Follow by Email

Sabtu, 24 Maret 2012

Rembulan di Mata ibu: Sebuah Ulasan


Rembulan di Mata ibu: Sebuah Ulasan
       Diah terlalu perasa. Perkataan ibunya yang biasa-biasa saja dianggapnya pedas, tajam, atau kasar. Ibunya berkata, “Jadi perempuan jangan terlalu sering melamun Diah! Bekerja, itu akan membuat tubuhmu kuat!” Perkataan seperti ini dipandang Diah dengan pandangan negatif. Padahal, ada nilai positif dalam ucapan ibunya itu.

Padahal, saat itu aku sama sekali tidak menganggur. Sebuah buku berada di pangkuanku. Tapi, Ibu tak pernah menghargai kesukaanku membaca. Di mata beliau, itu hanyalah kegiatan tak berguna yang tak menghasilkan.

       Diah tidak mesti kesal dengan persepsi ibunya tentang buku karena dalam pengalaman ibunya konsep buku mungkin memang tidak ada. Menurut ibunya, kerja keraslah yang bisa membuat orang berhasil menaklukkan tantangan hidup ini, bukan buku atau membaca. Jelas, anggapan ini ada salahnya, tetapi Diah tidak harus kesal pada ibunya. Seharusnya ia menunjukkan akhlak yang baik dan kalau bisa memberikan penjelasan yang bisa dimengerti ibunya. Kalau hari ini ibunya belum memahami, esok, esok, dan esoknya lagi ia harus mencobanya dengan tidak kenal putus asa.

Di waktu yang lain Ibu mengecam kebiasaanku rapat dengan para pemuda desa. Ibu sama sekali tak mau mengerti kalau rapat-rapat yang kulakukan bukan tanpa tujuan. Kalau kami, anak-anak muda yang berkumpul di sana sedang mencoba menyumbangkan pemikiran untuk kemajuan desa. Bagi wanita sederhana itu, mengahalau ternak lebih berguna daripada bicara panjang lebar, dan adu pendapat.


Tak ada salahnya ibu memperingatkan Diah ketika ia berkumpul dengan para pemuda karena memang tidak baik, sangat tidak baik, gadis berkumpul dengan pemuda dengan alasan apa pun, paling tidak hampir untuk seluruh kondisi. Kalau ia mau menyumbangkan sesuatu untuk kemajuan desanya, masih banyak cara lain. Dengan jalan perkumpulan sesama wanita, mungkin.

Jelas terkesan Diah mencari-cari kesalahan ibunya agar ia bisa membencinya. Lebih tepatnya lagi penulis mencari-cari kesalahan tokoh ibu agar ia bisa membuat tokoh sang anak benci kepada ibunya.  Kesalahan-kesalahan kecil kemudian direspon dengan besar.  Kesalahan kemudian ditumpukan kepada sang ibu, tanpa mau melihat sebenarnya kesalahan juga berada pada diri sang anak. Bahkan, kesalahan itu lebih besar pada sang anak yang menampakkan kedurhakaan kepada ibunya. Ibu yang membanting tulang seorang diri membesarkan anak-anaknya.

Diah adalah tokoh seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Ia melawan kepada ibunya di dalam hatinya.

Akan tetapi, kalimat itu hanya kutelan dalam hati. Tak satu pun ku muntahkan
di hadapannya.

Pada bagian tengah cerita sampailah  Diah pada puncak kedurhakaannya. Ia perang mulut dengan ibunya.

Kutatap mata Ibu dengan sikap menantang. Suaraku bergetar saat berkata-kata
padanya.
“Seharusnya Ibu bangga padaku! Seharusnya Ibu menyemangati, bukan malah
terus-terusan mengejekku, Bu! Sekarang Diah tahu kenapa Bapak meninggalkan Ibu!’
kataku berani.
Di depanku, Ibu mentap mataku tajam. Matanya diliputi kemarahan atas
kelancanganku.
“Kenapa Bapak meninggalkan Ibumu? Ayo jawab, kenapa?!!!”
Sia-sia usaha mbak-mbakku yang lain untuk mengerem mulutku. Dalam
kelarahan, kulontarkan luka yang mungkin akan melekat selamanya di hati Ibu.
“Karena Ibu picik! Itu sebabnya!”
Kubanting pintu kamarku dan mengurung diri semalaman. Menangis. Batinku
puas, telah kukatakan apa yang menurtku harus didengar Ibu.


Harus diakui bahwa ibu juga memiliki banyak kekurangan. Terutama tampak pada sempitnya wawasan sebagai akibat dari rendahnya tingkat pendidikan.

Sifat buruk yang ditampakkan Diah pada ibunya tidak boleh ditiru. Sifat ini biasanya dimiliki oleh pemuda/pemudi seusia Diah tersebut yang  juga sempit cara pandangnya, dan memiliki wawasan keimanan yang kurang.

Pada bagian akhir cerita akhirnya terbukti bahwa Diah memang telah salah tanggap tentang ibunya. Ia memandang bahwa ibunya benci kepadanya. Padahal, iabunya sangat sayang  kepadanya.

Tokoh Diah adalah seorang remaja yang banyak tampak pada masa sekarang. Seorang remaja yang tidak sopan kepada orang tua, meremehkan orang tua karena rendahnya pendidikan orang tua dan telah tingginya pendidikan mereka. Secara umum Diah tidak pantas ditiru berkenaan dengan sikapnya kepada ibunya. Kalau cerpen ini adalah sebuah pelajaran maka tokoh Diah dalam berkenaan dengan muamalahnya dengan ibunya, ia tidak pantas diteladani.

Dalam aspek lain cerita ini masih memiliki hikmah yang bisa menambah kekayaan jiwa pembaca. Yaitu betapa seorang anak sebenarnya telah salah persepsi kepada orang tuanya. Sang anak hanya mampu menanggapi hal yang tampak dari sikap orang tuanya. Sang anak cenderung selalu negatif merespon  tindakan orang tuanya. Terbukti bahwa hal ini salah, dan di lain waktu ia harus banyak berpikir positif tentang orang tuanya.

Itu karena Ibu tak ingin kau terluka. Ibu tak ingin kau kecewa. Itu sebabnya Ibu
tak pernah memujimu. Kau harus punya hati sekeras baja untuk menapaki hidup. Ibu
ingin anak bungsu Ibu menjadi sosok yang berbeda. Seperti rembulan merah jambu,
bukan kuning keemasan seperti yang kita lihat.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar