Selasa, 24 April 2012

Gurindam


                          Gurindam
Gurindam termasuk puisi lama yang terdiri
atas dua baris dalam satu bait. Kalimat baris pertama menyatakan
perbuatan dan kalimat baris kedua menyatakan akibat yang timbul
dari perbuatan itu.
Perhatikanlah contoh gurindam berikut.

Kurang pikir kurang siasat,
tentu dirimu kelak tersesat.

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.

Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuknya dusta.

Apabila banyak gelak tertawa,
itulah tanda hampirkan duka

Dilihat dari bentuknya, gurindam hampir sama dengan pantun
kilat (karmina). Bedanya, karmina terdiri atas sampiran dan isi,
sedangkan gurindam tidak memiliki sampiran dan merupakan
sebuah kalimat yang memiliki hubungan sebab akibat. Perhatikan
teks berikut.

Kurang pikir kurang siasat,
tentu dirimu kelak tersesat.

Berdasarkan contoh tersebut, kita dapat menyimpulkan ciri-ciri
gurindam, yakni sebagai berikut.
1. Gurindam terdiri atas dua baris/larik dalam satu bait.
2. Rima akhirnya berpola a-a.
3. Sempurna dengan dua baris saja.
4. Baris pertama merupakan sebab (syarat/perbuatan) dan baris
    kedua merupakan akibat.
5. Gurindam selalu mengandung nasihat.

Agar lebih memahami isi gurindam, Anda dapat melisankannya,
seperti halnya berbalas pantun. Dengan memperhatikan
lafal dan intonasi yang tepat, Anda dapat melisankan gurindam itu dengan baik.
Untuk melisankan sebuah gurindam dengan baik, ada baiknya kita
memperhatikan aspek lafal, intonasi, dan ekspresi. Lafal merupakan
cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa
dalam mengucapkan bunyi bahasa. Menguasai aspek lafal ini, kita
dituntut jelas dan lugas setiap mengucapkan bunyi-bunyi bahasa.

Berikutnya, kita pun harus memerhatikan aspek intonasi.
Intonasi adalah lagu bicara seseorang dalam melafalkan bunyi
bahasa. Memahami aspek intonasi ini bermanfaat untuk penguasaan
meninggikan dan merendahkan setiap mengucapkan bunyi bahasa.
Sementara itu, aspek ekspresi itu untuk meningkatkan rasa
pemahaman kita dalam menyampaikan sebuah gagasan. Penyatuan
jiwa antara gagasan sebuah teks dan perasaan yang melisankannya,
menjadikan terjadinya kesatupaduan makna yang utuh. Dengan
demikian, memahami ketiga aspek tersebut bisa menjadi prasyarat
untuk melisankan sebuah gurindam.

Ketika Anda melisankan sebuah gurindam dengan memperhatikan
ketiga aspek tersebut, Anda atau orang yang mendengarkan
pembacaan itu akan mudah menjelaskan diksi, menyimpulkan
isi, dan mengetahui kekhasan bentuk gurindam pada masanya.
Diksi (pemilihan kata) suatu karya sastra itu bisa dipahami
dalam tiga bentuk:
1. pembendaharaan kata;
2. urutan kata (word order);
3. daya sugesti kata-kata.
Sebagai contoh, lisankanlah gurindam berikut dengan memperhatikanpenanda
lafal dan intonasinya.
1. Kurang pikir / kurang siasat/
tentu dirimu / kelak tersesat//
2. Cahari olehmu / akan sahabat/
yang boleh / dijadikan obat//

Dapatkah Anda menyimpulkan isi gurindam tersebut? Gurindam
(1) berisi pesan bahwa jika kita melakukan suatu perbuatan tanpa
didasari oleh ilmu, tentu kita akan terjerumus pada kesesatan.
Adapun, gurindam (2) berisi pesan bahwa kita harus pandai-pandai
mencari teman untuk dijadikan sahabat. Sahabat yang baik adalah
yang mampu memberikan ketenangan
dan menjadi "obat" manakala kita dalam kesusahan.

Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa baris-baris dalam
gurindam memiliki hubungan sebab akibat. Dengan demikian, diksi
(pilihan kata) pada baris pertama mempunyai hubungan yang erat
dengan diksi baris kedua.

Gurindam yang paling terkenal dalam karya sastra Indonesia
lama adalah "Gurindam Dua Belas" karya Raja Ali Haji. Disebut
"Gurindam Dua Belas" bukan berarti terdiri atas dua belas bait,
melainkan gurindam yang berisi dua belas pasal. "Gurindam Dua
Belas" berisi persoalan ibadah, tugas dan kewajiban raja, adab anak
terhadap orangtua, tugas orangtua terhadap anak, dan sifat-sifat
bermasyarakat yang baik.
Raja Ali Haji menerangkan gurindam sebagai berikut: "Ada
pun arti gurindam itu, yaitu perkataan yang bersajak. Pada akhir
pasangannya, tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangan
saja, jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang
kedua itu jadi seperti jawab."





GURINDAM 12
K a r y a  R a j a  A l i  H a j i



Pasal Pertama (1) Gurindam 12

Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilang nama

Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat


Pasal Kedua (2) Gurindam 12

Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut

Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa

Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji


Pasal Ketiga (3) Gurindam 12

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping

Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi


Pasal keempat (4) Gurindam 12

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi

Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih


Pasal Kelima (5) Gurindam 12

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai




Pasal Keenam (6) Gurindam 12

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

Pasal Ketujuh (7) Gurindam 12

Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencacat orang
Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur

Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar


Pasal Kedelapan (8) Gurindam 12

Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar

Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan

Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka


Pasal ke Sembilan (9) Gurindam 12

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa

Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua(h) yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru


Pasal ke Sepuluh (10) Gurindam 12

Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai

Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil


Pasal ke-11 (sebelas) Gurindam 12

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa

Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Hendak marah
Dahulukan hujjah

Hendak dimalui
Jangan memalui

Hendak ramai
Murahkan perangai

Pasal ke-12 (Dua Belas) Gurindam 12

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri

Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Tamatlah gurindam yang dua belas pasal karangan Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga (1263)  kepada tiga likur hari bulan Rajab Selasa lima Negeri Riau Pulau Penyengat.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar