Follow by Email

Rabu, 28 November 2012

Naskah Drama Legenda Asal Nama Suriname



Asal Nama Suriname


Sinopsis

Suriname adalah sebuah daerah seukuran desa dalam wilayah Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis. Dahulu kala adalah sebuah kerajaan yang bernama Batin Betuah. Raja Kerajaan Batin Betuah ini bernama Tuahbasa Syahansyah. Raja mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita bernama Putri Embun Mewangi. Raja ini sangatlah bijaksana dan sayang kepada rakyatnya. Raja mendirikan sebuah balai pertemuan yang luas sebagai tempat untuk bermusyawarah dengan para menteri, cerdik pandai, atau tempat ia menerima rakyatnya yang ingin mengadukan berbagai hal. Sekarang daerah tempat balai pertemuan itu berada bernama Balai Raja.
Kebaikan hati raja ini berbanding terbalik dengan istrinya yang cantik jelita. Permaisuri adalah seorang yang jahat hatinya, namun sangat pandai bersandiwara mengambil hati suaminya sehingga sang raja sangat sayang pada permaisuri. Tidak banyak yang tahu akan kejahatan permaisuri ini. Termasuk yang tahu adalah sang Ibu Suri. Ibu Suri sering memberi nasihat tentang istrinya kepada anaknya, Raja Tuahbasa Syahansyah. Akan tetapi, sang raja tak begitu menggubris perkataan ibunya. Bahkan sering raja membantah pengaduan sang ibu, walau dengan sangat halus.
Ternyata usia Raja Tuahbasa tak panjang. Setelah sang raja meninggal dan digantikan anaknya yang masih sangat belia, mulailah sang permasuri menampakkan watak aslinya. Yang menjadi raja memang anaknya, tapi yang berkuasa adalah sang permaisuri. Ia membuat berbagai makar. Salah satu makar yang dirancangnya adalah mengenyahkan Ibu Suri, ibu mendiang suaminya, dari istana kerajaan.
Karena tak tahan dengan berbagai ujian yang ditimpakan oleh sang permaisuri kepadanya, akhirnya sang ibu suri melarikan diri dari istana bersama dayang kepercayaannya, Mawar Putih dan Awan Senja. Mereka menyamar jadi rakyat jelata, hidup sebagaimana layaknya orang-orang biasa. Hanya orang-orang tertentu yang tahu keberadaan Ibu Suri. Ibu Suri akhirnya meninggal di sebuah rumah kayu sebagai seorang rakyat biasa. Ia dimakamkan di pondok kayunya tersebut.
Tempat Ibu Suri dimakamkan itu sekarang diberi nama Suriname, diambil dari nama Ibu Suri:  Putri Name Cahya.



Pemeran
1.       Lutfi Afiif Yazu   sebagai Raja Tuahbasa Syahansyah
2.       Muhammad Gunawan sebagai pen gawal
3.       Tiara Meldiany Putri
4.       Dinda Mustika
5.       Suci Prismulanda
6.       Nur Putrialita
7.       Rezti Fadillah
8.       Dita Yolanda
9.       Dian Kasturi
10.   Safitri R
11.   Mutia Amatullah
12.   Buselvione Putri
13.   Siti Luthfiah
14.    Andini Widya Sari









Naskah

Babak  I

Di sebuah taman yang indah, taman Kerajaan Batin Betuah. Raja Tuahbasa sedang berjalan-jalan berdua saja dengan permaisurinya, Putri Embun Mewangi.
Tuahbasa            : Adinda, lihatlah taman ini, alangkah indahnya. Subhanallah, Allah Yang Mahaindah telah
                                menciptakan dengan sangat sempurna. Rasanya mata tak hendak berpaling dari menikmati
                                pesona alam yang menyejukkan mata ini.
Putri Embun     : Benar, Kanda. Semua ini adalah di antara bukti keberhasilan Kanda mengelola kerajaan.  
                                Kanda berhasil menjadikan Kerajaan Batin Betuah ini makmur sejahtera.
Raja                       : Ah, jangan berlebihan memuji, Dinda. Rasanya belum banyak yang bisa kulakukan untuk
                                rakyatku. Aku masih belum bisa mengenyahkan kemiskinan dari negeriku. Rasanya waktuku
                                tak pernah cukup untuk berbuat. Rasanya....
Putri Embun     : Sudah..sudah Kanda. Lihatlah kupu-kupu itu. Warnanya sangat banyak dengan paduan yang
                                memukau. Aku iri dengan kupu-kupu itu, Kanda.
Raja                       : Kenapa, Dinda. Memangnya apa kelebihan kupu-kupu itu dibanding, Dinda.
Putri Embun     : Sepertinya kupu-kupu itu teramat bahagia. Dirinya yang cantik jelita, bisa terbang ke mana
                                saja, dan selalu mengisap madu bunga-bunga nan indah.

(Raja Tuahbasa terdiam. Termenung. Wajahnya terlihat agak muram. Ia duduk memandang tak bergeming ke depan.)

Putri Embun     : Kanda kenapa. Maafkan Dinda kalau ucapan tadi tidak berkenan di hati Kanda.
Raja                       : Tidak, bukan itu Dinda.
Putri Embun     : Lalu ... apa Kanda...
Raja                       : Aku sering bermimpi yang sama beberapa waktu belakangan ini. Sepertinya ...
Putri Embun     : Sepertinya..apa.. Kanda?
Raja                       :  (terdiam, seperti merenung....)  Hhhh.....  sepertinya aku mendapat firasat bahwa umurku tak
                                 akan lama lagi...
Putri Embun     : Ahh.. firasat itu kadang lebih banyak salahnya, Kanda. Tidak usah terlalu Kanda jadikan
                                pedoman.
Raja                       : Entahlah....

(Tiba-tiba Ibu Suri  datang. Ibu Suri berjalan tergesa-gesa dan tampak serius. Ibu Suri langsung berdiri di depan mereka berdua.)

Ibu Suri                : Tuahbasa.....
Raja                       :  Ya.. Ibunda..  (Tuahbasa langsung berdiri dan membungkuk hormat pada ibunya.)
Ibu Suri                : Ibu ingin bicara....
Raja                       :  Silakan Ibunda...
Ibu Suri                :  Hanya berdua denganmu...
Raja                       :  Ya..Ibunda.  (Raja memandang pada permaisurinya sebagai isyarat untuk meninggalkan mereka berdua.)

(Permaisuri Putri Embun Mewangi pergi kembali ke ruang istana)

Ibu Suri                : Tuahbasa....
Raja                       : Ya.. Ibunda..
Ibu Suri                : Ibu ingin kau mengganti istrimu dengan perempuan lain yang lebih bersih hatinya
Raja                       : ( terdiam, roman wajahnya tampak keruh) ...
Ibu Suri                :  Ini yang kesekian kalinya Ibu menyampaikan kepadamu, anakku.
Raja                       : Ibunda .....aku..aku..
Ibu Suri                : Kamu cinta kepadanya, ya, begitukan. Kau tidak tahu bahwa dia adalah wanita berhati ular
                                berbisa. Semua yang ditampakkannya kepadamu hanyalah sandiwara belaka. Ibu ini wanita,
                                ibu lebih tahu daripadamu. Percayalah pada ibu.
Raja                       : Ibunda....
Ibu Suri                : Anakku, belum cukupkah masa mulai dari kandungan hingga kau sebesar ini untuk
                                mempercayai ketulusan cinta ibumu ini kepadamu. Bersegeralah sebelum semua terlambat.....

(Ibu Suri pergi meninggalkan anaknya. Tuahbasa terpaku di tempatnya.)



Babak  II

Istana Kerajaan Batin Betuah dipenuhi warna kelabu. Awan hitam menggelayut berat di langit negeri Batin Betuah. Air mata menggenangi di setiap sudut mata rakyat negeri Batin Betuah. Andai tiap benda di negeri Batin Betuah bisa menangis maka negeri Batin Betuah akan banjir air mata menangisi kepergian Raja Tuahbasa Syahansyah.

Jenazah Raja Tuahbasa Syahansyah dibaringkan di balairung utama istana. Tak ada yang bersuara. Angin pun seakan berhenti berembus.

Ibu Suri  duduk terpaku terpaku. Ia berusaha menahan agar tangisnya tak bersuara, namun air matanya tumpah membasahi gaun hitamnya. Tak dapat disebutkan kedukaan hatinya.

