Follow by Email

Sabtu, 24 Maret 2012

muhasabah

Bagaimana mungkin seorang murid beranggapan bahwa apa yang dilakukan guru kepada siswanya adalah karena sang siswa telah membayar dalam jumlah tertentu. Bagaimana mungkin ia mengukur ilmu dan pengorbanan gurunya dengan sejumlah uang. Toh, anggapan seperti ini ada. Andai guru telah mengukur pekerjaannya yang penuh pengorbanan itu dengan gaji yang ia terima maka hancur binasalah dunia pendidikan seperti binasanya sebuah negeri yang dilanda badai besar: porak poranda.

Benar bahwa guru menerima sejumlah uang sebagai gaji. Namun, ketika ia berbuat apa pun untuk kepentingan siswanya, agar siswanya pandai, cerdas, beriman, berakhlak mulia, sungguh ia telah dan harus melupakan sejumlah uang tadi. Bahkan guru terbaik adalah ia melupakan kepentingan dunia ini ketika ia berbuat yang terbaik untuk siswanya. Sang guru teladan hanya memikirkan bahwa Allah pasti akan membalas dengan balasan yang jauh lebih baik daripada apa yang ia lakukan untuk siswanya.

Tahukah dirimu murid-muridku, apakah yang didapatkan Bapak  Ibu Guru ketika segala keberhasilan yang ia angankan untuk siswanya telah diraih oleh sang murid? Bapak Ibu Guru bahagia. Babak Ibu Guru bahagia, meneteskan air mata keharuan, walau kadang tidak ditampakkan.

Lalu bagaimana dirimu begitu tega mengukur perbuatan gurumu dengan sesuatu. Tidak Nak, apa yang Bapak Ibu Guru lakukan, jika ikhlas, tidak bisa diukur dengan dunia ini dan seluruh isinya. Ibu camkan ini kepadamu agar bisa engkau pahami dan mengubah persepsi salah yang tak menemukan jawaban yang benar.
 Lalu bagaimana bisa dirimu :
·         Menunjukkan keangkuhan dan menantang, katakanlah bahwa Bapak Ibu guru masih muda usia, dll.
·         Tidak menegur ketika berpapasan di mana pun, terlebih di luar sekolah. Akal sehat mana yang bisa memahami bahwa seorang anak tidak menegur orang tuanya ketika ia bertemu dengannya. Tapi demikianlah kenyataan yang banyak terjadi.
Adab siswa kepada gurunya adalah ia harus senantiasa merendahkan sayapnya, senantiasa merendahkan dirinya, memuliakan gurunya. Sepatah kalimat yang kemudian berguna bagimu untuk duniamu terlebih akhiratmu yang engkau dapat dari gurumu, jauh lebih berguna dari apa pun, lebih berharga dari emas seberat gunung.
Sepatah kalimat yang engkau pahami dari gurumu yang bisa menyelamatkanmu dari panasnya api neraka, tak ada sesuatu yang bisa membalasnya. Pengajaran yang bisa mengantarkanmu ke pintu surga, tak ada sesuatu dari dunia ini yang pantas sebagai bayarannya.
Sekarang, masih adakah sebuah saja alasan yang akan engkau kemukakan yang dengannya kamu akan merendahkan, tidak memuliakan gurumu.

Perlu kalian ketahui, ulama-ulama terdahulu dari umat Islam telah menuliskan dalam kitab-kitab mereka bahwa guru lebih besar jasanya daripada pihak lain kepada seseorang, pun dari orang tua sendiri.

Benar, benar bahwa:
·         Bapak ibu guru masih sering marah, masih harus melatih bersabar untuk segudang ulahmu.
·         Bapak ibu guru harus lebih sayang, harus lebih mampu memberi teladan, harus lebih pintar.
·         Dan lain kekurangan yang belum mampu untuk sepenuhnya menyenangkan hatimu.
Kesempurnaan adalah idaman semua orang, walau semua juga tahu bahwa kesempurnaan itu tak akan pernah dimiliki makhluk mana pun, ia hak mutlak Sang Pencipta.

Tentu saja bapak ibu guru banyak salah. Pada kesempatan ini, ibu mewakili seluruh guru meminta maaf pada kalian dan orang tua kalian atas segala kelemahan dan kekurangan yang membuat kami masih belum mampu memberikan yang terbaik. Doakan agar bapak ibu guru lebih baik, lebih ikhlas pada masa yang akan datang.

Ya Allah, bimbinglah anak-anak kami kepada jalan hidayah-Mu. Teguhkan kakinya pada jalan-jalan kebaikan. Jauhkan ia dari maksiat dan pergaulan yang menghancurkan diri dan masa depannya. Jadikan mereka pejuang-pejuang pilih tanding di jalan kemuliaan-Mu. Mudahkan ia dalam mencari ilmu  pengetahuan untuk kejayaan Islam dan umatnya.
Amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar