Thursday, August 23, 2018

Dendy Sugono, Ahli Bahasa Indonesia

     Dendy Sugono lahir tahun 1949 di Banyuwangi, memeroleh gelar Sarjana PendidikanJurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Malang tahun 1974 dan meraih gelar doktor bidang linguistik di Universitas Indonesia tahun 1991 dengan disertasi Pelesapan Subjek dalam Bahasa Indonesia
 
     Sejak tahun 1976 dia bekerja di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Dia pernah mengikuti post graduate training programme for general and Austronesian linguistics di Universitas Leiden, Negeri Belanda tahun 1981–1982. Dia juga pernah belajar di Johann Wolfgang Goethe Universitas, Frankfurt Am Main, Jerman, dalam rangka penulisan disertasi tahun 1986 dan 1987.
Dia pernah menjadi guru SMA dan STM di Malang tahun 1973–1975, dosen bahasa Indonesia di Universitas Jayabaya tahun 1983–1986, dan hingga kini dosen di Sekolah Tinggi llmu Ekonomi Perbanas Jakarta sejak tahun 1983 dan Universitas Pancasila sejak tahun 1984, serta dosen pascasarjana di IKIP Jakarta sejak 1997.
 
     Dalam bidang pembinaan bahasa, dia anggota tim pengasuh siaran pembinaan bahasa Indonesia melalui RRI tahun 1983-1986 dan TVRI tahun 1986-sekarang. Dia juga Sekretaris Umum Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) sejak tahun 1991. Dia aktif mengikuti pertemuan ilmiah kebahasaan seperti seminar, konferensi, atau kongres. Dia anggota redaksi majalah Bahasa danSastra serta majalah Kebudayaan.
.
Buku yang ditulis, antara lain:
Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah (bersama Panuti Sudjiman), 
Verba Transitif Dialek Asing: Analisis Tagmemik
Klausa Tan subjek dalam Ragam Bahasa Jurnalistik
Verba dan Komplementasinya (bersama Titik Indriastini)    
Buku paket pelajaran bahasa Indonesia sekolah dasar kurikulum 1994:
Lancar Berbahasa Indonesia 1, Lancar Berbahasa Indonesia 2 , dan
Lancar Berbahasa Indonesia 4
Pelesapan Subjek dalam Bahasa Indonesia.
 
 

Hasan Alwi, Ahli Bahasa Indonesia

      Hasan Alwi dilahirkan di Talaga, Cirebon, Jawa Barat, pada 14 Juli 1940. Ia menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat tahun1952, SMP Negeri tahun 1955, dan SGB tahun 1956, semuanya di Majalengka. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di SMA Taman Siswa, Bogor, tahun 1962. Pada 1971, ia menyelesaikan pendidikanb sarjana S-l Jurusan Bahasa Prancis, IKIP Jakarta (sekarang UNJ).
Gelar akademiknya tertinggi diperoleh pada 1990 dalam Program
Doktor Bidang Linguistik, Universitas Indonesia. 
 
Karya tulis yang sudah diterbitkan antara lain:

Modalitas dalam Bahasa Indonesia.Yogyakarta: Kanisius. 1992.
 
"Bahasa Menunjukkan Bangsa". dalam Katharina Endriati Sukomto (Ed):201-216. 
 
Menabur Benih Menuai Kasih. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2004 Pertama (1991).

Menulis Surat Lamaran Pekerjaan


Dalam surat lamaran pekerjaan, terdapat unsur-unsur sebagai
berikut:
1. tanggal surat,
2. salam pembuka,
3. pembuka surat,
4. isi,
5. lampiran/syarat lamaran, dan
6. penutup surat.



Perhatikan penyusunan surat lamaran pekerjaan berdasarkan
iklan berikut ini.

Saat menulis surat lamaran, Anda harus memerhatikan penggunaan
bahasa, seperti struktur, diksi (pemilihan kata), kejelasan kalimat, kaitan
antarkalimat, dan ejaan.
Perhatikan contoh berikut.
 Sumber:  Kreatif Berbahasa Indonesia, Yudi Irawan
 
 

Arti Bahasa


Bahasa dapat ditinjau dari tujuh aspek, yaitu:
1. Bahasa merupakan sebuah sistem, artinya bahasa susunan
kata-kata yang teratur dan jika kehilangan salah satu unsur
akan merubah atau merancukan sebuah arti dalam kalimat.

2. Bahasa merupakan sistem tanda, artinya sudah ada kesepakatan
atau konvensi bahwa sebuah bahasa dapat mewakili suatu hal
atau peristiwa yang dipahami bersama dalam satu.
contoh: 
Kursi adalah sarana tempat duduk bagi manusia.
Kuda adalah salah satu binatang mamalia yang
berkaki empat dan bisa digunakan sebagai alat
teransportasi.

3. Bahasa merupakan sistem bunyi karena dasar dari bahasa
adalah bunyi dan tulisan merupakan aspek atau alternatif
kedua yang tidak kalah pentingnya.

4. Bahasa merupakan konvensi atau kesepakatan dari pengguna
suatu bahasa.

5. Bahasa itu produktif, artinya bahasa intensitas penggunanya
sangat tinggi dan vital.

6. Bahasa itu unik setiap bahasa mempunyi sistem yang berbeda
dan beragam penamaan dan penggunaannya.

7. Bahasa merupakan identitas suatu kelompok sosial yang
menggambarkan ciri budaya.

Sumber : Kreatif Berbahasa Indonesia, Yudi Irawan

Sunday, August 19, 2018

Kalimat Efektif : Penekanan

Penekanan dalam Kalimat

     Kata yang dipentingkan harus mendapat tekanan atau harus lebih ditonjolkan daripada unsur-unsur yang lain.  Cara yang dapat dilakukan dalam memberi penekanan dalam kalimat  a.l.:

1. Mengubah-ubah posisi dalam kalimat
       Sebagai prinsip dapat dikatakan bahwa semua kata  yang ditempatkan pada awal kalimat adalah kata yang dipentingkan. Berdasarkan prinsip tersebut, untuk mencapai efek yang diinginkan sebuah kalimat dapat diubah-ubah strukturnya dengan menempatkan sebuah kata yang dipentingkan pada awal kalimat.

Kami berharap pada kesempatan lain kita dapat membicarakan lagi soal ini.

Kalimat di atas menunjukkan bahwa kata  yang dipentingkan adalah kami (berharap), bukan yang  lain.   Kata-kata yang lain juga bisa diberikan penekanan dengan cara menempatkannya pada awal kalimat dengan  konsekuensi kalimat akan mengalami perubahan struktur.

Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
Pada kesempatan lain kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
Kita dapat membicarakan lagi soal ini pada kesempatan lain, demikian harapan kami.
Soal ini dapat kita bicarakan pada kesempatan lain, demikian harapan kami.


2. Mempergunakan repetisi
       Repetisi adalah pengulangan sebuah kata yang dianggap penting sebuah kalimat.

Harapan kita demikianlah dan demikian pula  harapan semua pejuang.
Kemajuannya menyangkut kemajuan di segala bidang, kemajuan kesadaran politik, kesadaran bermasyarakat, kesadaran  berekonomi, kesadaran berkebudayaan, dan kesadaran beragama. Memang, dalam penglihatan saya, bahasa Indonesia merupakan suatu alat, yaitu alat komunikasi. Dalam hubungan antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, antara komandan dan anak buah, antara guru dan murid, antara pemerintah dan rakyat, antara sesama warga masyarakat, pastilah diperlukan bahasa sebagai alat komunikasi.

3. Menggunakan pertentangan
       Pertentangan dapat pula dipergunakan untuk menekan suatu gagasan. Kita bisa saja mengatakan secara langsung hal-hal berikut dengan konsekuensi tidak  terdapat penekanan:

Anak itu rajin dan jujur.
Ia menghendaki perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu.

Agar kata rajin dan jujur serta menghendaki perbaikan  yang menyeluruh  dapat ditonjolkan, kedua gagasan itu ditempatkan dalam suatu posisi pertentangan.

Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
Ia tidak menghendakin perbaikan yang tambal sulam, tetapi perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu.

Contoh lain:
Kita tidak menghendaki sastra yang merupakan pidato kecap berisi propaganda politik tertentu. Tetapi kita tidak pula menghendaki sastra yang tidak konsepsi. Yang kita kehendaki adalah sastra yang dikehendaki oleh rakya, yakni sastra yang benar-benar bertumpu pada problematik rakyat.


4. Menggunakan partikel penekan
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa partikel  yang berfungsi untuk menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat.
Partikel tersebut adalah :  lah,  kah, pun.

Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam hal itu.
Bapaklah yang harus terlebih dahulu memberi contoh.
Ia pun berusaha mendekatkan kedua belah pihak dalam perundingan.
Kami pun ikut dalam kegiatan itu.
Rakyatkah yang harus menanggungkan akibat perangai para koruptor itu?
Benarkah seperti yang dikatakannya itu?




Sumber :  Komposisi, Dr. Gorys Keraf, halaman  41-44


Friday, August 17, 2018

Kalimat Efektif : Koherensi yang Baik dan Kompak

Koherensi yang Baik dan Kompak
   
     Yang dimaksud dengan koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu.

Penyebabnya rusaknya koherensi kalimat yaitu:
1. Koherensi rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.
Baik :  Adik saya yang paling kecil memukul anjing di kebut kemarin pagi dengan sekuat tenaga.
Tidak baik : Adik saya yang paling kecil memukul dengan sekuat tenaganya kemarin pagi di kebun anjing.  /  Anjing kemarin pagi di kebun adik saya memukul dengan sekuat tenaga.

2. Koherensi sebuah kalimat rusak karena salah mempergunakan kata-kata depan, kata penghubung, dsb.
Contoh:
a. Interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasaan bahasa menentukan bagi pola kepribadian yang sedang berkembang. (kata bagi dihilangkan)
b. Sejak lahir manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada kekejaman alam, atau kepada pihak lain karena merasa dirinya lebih kuat. (tanpa kepada)
c. Walaupun segi kepariwisataan telah memberi lapangan kerja  kepada penduduk Bali dan telah mendorong pada sektor seni lukis, seni pahat, dan kerajinan lainnya, namun kita mulai merasakan efek-efek negatif daripada perkembangan  ini. (tanpa pada,  sedangkan   daripada  sebaiknya  dari)

Pola kesalahan yang mirip:
benar:
membahayakan negara
berbahaya bagi negara
salah:
membahayakan bagi negara

benar:
membicarakan suatu masalah
berbicara tentang suatu masalah
salah:
membicarakan tentang suatu

benar:
mengharapkan belas kasihan
berharap akan belas kasihan
salah:
mengharapkan akan belas kasihan

benar:
menceritakan peristiwa itu
bercerita  tentang peristiwa itu
salah:
menceritakan tentang peristiwa itu

benar:
saling membantu
bantu-membantu
salah:
saling bantu-membantu


3. Koherensi rusak karena pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya  tidak tumpang tindih, atau hakikatnya  mengandung kontradiksi.
Contoh:
a. Banyak para peninjau yang menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung  itu merupakan Perang Dunia  di Timur Tengah.  (perbaikan:  banyak peninjau / para peninjau)
b. Sampai tahun 1952 banyak penjahat-penjahat perang Jerman yang dilepaskan  dan diampuni dosanya.  (banyak penjahat)
c. Demi untuk kepentingan Saudara sendiri, Saudara dilarang  merokok.  (demi kepentingan / untuk kepentingan)
d. Sering kita membuatu suatu kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari. ( suatu kesalahan/ kesalahan-kesalahan)

4. Koherensi rusak karena salah menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan belum, dsb.) pada kata kerja tanggap.
Contoh:
a. Saya sudah membaca buku itu sampai tamat. (baik)
b. Sudah saya baca buku itu sampai tamat. (baik)
c. Saya sudah baca buku itu hingga tamat. (kurang baik, bahasa percakapan)
d. Buku itu saya sudah baca hingga tamat. (salah)
e. Buku itu sudah saya baca hingga tamat. (baik)

Jadi,  saya baca, kau pukul, kami lihat, dll. sebagai bentuk tanggap tidak boleh diselingi keterangan apa pun karena hubungan  antara keduanya sangat mesra.

Sumber  :  Komposisi, Dr. Gorys Keraf, halaman  38-40



Sukses UN Kelas 12 Bahasa Indonesia : Menentukan Kalimat Utama

Cara Jitu Menentukan Kalimat Utama Paragraf

       Berikut saya akan bagi kiat jitu menjawab soal Ujian Nasional Bidang Studi Bahasa Indonesia kelas 12  SMA, untuk  poin soal : menentukan kalimat utama paragraf.
Tingkat kebenaran dari kiat jitu ini adalah  99%-100%. Ini berdasarkan pengalaman saya mengajar Bahasa Indonesia di kelas 12 SMA selama lebih dari  tujuh tahun, juga dari  berbagai pelatihan persiapan menghadapi UN.

     Untuk pertanyaan menentukan kalimat utama paragraf  maka jawabannya adalah kalimat nomor  1, atau kalimat pertama..  Dari tahun ke tahun  jawaban ini tetap sama, tak pernah berubah. Sebabnya adalah jenis paragraf yang keluar sebagai soal adalah paragraf induktif, yaitu paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf.

     Berikut contoh soal UN.

1. Soal UN 2017
            Jawaban untuk soal di atas adalah   (A)  (1).
            Kalimat   (2) sampai dengan kalimat  (6)  menjelaskan tentang isi kalimat nomor  (1).

2.  Soal  UN  2016

          Jawaban untuk soal di atas adalah   (A)  (1)

3. Soal  UN  2015

                Jawabannya adalah   (A)  Tugas pokok bank.



Kalimat Efektif: Kesatuan Gagasan

Kesatuan Gagasan dalam Kalimat

     Setiap kalimat yang baik harus jelas memperlihatkan kesatuan gagasan, mengandung satu ide pokok. Dalam laju kalimat tidak boleh diadakan perubahan dari satu gagasan ke satu gagasan lain yang tidak ada hubungan, atau menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali. Bila dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan disatukan, akan rusak kesatuan pikiran itu.
     Kesatuan gagasan jangan pula diartikan bahwa hanya terdapat satu ide tunggal. Bisa terjadi bahwa kesatuan gagasan itu terbentuk dari dua gagasan pokok atau lebih. Secara praktis sebuah kesatuan gagasan diwakili oleh subyek, predikat, dan  objek itu dapat berbentuk kesatuan tunggal, kesatuan gabungan, kesatuan pilihan, dan kesatuan yang mengandung pertentangan.
     Contoh-contoh berikut dapat menjelaskan kesatuan gagasan tersebut, baik kesatuan yang terpadu dan kesatuan yang tidak terpadu.

1. Yang jelas kesatuan gagasannya
a. Kita bisa merasakan dalam kehidupan sehari-hari, betapa emosi itu seringkali merupakan tenaga pendorong yang amat kuat dalam tindak kehidupan kita. (Kesatuan Tunggal)
b. Semua penduduk desa itu mendapat penjelasan mengenai Rencana Pembangunan Lima Tahun. (Kesatuan Tunggal)
c. Pada saat seorang sarjana harus merumuskan konsep-konsep menjadi istilah, dengan perkataan lain pada saat ia harus membentuk istilah, kadang-kadang terasa adanya kesulitan. (Kesatuan Tunggal)
d. Pimpinan Perguruan Tinggi sadar bahwa pelayanan kurikuler ini akan berhasil bila penyempurnaan sistem perkuliahan dan tenaga pengajar disertai dengan penyempurnaan perpustakaan, laboratorium, peralatan, gedung, dan administrasi. (Kesatuan Tunggal)
e. Dia telah meninggalkan rumahnya jam enam pagi, dan telah berangkat dengan pesawat satu jam yang lalu. (Kesatuan Gabungan)
f. Ayah bekerja di perusahaan pengangkutan itu, tetapi ia tidak senang dengan pekerjaan itu. (Kesatuan yang mengandung pertentangan)
g. Kamu boleh menyusul saya ke tempat itu, atau tinggal saja di sini. (Kesatuan Pilihan)

2. Yang tidak jelas kesatuan gagasannya
          Kesatuan gagasan menjadi kabur karena kedudukan subyek atau predikat tidak jelas, terutama karena salah menggunakan kata-kata depan. Kesalahan lain terjadi karena kalimatnya terlalu panjang sehingga penulis tidak tahu apa yang sebenarnya yang mau disampaikan. Coba perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
a. Di daerah-daerah sudah mempunyai Lembaga Bahasa.
b. Di dalam pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara pendidik dan anak didik.
c. Dalam pendidikan juga sangat berhubungan erat kepada bahasa.
d. Di rumah-rumah sakit penuh sesak penderita-penderita atom yang belum mati.
e. Dengan adanya kenakalan anak-anak yang kadang-kadang sudah merupakan perbuatan kriminal memerlukan perhatian yang cukup serius dari alat-alat negara.
f. Di Bali sekarang ini terkenal dengan patung-patung yang bercorak sangat primitif.
g. Kebutuhan makan oleh manusia tidak dapat menunggu sampai hari esok.
h. Menanggapi tulisan Saudara pada Harian Kompas hari Kamis, 20 Maret 2009, pada halaman  IV kolom Redaksi Yth. mengenai TVRI Palembang yang isinya mengungkapkan perasaan tidak puas, mual, dan jengkel terhadap acara-acara produksi  TVRI Palembang tidak terlebih dahulu  menganalisis acara-acara yang diproduksinya sendiri itu, asal jadi saja.
i. Karena bahasa Kesatuan Indonesia yang berasal dari bahasa  nasionalnya.
j. Terhadap orang yang lebih tinggi umurnya  atau kedudukannya berbeda caranya.
k. Penetapan bahasa kesatuan kita sangat mudah; pada mana masa perjuangan, di mana rakyat Indonesia, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, yang senasib, seperjuangan, satu cita-cita, maka dengan kesadaran ini disertai pemikiran maka rakyat Indonesai menetapkan bahasa nasional tersebut sebagai Bahasa Kesatuan.


sumber : Komposisi, karya Dr. Gorys Keraf, halaman 36-38.