Tuesday, March 27, 2012

Paragraf Narasi

        Paragraf Narasi
Paragraf narasi merupakan salah satu jenis paragraf yang mengisahkan
suatu kejadian atau peristiwa berdasarkan urutan waktu. Paragraf narasi
terdiri atas narasi kejadian dan narasi runtut cerita.
1. Paragraf narasi kejadian adalah paragraf yang menceritakan suatu
kejadian atau peristiwa.
2. Paragraf narasi runtut cerita adalah pola pengembangan yang menceritakan
suatu urutan dari tindakan atau perbuatan dalam menciptakan
atau menghasilkan sesuatu.
Berdasarkan jenis cerita, narasi dibagi menjadi dua macam.
1. Narasi yang mengisahkan peristiwa yang benar-benar terjadi atau
cerita nonfiksi. Misalnya, cerita perjuangan pahlawan, riwayat atau
laporan perjalanan, biografi, dan autobiografi.
2. Narasi yang hanya mengisahkan suatu hasil rekaan, khayalan, atau
imajinasi pengarang. Jenis karangan ini dapat dilihat pada roman,
cerpen, hikayat, dongeng, dan novel. Jenis karangan narasi ini disebut
karangan narasi sugestif. Narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal
atau imajinasi karena sasaran yang ingin dicapai yaitu kesan terhadap
peristiwa.
Sumber: Komposisi, Gorys Keraf, 1984, Flores, Nusa Indah

