Selasa, 27 Maret 2012

Klausa


Klausa
Klausa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas S–P baik disertai
O, PEL, dan KET maupun tidak. Dengan ringkas, klausa ialah S P (O)
(PEL) (KET). Tanda kurung menandakan bahwa yang terletak dalam
kurung itu bersifat manasuka, artinya boleh ada, boleh juga tidak ada.
Contoh:
Ketika orang-orang mulai menyukai ayam bekisar, Edwin sudah
memelihara untuk dijual di pasaran.
Kalimat di atas terdiri dari empat klausa, yaitu:
1. (ketika) orang-orang mulai (S–P);
2. menyukai ayam bekisar (P–O);
3. Edwin sudah memelihara (S–P); dan
4. untuk dijual di pasaran (P–Ket.).
A. Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frasa
Perhatikan kalimat di bawah ini!
Toni belum sempat mengunjungi kakeknya kemarin.
Klausa kalimat tersebut jika dianalisis secara fungsional, hasilnya
sebagai berikut.
Toni belum sempat mengunjungi kakeknya kemarin
S P O1 KET
N V N Ket.
Toni belum sempat mengunjungi kakeknya kemarin
Frasa P O1 KET
Kata V N ADV
Keterangan:
N = Nomina
= kata benda
V = Verba
= kata kerja
ADV = Adverbia
= kata keterangan
B. Klausa Berdasarkan Struktur
Klausa dapat digolongkan berdasarkan tiga dasar.
1. Klausa Berdasarkan Struktur Intern
Unsur inti klausa ialah S dan P. Namun demikian, S sering
kali dihilangkan dalam kalimat luas sebagai akibat penggabungan
klausa dan dalam kalimat jawaban. Klausa yang terdiri atas S dan
P disebut klausa lengkap, sedangkan klausa yang tidak ber-S
disebut klausa tidak lengkap.
Contoh:
1. din tidak masuk sekolah karena din sakit.
Subjek din dalam anak kalimat dapat dihilangkan akibat
penggabungan klausa din tidak masuk sekolah dan din sakit.
2. Sedang bermain-main.
Sebagai jawaban pertanyaan Anak-anak itu sedang apa?
Klausa dibagi menjadi dua macam, yaitu klausa lengkap dan
klausa tidak lengkap. Klausa lengkap, berdasarkan struktur
internnya, dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu klausa
lengkap yang S-nya terletak di depan P, dan klausa lengkap yang
S-nya terletak di belakang P. Klausa yang S-nya terletak di depan
P disebut klausa lengkap susun biasa. Klausa lengkap yang S-nya
terletak di belakang P disebut klausa lengkap susun balik atau
klausa inversi.
Contoh:
Klausa lengkap susun biasa
Klausa lengkap susun balik
S P Ket.
daun pohon itu
para siswa
sangat rimbun
masuklah ke ruang kelas
a.
b.
P S Ket.
sangat rimbun
masuklah
daun pohon itu
para siswa ke ruang kelas
c.
d.
Klausa tidak lengkap sudah tentu hanya terdiri atas unsur P,
disertai O, PEL, atau KET.
Contoh:
e. sedang bermain-main
f. menulis surat
g. telah berangkat ke Jakarta
Klausa e terdiri atas P, klausa f terdiri atas P diikuti O, dan klausa
g terdiri atas P diikuti KET.
2. Klausa Berdasarkan Ada Tidaknya Kata Negatif yang secara
Gramatik Menegatifkan P
a. Klausa Positif
Klausa positif ialah klausa yang tidak memiliki kata
negatif yang secara gramatik menegatifkan P.
Contoh:
1) Mereka diliputi oleh perasaan senang.
2) Mertua itu sudah dianggap sebagai ibunya.
b. Klausa Negatif
Klausa negatif ialah klausa yang memiliki kata-kata
negatif yang secara gramatik menegatifkan P. Kata-kata
negatif itu ialah tiada, tak, bukan, belum, dan jangan.
Contoh:
1) Orang tuanya sudah tiada.
2) Yang dicari bukan dia.
3. Penggolongan Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frasa yang
Menduduki Fungsi P
P mungkin terdiri atas kata atau frasa golongan N, V, Bil,
dan FD. Berdasarkan golongan atau kategori kata atau frasa yang
menduduki fungsi P, klausa dapat digolongkan menjadi empat
golongan.
a. Klausa Nominal
Klausa nominal ialah klausa yang P-nya terdiri atas kata
atau frasa golongan N.
Contoh:
1) Ia guru.
2) Yang dibeli orang itu sepeda.
Kata golongan N ialah kata-kata yang secara gramatik
mempunyai perilaku sebagai berikut.
1) Pada tataran klausa dapat menduduki fungsi S, P, dan O.
2) Pada tataran frasa tidak dapat dinegatifkan dengan kata
tidak, melainkan dengan kata bukan, dapat diikuti kata itu
sebagai atributnya, dan dapat mengikuti kata depan di
atau pada sebagai aksisnya.
b. Klausa Verbal
Klausa verbal ialah klausa yang P-nya terdiri atas kata
atau frasa golongan V.
Contoh:
1) Petani mengerjakan sawahnya dengan tekun.
2) Dengan rajin, bapak guru memeriksa karangan murid.
Kata golongan V ialah kata yang pada tataran klausa
cenderung menduduki fungsi P dan pada tataran frasa dapat
dinegatifkan dengan kata tidak. Misalnya kata-kata berdiri,
gugup, menoleh, berhati-hati, membaca, tidur, dan kurus.
Berdasarkan golongan kata verbal itu, klausa verbal dapat
digolongkan sebagai berikut.
1) Klausa verbal adjektif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata golongan V yang
termasuk golongan kata sifat atau terdiri atas frasa
golongan V yang unsur pusatnya berupa kata sifat.
Contoh:
a) Udaranya panas sekali.
b) Harga buku sangat mahal.
2) Klausa verbal intransitif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja intransitif atau terdiri atas frasa
verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja intransitif.
Contoh:
a) Burung-burung beterbangan di atas permukaan air laut.
b) Anak-anak sedang bermain-main di teras belakang.
3) Klausa verbal aktif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja transitif atau terdiri atas frasa
verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja transitif.
Contoh:
a) Arifin menghirup kopinya.
b) Ahmad sedang membaca buku novel.
4) Klausa verbal pasif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja pasif atau terdiri atas frasa verbal
yang unsur pusatnya berupa kata kerja pasif.
Contoh:
a) Tepat di muka pintu, aku disambut oleh seorang
petugas.
b) Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR untuk
jangka waktu lima tahun.
5) Klausa verbal yang refleksif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja refleksif, yaitu kata kerja yang
menyatakan perbuatan yang mengenai pelaku perbuatan
itu sendiri. Pada umumnya kata kerja ini berbentuk
kata kerja meN- diikuti kata diri.
Contoh:
a) Anak-anak itu menyembunyikan diri.
b) Mereka sedang memanaskan diri.
6) Klausa verbal yang resiprokal
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja resiprokal, yaitu kata kerja
yang menyatakan kesalingan . Bentuknya ialah (saling)
meN-, saling ber-an dengan proses pengulangan atau tidak
dan saling meN-.
Contoh:
a) Pemuda dan gadis itu berpandang-pandangan.
b) Mereka saling memukul.
c. Klausa Bilangan
Klausa bilangan atau klausa numeral ialah klausa yang P-nya
terdiri atas kata atau frasa golongan bilangan.
Contoh:
1) Roda truk itu ada enam.
2) Kerbau petani itu hanya dua ekor.
Kata bilangan ialah kata-kata yang dapat diikuti oleh kata
penyukat. rang, ekor, batang, keping, buah, kodi, helai, dan masih
banyak lagi. Misalnya kata satu, dua, dan seterusnya; kedua,
ketiga, dan seterusnya; beberapa, setiap, dan sebagainya; sedangkan
frasa bilangan ialah frasa yang mempunyai distribusi yang
sama dengan kata bilangan, misalnya dua ekor, tiga batang, lima
buah, setiap jengkal, beberapa butir, dan sebagainya.
4. Klausa Depan
Klausa depan atau klausa preposisional ialah klausa yang Pnya
terdiri atas frasa depan, yaitu frasa yang diawali oleh kata
depan sebagai penanda.
Contoh:
a. Kredit itu untuk para pengusaha lemah.
b. Pegawai itu ke kantor setiap hari.
Dalam kalimat tertentu, klausa memiliki dua bagian, yakni
klausa induk (induk kalimat) dan klausa subordinatif (anak
kalimat). Keberadaan klausa induk dan klausa anak ini mensyaratkan
konstruksi tataran sintaksis yang lebih besar.
Perhatikan contoh berikut ini!
Ana pergi pada pukul 06.00 ketika saya sedang mandi.
klausa induk klausa anak
Penggabungan klausa induk dan klausa anak berarti klausa
tersebut memasuki tahap struktur kalimat. Penghubungan
antarklausa ini mensyaratkan kehadiran konjungsi (kata
sambung). Dilihat dari perilaku sintaksisnya dalam kalimat,
konjungsi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu konjungsi
koordinatif (dan, serta, atau, tetapi, . . .); konjungsi korelatif (baik
. . . maupun . . .; entah . . . entah . . .; tidak hanya . . ., tetapi juga . . .;
. . .); konjungsi subordinatif (sejak, karena, setelah, seperti, agar, dengan,
. . . .); dan konjungsi antarkalimat (meskipun demikian begitu,
kemudian, oleh karena itu, bahkan, lagi pula, . . .).
Contoh:
a. Dia menangis dan istrinya pun tersedu-sedu.
b. Entah disetujui entah tidak, dia tetap akan mengusulkan
gagasannya.
c. Narto harus belajar giat agar naik kelas.
d. 1) Kami tidak sependapat dengan dia. Kami tidak akan
menghalanginya.
2) Kami tidak sependapat dengan dia. Biarpun begitu, kami
tidak akan menghalanginya.
Konjungsi-konjungsi itu dapat menghubungkan kata, frasa,
ataupun klausa. Dalam hubungannya dengan kata dan frasa,
bentuk konjungsi bertindak sebagai preposisi. Dalam hubungannya
dengan klausa, bentuk konjungsi bertindak sebagai murni
konjungsi. Dengan demikian, kalimat frasa dan klausa pun dapat
diidentifikasi.
Contoh:
Ibu tidak berbelanja karena uangnya habis.
frasa konjungsi klausa
klausa
�������������� ������ ��������������
������������������
Klausa Ibu tidak berbelanja sebagai klausa induk dan klausa
uangnya habis sebagai klausa anak. Konjungsi karena sebagai
konjungsi subordinatif-sebab yang menghubungkan dua klausa
atau lebih dengan status sintaksis tidak sama. Jadi, ada klausa
induk dan klausa anak.
Sumber: Sintaksis, Ramlan, 1997, Yogyakarta, Karyono

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar