Minggu, 23 Oktober 2011

Unsur Intrinsik Cerpen/Novel


I.         Sudut Pandang Cerita
Sudut pandang adalah posisi penulis dalam cerita. Hanya ada dua sudut pandang, yaitu:
1.       Sudut pandang orang pertama
Artinya penulis terlibat dalam cerita, ditandai dengan adanya seorang tokoh yang bernama “Aku”.
Terbagi dua:
a.       Orang pertama pelaku utama
Penulis, si ”Aku”, adalah tokoh utama dalam cerita. Cerita tersebut adalah peristiwa yang menimpa penulis.
b.       Orang pertama pelaku sampingan
Penulis, si “Aku”, bukan tokoh utama, tapi tokoh sampingan dalam cerita. Cerita tersebut adalah pengalaman teman, sahabat, saudara, dll. dari penulis yang penulis si Akuikut terlibat dalam peristiwa cerita.
2.       Sudut pandang orang ketiga
Artinya penulis berada di luar cerita; tidak ada tokoh yang bernama “Aku”.
Terbagi dua:
a.       Orang ketiga terarah
Penulis fokus pada menggali isi pikiran dan perasaan dari tokoh utama. Tokoh-tokoh lain tampak diabaikan, tidak terlalu diungkap pikiran dan perasaannya.
b.       Orang ketiga serbatahu
Penulis serbatahu apa yang dipikirkan dan dirasakan seluruh—sebagian besar—dari tokoh-tokoh dalam cerita. Sebagian besar tokoh cerita ia ungkap pikiran dan perasaannya.
Contoh-Contoh
1.     Sudut pandang orang pertama
a.                  Orang pertama pelaku utama
”Anjing! Angkat tu! Bermenung saja kerjamu!”
Pendek, kecil, hitam. Umur sudah menjelang tua. Ketuaan umur makin mematangkan kebusukan lidahnya. Kata kasar dan carut tiap sebentar keluar dari mulutnya. Itulah bosku. Pemborong kami menyebutnya. Ia yang memimpin proyek renovasi rumah mewah, bertingkat, dan amat luas ini.
Aku  bukan anjing. Aku tahu pasti. Tapi, aku mulai biasa dengan kata itu. Aku jadi sering memikirkan persamaan.
Mati anjing. Begitu orang kampungku mengumpat dan mengutuk orang yang dibencinya. Banyak anjing mati tergeletak di mana-mana. Orang tidak mau tahu. Malah jijik. Muntah.
Anjing dilahirkan untuk dikutuk.
Orang kampungku akan heran dengan anjing Tuan Besar yang rumahnya sedang aku renovasi. Anjing Tuan ini lebih gagah daripada semua orang kampungku. Bulunya berkilau, berjumbai indah. Badannya besar, tegap, tinggi perkasa. Makannya, seporsi makanan anjing ini setara dengan sebulan makan orang kampungku. Kalau orang kampungku kenal dengan anjing Tuan ini, mereka tidak akan pernah mengutuk anjing lagi. Mungkin.
Orang kampungku, termasuk keluargaku, turun-temurun jadi kuli.  Itulah kepandaian kami. Kasar, panas, dan carut-marut dunia kami.
*
”Sudahlah, Di. Sekolah saja dulu. Biar Mak yang cari uang.”
Mak memandangku dengan mata penuh kasihan dan sayang. Aku lebih kasihan lagi pada Mak. Membesarkan lima orang anak sendirian bukan pekerjaan mudah. Aku ingin membantu meringankan beban Mak. Separuh hari sekolah, separuh hari berkuli. Kalau libur, sepanjang hari aku berkuli.
Aku ingin membahagiakan Mak. Itu citaku.
”Biarlah Adi belajar tentang pahitnya hidup, Mak. Mungkin berguna nanti.”
”Tapi Mak  kasihan. Pulang kerja kamu terkapar keletihan. Lagian, nanti belajarmu terganggu.”
”Percayalah pada Adi, Mak. Adi tidak akan mengecewakan Mak. Insyaallah.”
Mak diam. Itu kalimat pamungkasku. Suara hatiku yang paling dalam. Mak selalu terdiam kalau mendengar kalimat itu.
                                                                  Anjing” karya Abu Syuhada

a.      

          Orang pertama pelaku sampingan
       Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka  memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek,
       "Pisau siapa, Kek?"
      "Ajo Sidi."
       "Ajo Sidi?"
      Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.
       Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu.
Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"
                                                Robohnya Surau Kami, A.A Navis



1.     Orang Ketiga
      Orang ketiga terarah


       Si Dali bukan orang biasa. Sudah jadi tokoh. Bahkan tokoh luar biasa. Hidupnya selalu dalam cahaya yang bersinar terang.  Gemerlap dengan warna-warni yang aduhai indahnya. Lebih dari pelakon utama di atas panggung sandiwara.  Karena pelakon Julius Casar, atau King Lear, atau Macbeth hanya gemerlap pada sebatas bidang panggung. Apalagi bila layar panggung telah turun atau di luar gedung sandiwara para pelakon kembali jadi manusia biasa. Adakalanya mereka menjadi seperti orang kere yang selesai melakonkan Gatotkaca pada wayang wong masa lalu. Sedangkan Si Dali berada seperti pada panggung dunia yang tak lagi dibatasi oleh sepadan negara. Kata orang, Si Dali jadi begitu karena dia tidak pernah hidup dalam kegelapan. Kegelapan malam maupun kegelapan siang. Artinya dia hidup selalu dalam terang benderang, penuh cahaya.
       Makanya Si Dali terus diiringi bayang-bayang. Bayang- bayang yang banyak. Ada yang pendek ada yang panjang, ada yang gemuk ada yang kurus. Tentu saja ke mana pun dia pergi selalu diiringi bayang-bayang. Karena memang bayang-bayang itu bayang-bayangnya sendiri. Sebagai bayang-bayang, bayang-bayang itu senantiasa meniru apa saja yang dilakukan Si Dali. Baik Si Dali makan, tidur, atau jalan-jalan. Tak sekalipun bayang-bayang itu terpisah dari dia. Dan Si Dali yakin benar, bayang-bayang itu ada karena dia.
       Tanpa dia, bayang-bayang itu semua sirna. Karena itu semua bayang-bayang memerlukannya. Sangat memerlukannya.Berbeda dengan orang lain, yang tidak pernah peduli dengan bayang- bayangnya sendiri. Karena mereka suka hidup bergelap-gelap di tempat gelap. Seolah-olah bayang-bayang tidak menjadi makhluk penting.
       "Bayangkan", kata Si Dali pada bayang- bayangnya sendiri ketika dia lagi nongkrong di closet. "Jenis manusia apa yang hidup tanpa bayang-bayang, selain manusia gelap yang suka bergelap-gelap?"
         Si Dali juga membiarkan bayang-bayang menirukan dengan amat persis apa saja yang dilakukan Si Dali. Apa salahnya bilamana semua bayang-bayang itu meniru apa yang dilakukannya. Karena peniruan tidak merugikannya.  Bagaimana pun persisnya peniruan itu, satu hal yang tidak akan diperoleh bayang-bayang, yaitu serba kenikmatan yang diregup Si Dali. "Tirulah oleh kalian serba apa yang aku lakukan, tapi jangan coba-coba berkhayal akan ikut menikmati apa yang aku regup. Karena serba kenikmatan bukan hak kalian. Itulah adalah aksioma."
                                                                                                                                Bayang-Bayang, A.A. Navis
Orang ketiga serbatahu
       Bangkuro terdiam di kursinya. Tampak wajahnya mengerut karena berpikir keras. Ia memahami apa yang disampaikan Yuri. Ia malah bangga dengan Yuri, seorang pemudi Andalo yang luhur dan pemberani. Hatinya jadi teriris karena ingat akan putri semata wayangnya, Mutiara,  yang mati di medan perang kemarin.
       ”Pulanglah, anakku!” kata Bangkuro.
       Yuri menghormat lalu pergi.
       ”Bicaralah, Paman Dato,” kata Bangkuro kepada Penasihatnya yang bijak bestari.
       ”Baik, Handa,” kata Dato.
       Dato diam. Ia pun merasa berat akan apa yang akan ia sampaikan. Akankah menuruti suara hati nurani atau menuruti kemauan rakyatnya. Ia telah tua. Umurnya telah mencapai delapan puluh tahun. Telah banyak asam garam hidup ini yang telah dirasanya. Ia telah merenungi hidup ini sepanjang ia mulai berpikir. Apa, ke mana, dan untuk apa hidup manusia di muka bumi ini?
                                                                                                                                Jurang Perdamaian, Abu Syuhada