Proses Morfologis dan Nonmorfologis


Proses Morfologis dan Nonmorfologis

Proses morfologis ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain
yang merupakan bentuk dasarnya. Bentuk dasar dapat berupa kata atau
frasa.
Pembentukan kata berdasarkan proses morfologis sebagai berikut.
1. Afiksasi adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan
imbuhan.
Contoh:
pukul 􀁯 di + pukul 􀁯 dipukul
makan 􀁯 makan + an 􀁯 makanan
hujan 􀁯 ke + an + hujan 􀁯 kehujanan
2. Reduplikasi atau proses pengulangan adalah proses pembentukan kata
dengan mengulang satuan bahasa baik secara keseluruhan maupun
sebagian.
Contoh:
rumah 􀁯 rumah-rumah
berjalan 􀁯 berjalan-jalan
pukul 􀁯 pukul-memukul
3. Komposisi atau pemajemukan (perpaduan) adalah penggabungan dua
kata atau lebih dalam membentuk kata.
Contoh:
kepala + batu 􀁯 kepala batu
mata + pelajaran 􀁯 mata pelajaran
Selain pembentukan kata secara morfologis, ada juga pembentukan
kata secara nonmorfologis. Pembentukan kata secara nonmorfologis dapat
berupa abreviasi ataupun perubahan bentuk kata.
1. Abreviasi
Abreviasi adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian
kata atau kombinasi kata sehingga jadilah bentuk baru. Kata lain
abreviasi ialah pemendekan. Hasil proses abreviasi disebut
kependekan. Bentuk kependekan dalam bahasa Indonesia muncul
karena terdesak oleh kebutuhan untuk berbahasa secara praktis dan
cepat. Kebutuhan ini paling terasa di bidang teknis, seperti cabangcabang
ilmu, kepanduan, dan angkatan bersenjata.
Jenis abreviasi sebagai berikut.
a. Singkatan yaitu salah satu hasil proses pemendekan yang berupa
huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf,
seperti:
FSUI (Fakultas Sastra Universitas Indonesia),
DKI (Daerah Khusus Ibukota, dan
KKN( Kuliah Kerja Nyata),
maupun yang tidak dieja huruf demi huruf, seperti:
dll. (dan lain-lain),
dgn. (dengan),
dst. (dan seterusnya).
b. Penggalan yaitu proses pemendekan yang menghilangkan salah
satu bagian dari kata seperti:
Prof. (Profesor)
Bu (Ibu)
Pak (Bapak)
c. Akronim, yaitu proses pemendekan yang menggabungkan huruf
atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai
sebuah kata yang memenuhi kaidah fonotaktik Indonesia, seperti:
FKIP /fkip/ dan bukan /ef/, /ka/, /i/, /pe/
ABRI /abri/ dan bukan /a/, /be/, /er/, /i/
AMPI /ampi/ dan bukan /a/, /em/ /pe, /i/
d. Kontraksi, yaitu proses pemendekan yang meringkaskan kata
dasar atau gabungan kata, seperti:
tak dari tidak
sendratari dari seni drama dan tari
berdikari dari berdiri di atas kaki sendiri
rudal dari peluru kendali
e. Lambang huruf, yaitu proses pemendekan yang menghasilkan
satu huruf atau lebih yang menggambarkan konsep dasar
kuantitas, satuan atau unsur, seperti:
g (gram)
cm (sentimeter)
Au (Aurum)
Sumber: Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, Harimurti
Kridalaksana, 1992, Gramedia Pustaka Utama
2. Perubahan Bentuk Kata
Proses pembentukan kata melalui perubahan bentuk kata dapat
disebut proses pembentukan kata secara nonmorfologis. Macammacam
perubahan bentuk kata sebagai berikut.
a. Asimilasi adalah gejala dua buah fonem yang tidak sama
dijadikan sama.
alsalam 􀁯 asalam
ad similatio 􀁯 asimilasi
b. Disimilasi adalah proses perubahan bentuk kata dari dua buah
fonem yang sama dijadikan tidak sama.
vanantara (Skt) 􀁯 belantara
citta (Skt) 􀁯 cipta
c. Diftongisasi adalah proses suatu monoftong yang berubah
menjadi diftong.
anggota 􀁯 anggauta
teladan 􀁯 tauladan
d. Monoftongisasi adalah proses suatu diftong yang berubah
menjadi monoftong.
pulau 􀁯 pulo
sungai 􀁯 sunge
danau 􀁯 dano
e. Haplologi adalah proses sebuah kata yang kehilangan suatu silaba
(suku kata) di tengah-tengahnya.
Samanantara (Skt: sama + an + antara) 􀁯 sementara
budhidaya 􀁯 budaya
mahardika (Skt: maha + ardhika) 􀁯 merdeka
f. Anaptiksis (= suara bakti) adalah proses penambahan bunyi
dalam suatu kata guna melancarkan ucapannya.
sloka 􀁯 seloka
glana 􀁯 gelana, gulana
g. Metatesis adalah proses perubahan bentuk kata dari dua fonem
dalam sebuah kata yang bertukar tempatnya.
padma 􀁯 padam (merah padam = merah seperti padma:
padma = lotus merah)
drohaka 􀁯 durhaka
prtyaya 􀁯 percaya
arca 􀁯 reca
banteras 􀁯 berantas
h. Aferesis adalah proses suatu kata kehilangan satu atau lebih
fonem pada awal katanya.
adhyasa 􀁯 jaksa
upawasa 􀁯 puasa
i. Sinkop adalah proses suatu kata kehilangan satu fonem atau lebih
di tengah-tengah kata tersebut.
domina 􀁯 dona
listuhaju 􀁯 lituhayu
j. Apokop adalah proses suatu kata kehilangan suatu fonem pada
akhir kata.
pelangit 􀁯 pelangi
possesiva 􀁯 posesif
k. Protesis adalah proses suatu kata mendapat tambahan satu fonem
pada awal kata.
lang 􀁯 elang mas 􀁯 emas
smara 􀁯 asmara stri 􀁯 istri
l. Epentesis (= mesogoge) adalah proses suatu kata mendapat
tambahan suatu fonem atau lebih di tengah-tengah kata.
akasa 􀁯 angkasa gopala (Skt) 􀁯 gembala
jaladhi 􀁯 jeladri racana (Skt) 􀁯 rencana
m. Paragog adalah proses penambahan fonem pada akhir kata:
hulubala 􀁯 hulubalang ana 􀁯 anak
ina 􀁯 inang kaka 􀁯 kakak
Sumber: Tatabahasa Indonesia, Gorys Keraf, 1970

Membedakan dan Melafalkan Fonem Bahasa Indonesia


Membedakan dan Melafalkan Fonem Bahasa Indonesia

Dua orang teman Anda akan membacakan dialog. Dengarkan
pengucapan vokal dan konsonan dalam dialog berikut!
Ari : ”Nur, jangan lupa esok kamu bawa spidol dan gunting, ya.”
Nuri : ”Buat apa, Ri?”
Ari : ”Esok kita buat majalah dinding.”
Nuri : ”O . . . iya, aku hampir lupa. Baiklah, aku bawa alat-alat itu.”
Apa perbedaan pengucapan vokal dan konsonan dalam dialog tersebut?

Perbedaan Vokal dan Konsonan
Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas vokal, konsonan, dan semivokal.
Perbedaan antara vokal dan konsonan didasarkan pada ada atau
tidaknya hambatan (proses artikulasi) pada alat bicara. Agar lebih jelas,
Anda dapat melihat tabel berikut.


