Wednesday, April 25, 2012

Gajah yang Sombong dan Burung Kubara


Gajah yang Sombong dan Burung Kubara

Seekor burung kubara
menjadikan tempat bersarangnya burung unta di tengah
padang pasir sebagai tempat untuk bersarang. Ia bertelur dan menetaskan anak-anaknya di tempat itu yang juga menjadi jalur pergi dan pulang gajah untuk mencari
minum. Suatu ketika, seperti biasanya, gajah melintasi jalur
itu. Kemudian kakinya menginjak sarang burung kubara
dan meremukkan seluruh isi sarangnya, sehingga telurnya
pecah dan seluruh anak burung mati.
Ketika ia melihat keburukan yang menimpa dirinya,
ia tahu bahwa musibah itu datangnya tidak lain kecuali
dari gajah yang melintasi tempat tersebut, dan bukan
makhluk lain. Kemudian ia terbang dan hinggap di kepala
gajah sambil menangis dan mengatakan, "Wahai sang
raja, mengapa engkau meremukkan telurku dan membunuh
anak-anakku, sedangkan aku bertetangga dekat denganmu?
Apakah engkau melakukan ini karena punya niat
meremehkan perkaraku dan memandang rendah diriku?"
"Itulah yang mendorongku untuk melakukannya,"
kata gajah menjawabnya enteng.
Akhirnya si burung kecil ini pulang dan pergi menemui
golongan burung. Ia mengeluhkan musibah yang didapatkan
dari seekor gajah. Kemudian burung-burung itu mengatakan
kepadanya, "Tidak mungkin kita bisa berbuat
apa-apa kepadanya, sebab kita hanya kaum burung."
Kemudian si burung ini pergi menemui burung gagak
dan elang, serta berkata kepadanya, "Aku menginginkanmu
bisa membantuku pergi menemui gajah untuk matanya
agar tidak bisa melihat. Setelah itu aku akan melakukan
tipu muslihat lain."
Kemudian mereka mengabulkannya, dan pergi bersama
menemui gajah. Mereka terus mematuki mata gajah
hingga terluka dan kedua matanya tidak bisa melihat. Si
gajah yang dipatuk matanya tidak bisa menemukan jalan
ketika ia harus pergi mencari makan dan minum kecuali
yang bisa diraba-raba dan dikira-kira.
Ketika si burung yang pernah dirusak sarang dan diinjak
anaknya ini mengetahui kondisi gajah yang tidak bisa
melihat, ia pergi ke aliran anak sungai kecil yang banyak
dihuni katak. Ia mengeluh kepada golongan katak tentang
musibah yang pernah diterimanya dari perlakuan gajah.
Kemudian para katak bertanya, "Lalu apa cara dan
tipu muslihat kita terhadap gajah yang tubuhnya besar, sedangkan
kita makhluk kecil? Bagaimana kita bisa mencapainya?"
"Aku lebih senang bila kalian ikut aku pergi ke jurang
dekattempat gajah. Kemudian di sana kalian bersuara dengan
ramai. Ketika gajah itu mendengar suara kalian, ia
yakin dan tidak bakal ragu-ragu, bahwa tempat itu berair.
Kemudian ia akan pergi dan tercebur di jurang tersebut,"
kata si burung kubara menjelaskan idenya.
Kemudian mereka mengabulkan permintaannya dan
berkumpul di suatu jurang dekat tempat gajah. Mereka
beramai-ramai mengeraskan suaranya. Kemudian gajah
mendengar suara katak yang ramai. Ia sangat kehausan.
Dengan yakin dan percaya diri ia pergi mencari sumber
suara tersebut, karena ia mengira banyak airnya. Dia berjalan
meraba-raba dan akhirnya terperosok ke dalam jurang
yang mengakibatkan patah tulang.
Burung kubara pergi melihat gajah yang masuk ke dalam
jurang dengan mengibas-ngibaskan ekor dan sayapnya
di atas kepala gajah dengan mengatakan, "Wahai
makhluk yang zalim dan tertipu oleh kekuatannya sendiri!
Engkau telah meremehkan perkaraku karena melihat dirimu
sangat besar. Lalu bagaimana engkau tidak melihat
besarnya taktik dan tipu muslihatku sekalipun tubuhku sangat
kecil bila dibanding dengan tubuhmu dan kecilnya
semangatmu."

Sumber : Hikayat Kalilah dan Dimnah