I.              Pendeskripsian Watak
Teknik pendeskripsian watak tokoh cerita ada dua, yaitu:
1.     penggambaran langsung
Maksudnya, penulis langsung menyatakan watak tokoh; pembaca tidak perlu lagi menafsirkan.  Contoh,
Bangkuro lelaki yang tampan. Jejak ketampanannya tampak jelas menutupi garis-garis ketuaannya. Ia sangat disayangi rakyatnya. Di balik kekerasan watak dan pembawaannya tersimpan hati yang sangat penyayang. Hutan di mana mereka bermukim sangat dijaga oleh Bangkuro dengan berbagai peraturan. Tidak ada yang boleh dirusak dan diganggu jika tidak dibutuhkan. Hewan buruan ditangkap sekedar untuk dimakan, bukan untuk kesenangan. Ia pun menggalakkan bercocok tanam kepada rakyatnya. Bukan hanya menggantungkan hidup kepada alam seperti yang selama ini mereka lakukan.
Jurang Perdamaian, Abu Syuhada
1.     Penggambaran tidak langsung
      Maksudnya, pembaca menafsirkan sendiri watak tokoh. Watak tokoh ditafsirkan berdasarkan:
a.     fisik tokoh, artinya berdasarkan kondisi fisik yang digambarkan penulis dalam cerita, pembaca bisa menduga watak dari tokoh tersebut.
Contoh,
Seorang dari anak muda ini, ialah anak laki-laki, yang umurnya kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan celana pendek hitam, yang berkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu hitam tinggi, yang disambung ke atas dengan kaus sutera hitam pula dan diikatkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya.
Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai bangsa Belanda. Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi dan dengan tangan kanannya dipegangnya sebuah belebas, yang dipukul-pukulkannya ke betisnya. Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disangka, anak muda ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang dari sekolah. Tetapi jika dilihat dari dekat, nyatalah ia bukan bangsa Eropa;
karena kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan matanya hitam sebagai dawat. Di bawah dahinya yang lebar dan tinggi, nyata kelihatan alis matanya yang tebal dan hitam pula.
                                                                                                                  Siti Nurbaya, Marah Rusl

a.     ucapan tokoh, maksudnya apa yang diucapkan tokoh menggambarkan wataknya.
Contoh,
"Ah, tetapi pada sangkaku, walaupun engkau tiada menjadi Penghulu sekalipun, engkau akan lupa juga kepada kami dan rumah ini," kata putri Rubiah pula. "Semenjak engkau telah kawin dan beranak, tiadalah lain yang kaupikirkan anak dan istrimu, serta rumah tanggamu saja."
"Jika tiada begitu, bagaimana pula? Kalau tiada hamba yang harus memelihara anak istri hamba, siapa lagi," tanya Sutan Mahmud dengan tercengang.
"Lihatlah! Memang benar sangkaku, pikiranmu telah berubah daripada yang diadatkan di Padang ini. Istrimu sudahlah, sebab ia tinggal di rumahmu, tetapi anakmu? Bukanlah ada mamandanya, saudara istrimu? Bukankah anakmu itu kemenakannya? Bukankah dia yang harus memelihara anakmu,  menurut adat kita?" mendakwa putri Rubiah, "Atau telah lupa pula engkau adat nenek moyang kita itu?"
"Benar, tetapi si Marhum tak berapa pendapatannya dan banyak pula tanggungannya yang lain; jadi malu hamba, kalau si Samsu hamba serahkan ke tangannya," jawab Sutan Mahmud.
"Ya, tetapi apabila kemenakanmu yang menjadi tanggunganmu sendiri tersia-sia, tiada engkau malu," kata  putri Rubiah pula.
"Tersia-sia bagaimana?" tanya Sutan Mahmud.
"Tidakkah tersia-sia namanya itu? Tidak dilihat-lihat dan tidak diindahkan. Entah berbaju entah tidak, entah kelaparan entah kesusahan, entah sakit entah mati. Anakmu kaumasukkan ke sekolah Belanda, kauturut segala kehendaknya, makan tak kurang, pakaian cukup. Jika hendak pergi, bendimu telah tersedia akan membawanya, dan tiada lama lagi akan engkau kirim pula ia ke Jakarta, meneruskan pelajarannya. Dari situ barangkali ke negeri Belanda pula karena kepandaian di sana, belumlah memadai baginya. Kalau ada sekolah untuk menjadi raja, tentulah  ke sana pula kauserahkan anakmu itu, sebab ia tak boleh menjadi orang sebarang saja, melainkan harus menjadi orang yang berpangkat tinggi. Bukankah sekalian itu memakan biaya? Untuk anakmu selalu ada uangmu, untuk anakku selamanya tak ada."  

a.     pikiran tokoh, maksudnya apa yang dipikirkan tokoh, itu menggambarkan wataknya.
Contoh,
       Ia terkadang menyalahkan dirinya sendiri kenapa tidak menikah sejak masih duduk di S.l dahulu? Kenapa tidak berani menikah ketika si Gugun yang mati-matian mencintainya sejak duduk di bangku kuliah itu mengajaknya menikah? Ia dulu memandang remeh Gugun. Ia menganggap Gugun itu tidak cerdas dan tipe lelaki kerdil. Sekarang si Gugun itu sudah sukses jadi pengusaha cor logam dan baja di Klaten. Karyawannya banyak dan anaknya sudah tiga. Gugun sekarang juga punya usaha Travel Umroh di Jakarta. Setiap kali bertemu, nyaris ia tidak berani mengangkat muka. Kenapa juga ketika selesai S.l ia tidak langsung menikah? Kenapa ia lebih tertantang masuk S.2 di ITB Bandung? Padahal saat itu, temannya satu angkatan si Yuyun menawarkan kakaknya yang sudah buka kios pakaian dalam di Pasar Bringharjo Jogja. Saat itu kenapa ia begitu tinggi hati. Ia masih memandang rendah pekerjaan jualan pakaian dalam. Sekarang kakaknya Yuyun sudah punya toko pakaian dan sepatu yang lumayan besar di Jogja. Akhirnya ia menikah dengan seorang santriwati dari Pesantren Al Munawwir, Krapyak.
Takbir Cinta Zahrana, Habiburrahman El-Shirazy
a.     ucapan tokoh lain, maksudnya apa yang diucapkan orang lain terhadap tokoh menggambarkan watak tokoh tersebut. Contoh,
        ”Bagaimana jiwa Nurul bisa terancam Ustadz? Apa yang terjadi padanya, dan apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya?”
       Kau tahu Nurul adalah puteri tunggal Bapak K.H. Ja’far Abdur Razaq, pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Selain cantik, dia juga cerdas dan halus budi. Sejak masih kelas satu aliyah sudah banyak kiai besar yang melamar Nurul untuk puteranya. Nurul tidak mau. Ketika akhirnya Nurul belajar di Al Azhar, pinangan itu justru semakin banyak. Kiai Ja’far, ayah Nurul, berkali-kali menelpon Nurul agar segera menentukan pilihan pendamping hidupnya. Beliau merasa sangat tidak enak menolak pinangan terus-menerus.  ……….
                                                                                                                                   Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El-Shirazy


a.     perbuatan tokoh, maksudnya perbuatan menggambarkan watak. Contoh,
              Pintu metro terbuka. Beberapa orang turun. Dua kursi kosong. Kalau mau, aku bisa mengajak Ashraf mendudukinya. Namun ada seorang bapak setengah baya masih berdiri. Dia memandang ke luar jendela, tidak melihat ada dua bangku kosong. Kupersilakan dia duduk. Dia mengucapkan terima kasih. Kursi masih kosong satu. Sangat dekat denganku. Kupersilakan Ashraf duduk. Dia tidak mau, malah memaksaku duduk. Tiba-tiba mataku menangkap seorang perempuan berabaya biru tua, dengan jilbab dan cadar biru muda naik dari pintu yang satu, bukan dari pintu dekat yang ada di dekatku. Kuurungkan niat untuk duduk. Masih ada yang lebih berhak. Perempuan bercadar itu kupanggil dengan lambaian tangan. Ia paham maksudku. Ia mendekat dan duduk dengan mengucapkan, “Syukran!
                                                                                                Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El-Shirazy
 
a.     lingkungan, maksudnya lingkungan tempat tinggal tokoh bisa menggambarkan watak tokoh.
Contoh,

       Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen1 aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir.
       Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yang teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk talaqqi qiraah sab’ah. Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab’ah terlebih dahulu akan beliau uji hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena, di samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Qur’an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir. Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia.
                                                                                               Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El-Shirazy

I.         Nilai-Nilai

          Nilai-nilai  yaitu norma, tradisi, aturan, dan kepercayaan yang dianut/dilakukan pada suatu masyarakat.

1.       Nilai Sosial
       Nilai-nilai yang terkait dengan norma/aturan dalam kehidupan bermasyarakat dan berhubungan  dengan orang lain. Contoh : saling memberi, tenggang rasa, saling menghormati pendapat.

       Melihat kebiasaannya demikian dan sifatnya yang soleh itu, saya menaruh hormat yang besar atas dirinya dan saya ingin hendak berkenalan. Maka dalam dua hari sahaja berhasillah maksud saya itu; saya telah beroleh seorang sahabat yang mulia patut dicontohi. Hidupnya sangat sederhana, tiada lalai daripada beribadat, tiada suka membuang-buang waktu kepada yang tidak berfaedah, lagi pula sangat suka memerhatikan buku-buku agama, terutama kitab-kitab yang menerangkan kehidupan orang-orang yang suci, ahli-ahli tasauf yang tinggi.
Di bawah lindungan Kakbah, Buya Hamka

1.       Nilai Moral
Nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti (baik dan buruk).
Misalnya : berbakti kepada orang tua, jujur, sabar.
       Pada waktu malam, ketika akan tidur, kerap kali ibu menceritakan kebaikan ayah semasa ia hidup; ia seorang terpandang dalam pergaulan dan amat besar cita-citanya jika saya besar, akan menyerahkan saya masuk sekolah supaya saya menjadi orang yang terpelajar. Masa itu daun sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat, orang pun datanglah berduyun-duyun menghampirkan diri, ini menghampirkan diri, ini mengatakan mamak, itu mendakwa  bersaudara, berkarib famili, rumah-tangga sentiasa dapat kunjungan dari kiri dan kanan. Tetapi setelah perniagaan jatuh dan kemelaratan menjadi ganti segala kesenangan itu, tersisihlah kedua laki-isteri itu dari pergaulan, tersisih dan renggang dari sedikit ke sedikit. Oleh kerana malu ayah pindah ke Kota Padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu, supaya namanya hilang sama sekali dari kalangan kaum kerabat itu.
Di bawah lindungan Kakbah, Buya Hamka

 
1.       Nilai Budaya/Tradisi
       Nilai-nilai yang terkait dengan kebiasaan/ tradisi yang berlaku dalam masyarakat.
Contoh : adat istiadat : perkawinan, kematian; cara berpakaian,  kesenian, upacara adat.
       Sungguh aku bersyukur. Sebagai dukun yang semula paling-paling hanya nyapih dan nyuwuk anak kecil monthah, rewel dan nangis terus, atau mengobati orang disengat kalajengking, kini—sejak seorang sahabatku membawa pembesar dari Jakarta ke rumah—martabatku meningkat.
       Aku kini dikenal sebagai "orang pintar" dan dipanggil Mbah atau Eyang. Aku tak lagi dukun lokal biasa. Pasienku yang semakin hari semakin banyak sekarang datang dari mana-mana. Bahkan beberapa pejabat tinggi dan artis sudah pernah datang. Tujuan para pasien yang minta tolong juga semakin beragam; mulai dari mencarikan jodoh, "memagari" sawah, mengatasi kerewelan istri, hingga menyelamatkan jabatan. Waktu pemilu kemarin banyak caleg yang datang dengan tujuan agar jadi.
                                                                                                       Konvensi, mustofa bisri

1.       Nilai Religi/Agama
       Nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan beragama.
Contoh : cara beribadah kepada Tuhan, sistem kepercayaan/agama

       Karman tertunduk; Tuhan. Yang dimaksud oleh Kapten Somad pastilah kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan. Ah, ya. Selama menjadi pengikut partai, Karman memang didorong untuk membuang jauh semua kepercayaan atas segala sesuatu yang tidak membenda. Ajaran partainya mengatakan, apa yang tidak membenda sama dengan omong kosong. Tuhan pun hanya ada bagi mereka yang menganggapnya ada. Dan ajaran partainya juga mengatakan kalaulah ada sesuatu yang boleh disebut tuhan, maka dia adalah partai itu sendiri. Dan revolusi!
       Karman tetap tertunduk. Ada kejujuran yang lambat-laun mengembang dalam dirinya. Ia ingin mengaku dengan tulus, meskipun ia lama menjadi anggota partai komunis, bahwa kehadiran Tuhan tetap terasa pada dirinya. Karman tak pernah berhasil memaksa dirinya percaya bahwa Tuhan sama dengan omong kosong. Dan bahwa pada kenyataannya, walaupun ia lama bergabung dengan partai komunis, Karman sebenarnya ingin dipahami melalui jalur yang lain.
Kubah, Ahmad Tohari







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar