Senin, 26 Maret 2012

Berpidato Tanpa Teks


Berpidato Tanpa Teks

Kemampuan khusus yang harus dilatih adalah:
1. menentukan tema pembicaraan yang akan disampaikan dalam
     pidato;
2. mencatat pokok-pokok pembicaraan yang akan disampaikan
     dalam pidato; dan
3. menyampaikan pidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada,
    dan sikap yang tepat.

Penampilan seorang pembicara ketika sedang berpidato menjadi pusat
perhatian pendengar. Semua yang ada pada pembicara semuanya
diperhatikan, mulai dari pakaian, potongan rambut, sampai caranya
berjalan menuju podium. Bahkan cara berdirinya pun tidak luput dari
pengamatan pendengar.
Pandangan mata harus dilakukan secara merata menjangkau semua
pendengar baik yang di depan maupun yang di belakang, baik yang di
sebelah kiri maupun yang di sebelah kanan, pandangan yang merata itu
sebaiknya harus disertai dengan senyum ceria yang ikhlas. Gunanya adalah
agar semua pendengar merasa diajak bicara.
Agar kegiatan pidato yang dilakukan menarik hati dan perhatian
pendengar, seorang pembicara harus mampu memilih metode pidato yang
baik. 

Berpidato tanpa teks dapat dilakukan melalui dua cara, yakni dengan
menghafal naskah pidato (memoriter) terlebih dahulu atau hanya menuliskan
topik-topik pokoknya yang dijabarkan dalam kerangka (ekstemporan).
Berpidato dengan cara menghafal hanya bisa dilakukan kalau
naskahnya pendek. Hal ini dapat dipahami karena kemampuan manusia
untuk menghafalkan naskah sangat terbatas. Berpidato dengan
menghafalkan naskah sebenarnya bertentangan dengan kebiasaan seharihari.
Oleh karena itu, bila sudah sangat terpaksa, berpidato dengan cara
menghafalkan naskah harus kita hindari. Lebih baik naskah pidato kita
baca berulang-ulang saja (tidak perlu dihafalkan). Artinya, kalimatkalimatnya
tidak perlu sama dengan naskah tetapi isinya sama.
Pidato jenis ini yaitu dengan cara menuliskan pesan pidato kemudian
diingat kata demi kata. Seperti manuskrip, memoriter memungkinkan
ungkapan yang tepat, organisasi berencana, pemilihan bahasa yang teliti,
gerak dan isyarat yang diintegrasikan dengan uraian. Tetapi karena pesan
sudah tepat, maka tidak terjalin saling hubungan antara pesan dengan
pendengar, kurang langsung, memerlukan banyak waktu dalam persiapan,
kurang spontan, perhatian beralih dari kata-kata kepada usaha mengingatingat.
Bahaya besar timbul bila satu kata atau lebih hilang dari ingatan.

Teknik menghafal (memoriter) mempunyai keunggulan dan
kelemahan. Keunggulannya antara lain:
1. lancar kalau benar-benar hafal;
2. tidak ada yang salah kalau benar-benar hafal; dan
3. mata pembicara dapat memandang pendengar.
 
Kelemahan teknik menghafal antara lain:
1. pembicara cenderung berbicara cepat tanpa penghayatan;
2. tidak dapat menyesuaikan dengan situasi dan reaksi pendengar; dan
3. kalau lupa, pidatonya gagal total.

Teknik lain yang dapat digunakan adalah dengan cara membuat
catatan garis besar pidato dan menjabarkannya ke dalam kerangka
(ekstemporan). Berpidato dengan cara ini sangat dianjurkan karena sifatnya
sangat fleksibel. Pembicara dituntun oleh kerangka yang dibuatnya.
Kerangka itu dikembangkan secara langsung dan dilihat saat diperlukan
saja. Pembicara juga bebas menyesuaikan dengan reaksi dan situasi
pendengar. Kalau kerangka pidato yang dibuat sudah dapat diingat
pembicara dapat tampil tanpa membawa secarik kertas. Hal ini tentu lebih
baik lagi, karena pembicara lebih konsentrasi meningkatkan kualitas
pidatonya agar lebih menarik.

Pidato dengan teknik ekstemporan mempunyai keunggulan dan
kelemahan. Keunggulannya antara lain:
1. pokok-pokok isi pidato tak ada yang terlupakan;
2. penyampaian isi pidato runtut;
3. kemungkinan salah dan lupa kecil; dan
4. interaksi dengan pendengar sangat komunikatif.

Kelemahannya antara lain:
1. tangan cenderung kurang bebas bergerak karena memegang kertas
jika tidak hafal;
2. terkesan kurang siap karena sering melihat catatan jika tidak hafal;
3. pemakaian bahasa kurang baik.

Setiap teknik berpidato mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Untuk itu, setiap orang mungkin berbeda pilihannya dengan yang lain
karena sangat bergantung pada kesiapan dan kemahiran dalam
mempraktikkannya. Untuk meningkatkan keterampilan berpidato tanpa
teks, pada pelajaran ini kamu akan berlatih dengan menggunakan teknik
ekstemporan yakni hanya menuliskan garis besar pembicaraan. 