Permaisrui tampak melangkah pelan menuju jenazah suaminya. Ada keraguan di hatinya melihat keberadaan Ibu Suri.  Ibu Suri yang kemudian menyadari siapa yang datang, tak dapat menahan emosinya. Ia berdiri dengan cepat dan menatap Sang Permaisuri dengan tajam.

Ibu Suri                : Kau...wanita ular berbisa. Kaulah yang menyebabkan  kematian anakku!
Permaisuri         : Ibunda.... setiap orang akan menemui kematian...
Ibu Suri                : Tapi, anakku mati karena kau telah membunuhnya! Wanita laknat, tidak usah lagi kau
                                 bersembunyi di balik wajah jelitamu itu. Kau adalah iblis berwujud manusia. Apakah kau kira
                                 tak ada orang yang tahu niat-niat busukmu selama ini. Kau telah meracun anakku. Kau iblis
                                 betina yang haus kekuasaan. Begitu anakku mati, maka kaulah yang akan berkuasa..
Permaisuri         : Ibu menuduh tanpa bukti. Yang berkuasa bukan aku, tetapi Pangeran Elang Putih, sang putra  
                                 mahkota.
Ibu Suri                : Apalah arti kanak-kanak itu. Apa yang bisa dilakukannya. Untuk namanya memang dia, tapi
                                sebenarnya  kaulah yang akan mengendalikan kerajaan ini. Licik.

(Dayang-dayang setia Ibu Suri menghampiri Ibu Suri untuk menenangkannya.)

Dayang Mawar Putih    : Sudahlah Tuan Putri... kasihan Tuanku Raja, ia akan sedih melihat Tuan Putri dan
                                               permaisuri bertengkar.
Dayang Awan Senja       : Mari Tuan Putri.. (membimbing Ibu Suri menuju tempat beristirahat.)

Ibu Suri                : Anakku .... aku telah berulangkali mengatakan padamu, tapi engkau tak mau peduli. Cintamu
                                pada perempuan durhaka itu telah membutakan mata hati dan akal sehatmu. Sekarang,
                                lihatlah bahwa apa yang ibu katakan benar. 
                               (Ibu Suri menangis keras..  Dayang-dayangnya memapahnya pergi)


Babak  III

Sang permaisuri, Putri Embun Mewangi, sekarang berkedudukan sebagai Ibu Suri yang baru. Bisa dikatakan bahwa kendali kerajaan berada di bawah kemauannya. Memang anaknya yang menjabat raja, tetapi Elang Putih baru berusia tiga belas tahun. Jabatan raja itu hanya sebagai simbol baginya. Elang Putih tetaplah seorang kanak-kanak, melewati hari-harinya  dengan bermain bergembira bersama teman-teman sebayanya.

Putri Embun Mewangi duduk di kelilingi dayang-dayangnya. Mereka sedang merencanakan makar untuk mengenyahkan Putri Name Cahya, ibu mendiang suaminya dari istana. Putri Name Cahya sangat benci kepadanya. Mantan ibu suri itu juga terlalu banyak tahu tentang siapa dia sesungguhnya. Hal ini berbahaya bagi rencana-rencananya ke depan. Hanya satu pilihan, Putri Name Cahya harus dienyahkan. Putri Embun Mewangi tidak ingin membunuh mantan mertuanya itu. Ia masih segan dengan kebaikan hati suaminya. Bagaimana pun ia memang telah membunuh suaminya dengan tangannya sendiri dengan meracunnya, tapi tetap sulit baginya untuk mengingkari bahwa suaminya itu adalah lelaki terbaik di muka bumi ini yang pernah ia temui. Hanya saja, ia bernasib malang karena terlalu mudah diperdaya oleh tipu daya wanita.