Vokal
– Bunyi yang tidak disertai
hambatan pada alat bicara.
Hambatan hanya terdapat
pada pita suara.
– Tidak terdapat artikulasi.
– Semua vokal dihasilkan
dengan bergetarnya pita
suara. Dengan demikian,
semua vokal adalah bunyi
suara.

Konsonan
– Bunyi yang dibentuk dengan
menghambat arus udara pada
sebagian alat bicara.
– Terdapat artikulasi.
– Konsonan bersuara adalah
konsonan yang dihasilkan
dengan bergetarnya pita
suara. Konsonan tidak bersuara
adalah konsonan yang
dihasilkan tanpa bergetarnya
pita suara.


Vokal
Bunyi vokal dibedakan berdasarkan posisi tinggi rendahnya lidah,
bagian lidah yang bergerak, struktur, dan bentuk bibir. Dengan demikian,
bunyi vokal tidak dibedakan berdasarkan posisi artikulatornya karena
pada bunyi vokal tidak terdapat artikulasi. Artikulator adalah bagian alat
ucap yang dapat bergerak. Klasifikasi vokal sebagai berikut.
1.    Vokal berdasarkan tinggi rendahnya posisi lidah.

3. Vokal berdasarkan posisi strukturnya
Struktur adalah keadaan hubungan posisional artikulator aktif dan
artikulator pasif. Artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak
menuju alat ucap yang lain saat membentuk bunyi bahasa. Artikulator
pasif adalah alat ucap yang dituju oleh artikulator aktif saat membentuk
bunyi bahasa.
Dalam bunyi vokal tidak terdapat artikulasi, maka struktur untuk
vokal ditentukan oleh jarak lidah dengan langit-langit. Menurut
strukturnya, vokal dapat dibedakan seperti uraian berikut.
a. Vokal tertutup (close vowels) yaitu vokal yang dibentuk dengan
lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit. Vokal
tertutup antara lain [ i ], [ u ].
b. Vokal semitertutup (half-close) yaitu vokal yang dibentuk dengan
lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga di bawah tertutup atau
dua per tiga di atas vokal terbuka. Vokal semitertutup antara lain
[ e ], [ o ], [ I ], [ U ].
c. Vokal semiterbuka (half-open) yaitu vokal yang dibentuk dengan
lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga di atas terbuka atau
dua per tiga di bawah vokal tertutup. Vokal semiterbuka antara
lain [ a ], [ 􀁈 ], [ c ].

d. Vokal terbuka (open vowels) yaitu vokal yang dibentuk dengan
lidah dalam posisi serendah mungkin. Vokal terbuka adalah [ a ].
4. Vokal berdasarkan bentuk bibir saat vokal diucapkan.


Bunyi vokal dapat diucapkan dengan memanjangkan atau
memendekkan vokal tersebut. Pemanjangan dan pemendekan pengucapan
vokal dapat mengubah maksud pembicaraan. Pemanjangan vokal diberi
tanda [ . . . ] di atas bunyi yang dipanjangkan atau tanda [ . . . : ] di samping
kanan bunyi yang dipanjangkan.
Contoh:
Frasa tatap muka [ t a t a p ] [ m u k a ] bila vokal [ u ] dilafalkan pendek
maka akan bermakna bertemu . Namun, jika vokal [ u ] dilafalkan
memanjang [ t a t a p ] [ m u : ] [ k a ] maka akan menimbulkan makna
menatapmu dan bunyi [ k a ] seakan-akan menghilang.
Dalam kehidupan sehari-hari pemanjangan dan pemendekan vokal
jarang ditemui. Pemanjangan dan pemendekan vokal biasa ditemui dalam
dunia hiburan, seperti pada dagelan atau acara humor dan komedi.
Konsonan
Konsonan dibedakan menurut:
1. cara hambat (cara artikulasi) atau cara pengucapannya;
2. tempat hambat (tempat artikulasi);
3. hubungan posisional antara penghambat-penghambat atau hubungan
antara artikulator pasif; dan
4. bergetar tidaknya pita suara.
Klasifikasi konsonan berdasarkan cara pengucapan atau cara artikulasi
seperti uraian berikut.

1. Konsonan Hambat Letup (Stops, Plosives)
Konsonan hambat letup ialah konsonan yang terjadi dengan
hambatan penuh arus udara. Kemudian, hambatan itu dilepaskan
secara tiba-tiba. Berdasarkan tempat artikulasi, konsonan hambat letup
dibedakan seperti berikut.
a. Konsonan hambat letup bilabial. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya bibir atas.
Bunyi yang dihasilkan [ p, b ].
b. Konsonan hambat letup apiko-dental. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya ujung lidah dan artikulator pasifnya gigi atas.
Bunyi yang dihasilkan [ t, d ].
c. Konsonan hambat letup apiko-palatal. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya ujung lidah dan artikulator pasifnya langitlangit
keras (langit-langit atas). Bunyi yang dihasilkan [ t , d ]. [ t ]
ditulis th sedangkan [ d ] ditulis dh.
d. Konsonan hambat letup medio-palatal. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya langitlangit
keras. Bunyi yang dihasilkan [ c, j ].
e. Konsonan hambat letup dorso-velar. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langitlangit
lunak (langit-langit bawah). Bunyi yang dihasilkan
[ k, g ].
f. Konsonan hamzah. Konsonan ini terjadi dengan menekan rapat
yang satu terhadap yang lain pada seluruh pita suara, langit-langit
lunak beserta anak tekak di tekan ke atas sehingga arus udara
terhambat beberapa saat. Bunyi yang dihasilkan [ ? ].

2. Konsonan Nasal (Sengau)
Konsonan nasal (sengau) ialah konsonan yang dibentuk dengan
menghambat rapat (menutup) jalan udara dari paru-paru melalui rongga
hidung. Bersama dengan itu langit-langit lunak beserta anak tekaknya
diturunkan sehingga udara keluar melalui rongga hidung. Berdasarkan
tempat artikulasinya, konsonan nasal dibedakan sebagai berikut.
a. Konsonan nasal bilabial. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya bibir atas. Nasal
yang dihasilkan [ m ].
b. Konsonan nasal medio-palatal. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras.
Nasal yang dihasilkan ialah [ ñ ].
c. Konsonan nasal apiko-alveolar. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya ujung lidah dan artikulator pasifnya gusi. Nasal yang
dihasilkan ialah [ n ].
d. Konsonan nasal dorso-velar. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak.
Nasal yang diberikan [ h ].

3. Konsonan Paduan ( i tes)
Konsonan paduan adalah konsonan hambat jenis khusus. Tempat
artikulasinya ialah ujung lidah dan gusi belakang. Bunyi yang dihasilkan
[ts , d5]. Bunyi [ ts ] ditulis ch sedangkan bunyi [d5] ditulis dg.
4. Konsonan Sampingan ( te ls)
Konsonan sampingan dibentuk dengan menutup arus udara di
tengah rongga mulut sehingga udara keluar melalui kedua samping
atau sebuah samping saja. Tempat artikulasinya ujung lidah dengan
gusi. Bunyi yang dihasilkan [ I ].
5. Konsonan Geseran atau Frikatif
Konsonan geseran atau frikatif adalah konsonan yang dibentuk
dengan menyempitkan jalan arus udara yang diembuskan dari paruparu,
sehingga jalan udara terhalang dan keluar dengan bergeser.
Menurut artikulasinya, konsonan geseran dibedakan sebagai berikut.
a. Konsonan geseran labio-dental. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya gigi atas. Bunyi yang
dihasilkan [ f , v ].
b. Konsonan geseran lamino-alveolar. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya daun lidah (lidah bagian samping) dan ujung
lidah sedangkan artikulator pasifnya gusi. Bunyi yang dihasilkan
[ s , z ].
c. Konsonan geseran dorso-velar. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak.
Bunyi yang dihasilkan [ x ].
d. Konsonan geseran laringal. Konsonan ini terjadi jika artikulatornya
sepasang pita suara dan glotis dalam keadaan terbuka. Bunyi yang
dihasilkan [ h ].
6. Konsonan Getar ( ills, i ts)
Konsonan getar ialah konsonan yang dibentuk dengan
menghambat jalan arus udara yang diembuskan dari paru-paru secara
berulang-ulang dan cepat. Menurut tempat artikulasinya konsonan
getar dinamai konsonan getar apiko-alveolar. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktif yang menyebabkan proses menggetar adalah ujung
lidah dan artikulator pasifnya gusi. Bunyi yang dihasilkan [ r ].
7. Semivokal
Bunyi semivokal termasuk konsonan. Hubungan antarpenghambat
dalam mengucapkan semivokal adalah renggang terbentang
atau renggang lebar. Berdasarkan hambatannya, ada dua jenis
semivokal sebagai berikut.
a. Semivokal bilabial, semivokal ini terjadi jika artikulator aktifnya
bibir bawah dan artikulator pasif adalah bibir atas. Bunyi yang
dihasilkan adalah bunyi [ w ].
b. Semivokal medio-palatal, semivokal ini terjadi jika artikulator
aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras.
Bunyi yang dihasilkan [ y ].
Sumber: Fonetik, Marsono, 1984, Gadjah Mada University Press