Perhatikan langkah-langkah berikut.
1. Menentukan Tema
Tentukanlah tema pembicaraan yang akan kamu sampaikan dalam
pidato. Tema yang dipilih merupakan masalah yang aktual dan faktual
serta mampu menarik perhatian peserta pidato.
2. Mencatat Pokok-pokok Pidato
Catatlah pokok-pokok pembicaraan yang akan disampaikan dalam
pidato secara runtut, utuh, dan jelas.
3. Menyampaikan Pidato
Sekarang pikirkanlah bagaimana kamu akan menyampaikan pidato!
Pikirkan bagaimana kamu akan membuka pembicaraan saat pidato,
menyampaikan pidato, dan menutup pembicaraan dalam pidato!
Penyampaian pidato hendaknya sistematis serta menggunakan bahasa
yang baik dan komunikatif. Ada beberapa cara yang dapat dipilih untuk
membuka pidato, menyampaikan isi pidato, dan menutup pembicaraan
dalam pidato. 

Perhatikan uraian berikut ini!
a. Cara membuka pidato
Pembukaan pidato diucapkan setelah pembicara menyampaikan
salam dan sapaan kepada pendengar. Yang dilakukan pembicara adalah
mengucapkan salam dan menyapa pendengar dengan sapaan yang tulus,
ramah, dan bersahabat. Sapaan yang lazim digunakan antara lain: “Bapak
dan Ibu yang saya hormati, Saudara-saudara yang saya banggakan …” atau
sapaan-sapaan lainnya. Jumlah yang disapa jangan terlalu banyak. Satu,
dua, atau tiga sudah cukup. Kalau terlalu banyak, bisa menimbulkan
kebosanan. Apalagi kalau pembicara tampil berpidato pada giliran terakhir,
sedangkan pembicara-pembicara sebelumnya sudah menyebutkan sapaansapaan
yang sama.
Dalam setiap komunikasi peranan pembuka sangat penting. Lancar
tidaknya komunikasi banyak ditentukan oleh pembuka. Demikian pula
dalam berpidato. Pembuka pidato yang jelek dapat menimbulkan kesan
permusuhan yang menghambat kelancaran komunikasi. Sebaliknya,
pembuka yang menyenangkan inilah yang mendukung kelancaran
berpidato sehingga tujuan pidato mudah dicapai.

Terdapat beberapa kiat membuka pidato, diantaranya dengan
menyampaikan hal-hal berikut.
1) Mengucapkan rasa syukur
2) Menceritakan pengalaman
3) Menebar humor
4) Memperkenalkan diri
5) Menyampaikan gambaran umum
6) Menyebutkan fakta pendengar
7) Menyebutkan contoh nyata
8) Menyampaikan kutipan
9) Melibatkan peserta
10) Menunjukan benda peraga

b. Cara menguraikan isi pidato
Pembicara dapat menyampaikan isi pidatonya dengan memerhatikan
hal-hal berikut.
1) Tujuan pidato, apakah tujuannya untuk memberitahukan, menghibur,
atau mengajak.
2) Suasana dan situasi pidato, resmi atau tidak resmi.
3) Pendekatan yang digunakan, apakah menggunakan pendekatan
intelektual, moral, atau emosional.

 Jika menggunakan pendekatan intelektual, pembicara harus mengutamakan penalaran. Berbagai
alasan, bukti, dan contoh sangat diperlukan dalam menguraikan isi
pidato. Jika menggunakan pendekatan moral, pembicara lebih
mengutamakan masalah moral dan keagamaan. Jika menggunakan
pendekatan emosional, pembicara harus lebih mengutamakan emosi
dapat menyentuh masalah semangatnya, kebutuhannya,
lingkungannya, keramahannya, atau yang lainya, mereka mudah
terhanyut dan mudah menerima isi pidato.
Berdasarkan uraian di atas, pembicara sangat bijaksana kalau
melihat, mengamati, dan menganalisis tujuan, situasi, dan pendekatan yang
akan digunakan sebelum berpidato.

C. Cara menutup pidato
Ada tiga kesalahan besar yang sering dilakukan pembicara dalam
menutup pidato. Pertama, pembicara tidak tahu persis di mana harus berhenti.
Kedua, ada pembicara yang sebenarnya ingin mengakhiri pidatonya, tetapi
sulit berhenti deperti kendaraan tanpa rem. Ia berbicara apa saja, berputarputar
tak menentu. Ketiga, kesalahan yang paling besar seakan tak bermanfaat,
pembicara menutup pidato dengan mengucapkan kalimat seperti berikut:
“Demikianlah yang bisa saya katakan pada kesempatan ini. Karena apa yang
akan saya katakan sudah saya katakan semuanya, maka saya tidak akan
memperpanjang lagi pidato saya. Karena itu saya akhiri sekian.” Penutupan
pidato seperti itu tidak bermakna apa-apa.

Cara-cara menutup pidato berikut ini dapat dipilih sesuai dengan
kebutuhan atau situai dan kondisi.
1) Menyingkat atau menyimpulkan.
2) Memuji pendengar.
3) Menyampaikan kalimat-kalimat lucu.
4) Meminta pendengar untuk bertindak.
5) Menyampaikan ungkapan terkenal.
6) Melantunkan pantun.

Pilihlah cara manakah yang akandigunakan untuk membuka,
menyampaikan, dan menutup pidato.

2 komentar:

  1. Ohh, jadi gaharus cuma dihafal tapi harus di pahamai juga tohh, thanks ya gan buat artikel yang membantu ini. salam kenal dari pondok pesantren nurul ilmi darunnajah 14, iseng" juga mampir yuk ke website kita di ==> nurul-ilmi.com

    BalasHapus
  2. kereenn !! tapi gimana ya caranya supaya bisa berbicara lancar dan didengarkan penonton? terimakasih

    BalasHapus