Putri Embun Suri            : Berikan aku pendapat kalian tentang bagaimana caranya untuk mengenyahkan
                                               wanita tua itu secepatnya dari istana ini..
Dayang Bunga Tanjung      : Putri, izinkan kami menyiksa kedua dayang setianya. Hal ini akan menjadi
                                                              pukulan batin bagi  mantan ibu suri.
Putri Embun                     :  Kau kuizinkan. Kapan akan kaulakukan...?
Dayang Teratai                                :  Besok mereka berdua biasanya sedang mengumpulkan bunga-bunga mawar untuk
                                                mandi kembang mantan ibu suri. Saat itu saya rasa adalah saat yang tepat.
Putri Embun                     :  Bagus. Ajak teman-temanmu ini. Kalau kalian berhasil, akan kuberi hadiah yang B
                                                Banyak untuk kalian.
                                                Apalagi ide kalian..
Dayang Rintik Hujan     : Tuan Putri. Mengapa Tuan Putri bersusah payah mencari cara-cara yang rumit untuk
                                                membuat mantan ibu suri angkat kaki dari istana. Menurutku, mengapa Tuan Putri tidak langsung  saja memberi ancaman kepada mantan ibu suri. Saya rasa ancaman sudah cukup merubah pikiran wanita tua itu. Ia seorang yang sangat perasa dan sangat menjunjung harga diri. Ia akan tersinggung dan merasa tak akan membutuhka istana ini lagi karena harga dirinya akan mengatakan bahwa terlalu hina baginya untuk mengemis agar bisa tetap tinggal dengan kemewahan harta benda. Aku yakin, ia akan dengan senang hati angkat kaki  dari istana ini tanpa kita perlu memaksanya.
Putri Embun                      : Kau memang pintar Rintik Hujan. Tak salah aku memilihmu sebagai orang kepercayaanku. Ha..ha...ha.... setelah ini tak akan ada lagi yang bisa menghalangi langkah-langkahku. Ha...ha...ha..  kerajaan ini akan sepenuhnya di bawah kendaliku.  Haa..ha..ha.....


Babak  IV

Mawar Putih dan Awan senja sedang sibuk memetik bunga melati untuk mandi kembang Putri Name Cahya. Mereka tak menyadari kedatangan  Bunga Tanjung dan teman-temannya.

Dayang Kembang Setaman                 : Hei  Mawar Putih, hei dayang goblok, apa yang kau lakukan...
Mawar Putih                     : Jaga mulutmu kalau bicara...
Dayang Rumpun Ilalang    : Memang kau bodoh, untuk apa kau masih mau menjadi pelayan wanita tua tak
                                               berguna itu. Sekarang ia bukan siapa-siapa lagi. Dan sebentar lagi perempuan tua itu
                                               akan enyah dari istana ini. Dan kalian berdua boleh terus mengekor padanya untuk
                                               sama-sama menderita.
                                               Ha..ha..ha
                                              (Bunga Tanjung dan teman-temannya tertawa-tawa.)
Awan Senja                        : Paling tidak kami masih punya hati, daripada kalian. Kalian adalah pelayan wanita
                                               setan. Dan kalian juga berhati setan seperti tuan kalian.
Dayang Mayang Seri           :  Kami akan mengadukan ucapan kalian kepada Putri Embun, biar kalian digantung.
Mawar Putih                     : Kadukan saja..kami tidak takut..

(Bunga Tanjung dan teman-temannya mengeroyok Mawar Putih dan Awan Senja. Keduanya babak belur hingga susah untuk berdiri. )

Dayang Pinang Merah                   : Rasakan itu, pelayan bodoh!

(Bunga Tanjung dan teman-temannya berlalu dengan cepat, meninggalkan Mawar Putih dan Awan Senja tergeletak begitu saja.)


Babak V


Putri Name Cahya sedang duduk bersantai di kamarnya ditemani dayang setianya: Mawar Putih dan Awan Senja. Tiba-tiba pintu disentak dengan keras. Masuklah dengan angkuhnya Putri Embun Mewangi diiringi Dayang Pinang Merah dan sorang pengawal.

Putri Embun     : Hei, perempun tua...
Putri Name        : Tak punya sopan santun. Apa kau tak pernah diajari tata krama oleh kedua orang tuamu.
                                Atau....
Putri Embun     : Tak usah banyak bicara tua bangka! Aku datang untuk memberi takdir pada nasibmu...
Putri Name        : Manusia tak tahu balas guna! Sampah! Lihat dirimu.... Siapa dirimu sebelum diambil istri oleh
                                anakku. Kau adalah rongsokan tak berguna... kau manusia jelata nan hina.  Sekarang setelah
                                dipelihara dengan berbagai kenikmatan kau malah menikam. Kau tak ubahnya binatang buas.   
                                Kau...
Putri Embun     : Cukup perempuan tua...
Putri Name        : Kau hendak menentukan takdirku...   Heh.. kesombonganmu telah di puncaknya. Kau telah
                                menyamakan dirimu dengan Tuhan. Kutukan anakku telah menimpa dirimu, sebentar lagi
                                kutukan Tuhan yang akan menimpamu.
Putri Embun     : Dengarkan nenek tua! Kau harus segera angkat kaki dari istana ini.. kalau tidak ...
Putri Name        : Kalau tidak.. apa ...!
Putri Embun     :  Kalau tidak.. aku akan menyeretmu.....
                                 Kau harus bangun dari mimpi-mimpimu. Sekarang kau bukan siapa-siapa lagi. Sekarang yang  
                                 menjadi raja adalah anakku. Di kerajaan ini aku bisa lakukan apa pun yang kumau, aku bisa  
                                 dapatkan apa saja yang aku inginkan. Kau masih beruntung karena aku tak memenggal  
                                 lehermu.
Putri Name        : Kau....kau.... berani mengusirku....

(Putri Name menampar Putri Embun, tetapi tangannya ditangkap Putri Embun lalu mendorongnya sehingga Putri Name terjatuh. Putri Name bangkit kembali untuk menyerang Putri Embun. Terjadi perkelahian antara mereka, dan dimenangkan Putri Embun yang masih muda dan kuat. Ketika Putri Name hendak menyerang lagi, pengawal Putri Embun memukulnya jatuh. )

Putri Embun     : Kau beruntung bahwa aku tak memotong-motong daging tuamu untuk makan anjing
                                peliharaanku. Begitu matahari terbit esok, aku tak mau lagi melihat wajahmu yang buruk itu
                                di istanaku yang indah ini!



(Putri Embun melangkah pergi diikuti dayang dan pengawalnya. Tinggallah Putri Name dan dayang setianya.
Putri Name menangis meratapi nasibnya.)

Putri Name        : Kemudi dipegang sang nakhoda
Hendak dibawa berlayar ke Pulau Perca
Sepanjang usianya ia adalah orang mulia
Saat kematian hendak datang ia jadi orang yang hina
Anakku Tuahbasa, lihatlah betapa malang nasib ibumu. Sudah kukatakan beribu kali padamu, kau tak juga mau percaya.








Babak VI

Tampak kelelahan yang sangat pada wajah Putri Name dan dua dayang setianya. Mereka telah berjalan berhari-hari meninggalkan istana kerajaan Batin Betuah. Mereka bukan lagi orang-orang istimewa yang bergelimang harta dan kemewahan. Sekarang mereka adalah orang-orang biasa, rakyat jelata. Pakaian mereka tak lagi indah seperti dulu.

Putri Name        : Mawar, berhenti dulu. Aku capek sekali.
Mawar Putih     : Ya .. Tuan Putri.
Putri Name        : Awan.. apa kau tak menyesal ikut menderita bersamaku?
Awan Senja        : Tidak Tuan Putri. Hamba akan terus merawat Tuan Putri.
Putri Name        : Kalian memang dayang-dayangku yang setia. Kalau saja Tuahbasa masih hidup, tentu nasib
                                kita tidak akan seburuk ini. (Putri Name menangis..)

Angin utara membawa mendung
Bersorak rumput menerima hujan
Bukan salah bunda mengandung
Sudah takdir suratan tangan

Semenjak laksamana melempar sauh
Lancang kuning membelah lautan
Kepada siapa badan hendak mengeluh
Sakit rasa tak tertanggungkan

Budak Melayu bermain sepak raga
Orang Banjar jadi lawan tanding
Badan mati tak mengapa
Kepada Tuhan jua mata berpaling









Setelah terus berjalan dan berjalan, akhirnya Putri Name Cahya memutuskan berhenti di suatu tempat. Ia merasa coco di tempat tersebut. Dengan dibantu dayang-dayangnya, ia mendirikan sebuah rumah kayu. Di rumah itulah mantan ibu suri Putri Name Cahya menghabiskan hidupnya sebagai rakyat biasa. Siksaan batin yang sangat berat membuat umurnya tak lama. Ia meninggal di tempat itu dan dikuburkan tak jauh dari pondok yang ia dirikan.
Tempat itu kemudian berkembang menjadi ramai, berkmbang menjadi sebuah desa.
Tempat itu akhirnya diberi nama Suriname, diambil dari nama ibu suri Putri Name Cahya.



Karya : Yudi Hendra, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia SMA IT MUTIARA DURI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar