Sabtu, 24 Maret 2012

Sastra Melayu Klasik/Hikayat

Sastra Melayu Klasik/Hikayat

       Hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita yang dibacakan untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau untuk meramaikan pesta. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian, serta mukjizat tokoh utama.

Karakteristik
Sastra Melayu Klasik/Hikayat
1. Anonim, yaitu tidak dikenal nama pengarangnya,
2. Istana sentris, yaitu mengisahkan tokoh yang berkaitan dengan kehidupan istana / kerajaan,
3. Bersifat statis, artinya
tidak mengalami perubahan atau perkembangan
4. Bersifat komunal, artinya menjadi milik masyarakat
5. Mengunakan bahasa klise, yaitu kata-kata yang diulang-ulang; contoh : hatta …., maka ….,
    alkisah….., dst.
6. Bersifat tradisional, artinya meneruskan tradisi / kebiasaan lama yang dianggap baik
7. Bersifat didaktis (mendidik), baik didaktis moral maupun didaktis religius,
8. Menceritakan kisah universal manusia, yaitu peperangan antara tokoh baik dan buruk, dan    
    selalu dimenangkan oleh yang baik
9. Sebagian besar berupa sastra lisan (disampaikan dari mulut ke mulut);
10. Tidak berangka tahun (tidak diketahui secara pasti kapan karya tersebut dibuat)
11. Mengandung hal-hal yang aneh, ajaib, atau mustahil.

Unsur-Unsur Intrinsik Sastra Melayu Klasik
1. Tema adalah ide pokok yang mendasari sebuah cerita. Pada umumnya naskah Melayu Klasik     
    mempunyai tema perjuanganm percintaan, pendidikan, dan keagamaan.
2. Tokoh dan Penokohan.
3. Latar: (1) latar tempat; (2) latar waktu; dan (3) latar keadaan.
4. Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam cerita.
5. Alur adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan membentuk suatu cerita.
6. Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembacanya.
7. Gaya bahasa

Unsur-unsur ekstrinsik sastra Melayu Klasik yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam naskah sastra Melayu Klasik tersebut, di antaranya nilai moral, nilai sosial, nilai agama.

Contoh buku-buku hikayat:
Hikayat Si Miskin, Hikayat Malin Dewa, Hikayat Indera Bangsawan, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seri Rama, Hikayat Pandawa Jaya, Hikayat Sang Boma, Hikayat 1001 Malam, Hikayat Kalilah dan Dimnah, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Panca Tantra, Hikayat Bakhtiar.

Latihan

1.     Tersebut pula perkataan Raja Tunggal ingin melanjutkan pelayarannya ke teluk Serai Tambang untuk menangkap Raja Pertuka serta ke negeri Bandan untuk menghadap Raja Sianggerai. Nakhoda Bahar disuruhnya membawa perahu Raja Badurai Putih ke Tiku Pariaman. Sesampai di negeri Tiku Pariaman, Nakhoda Bahar berbuat khianat. Dikatakannya bahwa Raja Tunggal dibunuh oleh Raja Badurai Putih. Sebelum mangkat, ia berwasiat supaya Nakhoda Bahar menjadi raja dalam negeri dan kawin dengan Putri Gondah Gandariah. Ia juga mengabarkan bahwa ialah yang membunuh dengan Putri Gondah Gandarian. Ia juga mengabarkan bahwa ialah yang membunuh Raja Badurai Putih dan membawa kapalnya kembali.
                                                                                                                                Hikayat Anggun Cik Tunggal
      Amanat yang sesuai dengan kutipan hikayat tersebut adalah….
A. Hindarilah perbuatan yang tercela.
B. Janganlah menjadi seorang pengkhianat.
C. Hendaknya menangkap seseorang sesuai dengan bukti.
D. Kita harus taat atas perintah atasan.
E. Membunuh adalah perbuatan yang tidak baik.
2.     Hatta terkenanglah Putri itu akan kebaikan saudagar itu, dengan berlinang-linang air matanya sambil mengatakan terima kasih. Maka hari pun petanglah, maka datanglah Ishak dengan kudanya. Setelah malam, bersedialah ia akan berangkat. Maka dinantinya, lambat Putri Johan Manikam datang, sebab berkta-kata dengan saudagar, maka Ishak pun mengantuklah matanya lalu tertidur. Seketika lagi hujan rintik-rintik pun turun, serta gelap gulita, sehingga suatu pun tiada yang kelihatan lagi.
Watak Putri Johar Manikam dalam kutipan hikayat tersebut….
A.Tahu berterima kasih
B. Mudah terharu
C. Suka menangis
D. Selalu mengingat kebaikan
E. Sangat emosional
 Maka pada suatu hari baginda pun sedang ramai di hadap oleh segala raja-raja sekalian, maka Si Miskin itu pun datanglah di hadapan Baginda itu. Setelah dilihat orang banyak itu akan si Miskin itu datang dua laki istri dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya, maka orang banyak itu pun ramailah ia tertawa serta mengambil kayu dan batu, habislah bengkak-bengkak, ada yang berdarah, segala tubuhnya itu berlumuranlah dengan darah, maka orang pun gemparlah.
3.   Isi penggalan hikayat tersebut adalah……….
A. Mengungkapkan orang miskin yang tidak tahu sopan santun.
B. Menceritakan raja-raja sedang mengadakan rapat.
C. Menceritakan orang miskin yang diperlakukan semena-mena.
D. Menceritakan orang miskin yang sedang menghada raja.
E. Menggambarkan penyiksaan orana miskin yang tidak tahu tata karma.
4.   Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerita tersebut adalah….
A. Memukul orang hingga berdarah.
B. Orang miskin meminta kepada orang kaya.
C. Menyamakan orang miskin dengan anjing.
D. Menghina orang miskin secara berlebihan.
E. Seorang raja selalu disembah oleh rakyatnya.

     Di antara berbagai-bagai jenis binatang yang di bawah perintah raja singat itu ada dua ekor serigala yang amat bijaksana, seekor bernama Kalilah dan seekor lagi bernama Dimnah. Karena melihat raja tiada pernah keluar-keluar lagi, maka pada suatu hari berkatalah Dimnah kepada Kalilah, ”Hai saudaraku, tahukah engkau apa sebabnya, maka raja kita kelihatan berduka cita tidak keluar-keluar dari tempat seperti sehari-hari?”
5.     Kejadian yang mustahil dalam kutipan tersebut adalah… .
A.    Kalilah dan Dimnah pemimpin yang bijaksana.
B.    Raja yang tidak pernah keluar dari tempatnya
C.    Serigala yang digambarkan bersifat bijaksana.
D.    Seorang raja bijaksana, tetapi berduka cita.
E.    Rakyat yang berlebihan memperhatikan rajanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar