaan itu, sungguh gunung-gunung di muka bumi tak sebanding dengannya. Kalau ditampakkan kedurhakaan itu, niscaya rasa malu kami sudah tak cukup lagi untuk menutupinya.

Apalagi yang belum kami kerjakan. Menyakiti hati ayah dan ibu, mengiris-iris hati mereka dengan luka yang amat perih, membantah suruhan, mematahkan permintaan mereka, menghancurkan harapan mereka, sampai membentak dan mencaci-maki mereka—walau hanya dalam hati—semua telah kami lakukan, sebagai balasan dari kerja keras mereka siang malam membesarkan dan mendidik kami. Adakah dosa yang lebih besar daripada kedurhakaan kepada kedua orang tua?  kami tidak pernah peduli dengan harapan-harapan ayah dan ibu. Harapan tinggal harapan, dan kami mengikuti  kehendak hati.

Apalagi yang belum kami kerjakan. Tiada hari tanpa pembangkangan kepada bapak ibu guru. Kami rasa kami telah bayar apa yang bapak ibu guru berikan kepada kami. Tidak cukupkan segenap biaya yang telah kami keluarkan untuk tiap huruf yang mereka ajarkan. Lalu mengapa kami harus dicekcoki lagi dengan segudang peraturan dan seribu satu sopan santun yang mereka sendiri belum tentu mengamalkannya. Kami merasa pembangkangan kami sebagai sesuatu yang wajar. Kami telah dewasa dan cerdas, dan sanggup membantah apa saja yang bapak ibu guru ucapkan. Hanya itu yang kami tahu. Kami tak tak tahu dan tak mau tahu bahwa sebenarnya apa yang bapak ibu guru berikan kepada kami berupa ilmu dan akhlak tak akan pernah terbayar oleh uang sebanyak apa pun. Bapak ibu guru adalah mitra ayah ibu kami dalam menunjukkan kepada kami jalan ke surga, dunia akhirat.  Adakah harga yang pantas bagi orang-orang yang mau bersusah payah menunjukkan kepadamu jalan ke surga? Seandainya bapak ibu guru mengukur tiap pengabdiannya dengan uang, maka binasalah kami. Tak ada yang terbaik dari dunia ini yang bisa didapatkan dengan mengukurnya dengan uang. Ukuran terbaik adalah keikhlasan, yang Allah Robbul’alaminlah  sandarannya. Kami tak tahu dan tak mau tahu akan hal itu.

Andai kami mati hari ini, maka telah cukuplah dosa-dosa kami itu sebagai alasan bagi-Nya untuk memasukkan kami ke neraka-Nya. Neraka adalah tempat yang sangat pantas bagi manusia-manusia keras kepala dan durhaka. Alangkah panasnya neraka itu dengan apinya yang menghitam, penjaganya yang bengis, dan hidangannya yang berupa darah, nanah, air mendidih, dan makanan dari buah berduri yang menghancurkan lambung. Kami tak pernah takut dengan neraka itu hingga hari ini. Kedurhakaan kami sebagai buktinya.

Maafkan kami ayah ibu. Sebutlah seluruh jasa dan kebaikan yang telah engkau lakukan kepada kami, sepenuh langit dan bumi, niscaya kami tidak akan membantahnya. Ibulah yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kami ke dunia ini. ibulah yang telah menyayangi kami dengan kasih sayang yang memenuhi cakrawala dengan salju kesejukan. Ibu mencintai kami seindah musim semi, seindah matahari senja yang berbaring berselimut segara biru. Ayahlah telah memberikan seluruh hidupnya dalam kerja keras untuk masa depan yang lebih baik bagi kami, anak-anaknya. Tak ada, tak akan pernah ada pengganti untuk kasih sayang itu ke mana pun kami mencarinya selama bumi terbentang, di mana pun sampai kapan pun.
Dan kami balas semua itu dengan menghancurkan mimpi-mimpi indah ayah ibu akan diri kami. Mimpi melihat kami menjadi anak yang soleh: rajin beribadah kepada Allah dan taat kepada orang tua. andai kami tak pernah ada, mungkin itu lebih baik.

Maafkan kami bapak ibu guru. Sebutlah bapak ibu guru, semua jasamu kepada kami, niscaya kami mengaminkannya dengan tunduk dan khusyuk. Bukankah bapak ibu gurulah yang mengajari kami  berbagai ilmu. Ilmu yang dengan susah payah bapak ibu guru dapatkan. Hasil kerja keras yang amat panjang dari kedua orang tua bapak ibu dan diri bapak ibu guru sendiri. Dan hari ini dengan harga murah telah diturunkan kepada kami. Tak ada harga yang pantas untuk sebuah ilmu, bagi mereka yang tahu. Bapak ibu guru menunjukkan kepada kami akhlak yang baik, jalan menempuh masa depan yang lebih baik. Bapak ibu guru bangga melihat kami berhasil, menjadi orang. Alangkah besar bagi bapak ibu arti kebanggaan itu, mengobati segala jerih bertahun-tahun mendidik kami. Kamilah yang berbahagia menikmati hasilnya. Tapi, kami tak menyadarinya. Buktinya, kami tetap keras kepala dan menuding dengan bermacam prasangka.

Maafkan kami semua. Kami anak-anakmu. Allah telah takdirkan, Allah telah tuliskan di Lauhmahfudz bahwa kami adalah anak-anakmu sampai kapanpun. Tetaplah mencintai kami. Tetaplah isi hari-hari ayah ibu, bapak ibu guru, dengan doa-doa kebaikan kepada kami. Doakan kami menjadi hamba Allah yang soleh, doakan kami menjadi anak yang berbakti.

Ya Allah, engkau tahu diri-diri kami,
Engkau tahu dosa-dosa dan kesalahan kami, sebanyak bintang-bintang di langit, sebanyak pasir di lautan.
Ampunilah diri-diri kami, Ya Allah. Sungguh Engkau Maha Pengampun, ya Gaffar!
Ampunilah dosa kedua orang tua kami. Jadikanlah setiap luka hati, tiap tetes keringatnya dalam mendidik dan membesarkan kami sebagai penghapus dosa-dosa mereka. Masukkan ayah dan ibu ke surga-Mu. Jangan pernah ya Allah, walau sejenak, api neraka menyentuh mereka.
Ya Allah, jadikan kami anak-anak yang soleh agar doa kami bisa menembus pembatas alam barzakh dan sampai kepada kedua orang tua kami yang berbaring di kuburnya. Ya Allah jadikan kami hamba-hamba-Mu yang soleh, agar esok di hari perhitungan kami bisa membela ayah dan ibu. Kami bisa mengatakan kepada-Mu besok di hari perhitungan, bahwa kedua orang tua kami pantas masuk surga karena telah mendidik kami untuk rukuk dan sujud kepada-Mu.
Ya Allah, lapangkan pembaringan ayah dan ibu di kuburnya. Luaskan kuburnya seluas mata memandang. Tampakkan kepada ayah dan ibu tempat beliau di surga kelak.

Ampuni dosa bapak ibu guru. Balaslah pengabdian mereka dengan balasan yang berlipat ganda. Lapangkan dadanya, luaskan rizkinya, bahagiakan keluarganya, dan catatlah tiap huruf yang  ia ajarkan  kepada kami sebagai pahala.

Ya Rahman, ya Rahim, Ya Malik, Ya Wahhab, Ya Ganiyy, kabulkan doa kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengabul doa.

Untukmu yang tak berhenti berduka
Untukmu yang berteman air mata
Untukmu yang berhati lara
Untukmu yang menengadah ke langit dengan doa
Untukmu yang jerih dan lelah dalam kerja tiada ujung
Untukmu yang dimakan usia, dengan mimpi dan harapan yang belum terkabulkan
Untukmu yang terus tengadah dan meminta kepada-Nya, untuk si buah hati agar berbahagia

Untukmu yang mata air kasih sayangnya melebihi jumlah air yang memenuhi segala lautan
Untukmu yang menampung duka, lalu menggantinya dengan senyuman
Untukmu yang berani memberi hidupnya untuk pengganti bagi diri-diri yang belum tentu berterima kasih
Untukmu yang semua pena akan kering untuk menuliskan jasa
Untukmu wahai ayah bunda

Untukmu, terimalah pelukan hangat kami di kakimu
untuk meminta kerelaan bagi tiap butir nasi yang kami telan
tiap tetes air yang kami minum
tiap usapan yang menghapus duka

Demi petir yang menggelegar membelah angkasa
Demi ombak yang berdebur menghempas pantai
Demi hari kiamat yang pasti kan tiba
Demi Pencipta Langit dan bumi
Jasa ayah dan ibu tak terbalaskan
Dengan apa pun, sampai kapan pun

Allah-lah yang bisa membalasnya
Dengan surga

Keindahan yang tak terbayangkan untuk jasa yang tak terucapkan