Senin, 26 Maret 2012

Kalimat Efektif


Kalimat Efektif

Kalimat yang baik pertama sekali haruslah memenuhi persyaratan gramatikal. Hal ini berarti kalimat itu harus disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku. Kaidah-kaidah tersebut meliputi: (1) unsur-unsur penting yang harus dimiliki setiap kalimat, (2) aturan-aturan tentang Ejaan Yang Disempurnakan, (3) cara memilih kata dalam kalimat (diksi).
Kelengkapan unsur sebuah kalimat sangat menentukan kejelasan sebuah kalimat. Oleh sebab itu sebuah kalimat harus memiliki paling kurang subjek dan predikat. Kalimat yang lengkap ini harus ditulis sesuai aturan Ejaan Yang Disempurnakan. Kata-kata yang dipergunakan  dalam membentuk kalimat tadi haruslah dipilih dengan tepat. Dengan demikian kalimat menjadi jelas maknanya.
Kalimat yang benar dan jelas maknanya akan dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. Kalimat yang seperti inilah yang disebut kalimat efektif. Sebuah kalimat efektif harus mempunyai kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau pembicara. Hal ini berarti kalimat efektif haruslah disusun secara sadar  untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis terhadap pembacanya. Bila hal ini tercapai diharapkan pembaca akan tertarik kepada apa yang dibicarakan dan tergerak hatinya oleh apa yang disampaikan itu.
Karakteristik yang harus dipenuhi kalimat efektif adalah :
(1) kesepadanan dan kesatuan
(2) kesejajaran bentuk
(3) penekanan
(4) kehematan dalam mempergunakan kata
(5) kevariasian dalam struktur kalimat

1.    Kesepadanan dan Kesatuan
Syarat pertama kalimat efektif mempunyai struktur yang baik. Artinya, kalimat itu harus memiliki unsur-unsur subjek dan predikat, atau bisa ditambah denga objek, keterangan. Semua unsur itu melahirkan keterpaduan arti yang merupakan ciri keutuhan kalimat.
 Misalnya Andai ingin mengatakan:
(1) Imran Abdurrahman membaca Alquran di kamarnya.
Kalimat ini jelas maknanya. Hubungan antara unsur subjek (Imran Abdurrahman) dengan predikat (membaca), dan antara predikat dengan objek (Alquran) dan keterangan (di kamarnya) merupakan kesatuan bentuk  yang membentuk kesatuan makna.

Akan menjadi lain jika kata-kata itu diubah susunannya menjadi:
(2) Membaca Alquran di kamarnya Imran Abdurrahman.
(3) Di kamarnya Alquran membaca Imran Abdurrahman.
(4) Alquran membaca Imran Abdurrahman di kamarnya.
Kalimat-kalimat di atas kabur maknanya karena fungsi kata-katanya tidak jelas.

1.1.   Subjek dan Predikat
Kalimat sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat. Subjek dalam sebuah kalimat merupakan unsur inti atau pokok pembicaraan.
Perhatikan kalimat-kalimat berikut:
(1) Hasan Albana mendirikan Ikhwanul Muslimin dengan kerja keras penuh keikhlasan.
(2) Sabiq Khairi Yura mencintai kebaikan untuk mencari rida Allah SWT.
(3) Yura Publishing Company membuka cabangnya di Cina.
(4) Ibrahim sangat berbakti kepada bundanya.
(5) Masyarakat Gunung Pangilun dihantui bahaya tsunami.

Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat yang jelas fungsi masing-masing katanya. Kata-kata berhuruf miring berfungsi sebagai subjek.

Predikat dalam kalimat adalah kata yang berfungsi memberitahukan apa, mengapa, atau bagaimana subjek itu.

Perhatikan kalimat berikut ini dan bandingkan dengan kalimat nomor (1) sampai dengan (5) di atas!
(6) Kepada  siswa SMA IT Mutiara segera memasuki kelas masing-masing!
(7) Di dalam keputusan Abiq untuk berdakwah di pedalaman Kalimantan mengandung nilai-nilai keimanan yang tinggi.
(8) Pada Kegiatan Hari Bahasa yang diadakan SMA IT Mutiara mengundang SMA dan SMP se-Kecamatan Mandau dan Pinggir.

Apakah ketiga kalimat di atas baik atau tidak dapat kita periksa yang manakah predikatnya. Menentukan predikat tidaklah sulit karena predikat biasanya dinyatakan dalam bentuk kata kerja yaitu: memasuki (kalimat 6), mengandung (kalimat 7), dan mengundang (kalimat 8).
Sekarang kita cari subjek kalimat-kalimat tersebut. Apa atau siapa yang memasuki, yang mengandung, dan yang mengundang? Jawabannya adalah siswa SMA IT Mutiara, keputusan Abiq untuk berdakwah di pedalaman Kalimantan, dan Kegiatan Hari Bahasa yang diadakan SMA IT Mutiara.
Akan tetapi karena kata-kata itu didahului oleh partikel kepada, di dalam, dan pada, maka kata-kata itu tidak dapat berfungsi sebagai subjek. Kata-kata kepada, di dalam, dan pada, pada kalimat di atas harus dihilangkan agar subjeknya menjadi jelas dan keseluruhan kalimat menjadi padu.

(9) Siswa SMA IT Mutiara segera memasuki kelas masing-masing!
(10)  Keputusan Abiq untuk berdakwah di pedalaman Kalimantan mengandung nilai-nilai keimanan yang  
   tinggi.
(11)  Kegiatan Hari Bahasa yang diadakan SMA IT Mutiara mengundang SMA dan SMP se-Kecamatan  
   Mandau dan Pinggir.

Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut!
(1) Mujahidin yang mengorbankan nyawanya
(2) Dana untuk membantu duafa

Kata-kata kerja dalam pernyataan di atas tidak dapat menduduki fungsi predikat karena di muka kata kerja itu terdapat partikel yang, untuk.  Pernyatan-pernyataan di atas bukan kalimat karena tidak memiliki predikat. Pernyataan-pernyataan di atas baru menjadi kalimat jika ditambahkan dengan kata-kata yang berfungsi sebagai predikat.
(1) Mujahidin yang mengorbankan nyawanya mendapat pahala mati syahid.
(2) Dana untuk membantu duafa itu telah diserahkan kepada yang berhak.

Kata-kata bercetak miring dalam kalimat di atas berfungsi sebagai predikat.

1.2 Kata Penghubung Intrakalimat dan Antarkalimat
Kata penghugung yang menghubungkan  kata dengan kata dalam sebuah frase atau menghubungkan klausa dengan klausa di dalam sebuah kalimat disebut konjungsi intrakalimat.
Contoh:
(1) Kami semua bekerja keras, sedangkan dia hanya ongkang-ongkang kaki.
(2) Proyek ini akan berhasil jika semua anggota bekerja dengan ikhlas.

Struktur kalimat (1) memiliki perbedaan dengan kalimat (2).  Kalimat (1) urutan klausa tidak dapat dipertukarkan, sehingga kita tidak dapat meletakkan konjungsi sedangkan di awak kalimat. Sebaliknya kaliamt (2) urutan klausanya dapat dipertukarkan, sehingga kita dapat menempatkan konjungsi jika pada awal kalimat.
Kalimat (1) disebut kalimat majemuk setara dan kalimat (2) disebut kalimat majemuk bertingkat. Pada kalimat majemuk setara  tempat konjungsi adalah di antara kedua klausa, sedangkan pada kalimat majemuk bertingkat di muka klausa yang menjadi anak kalimat.
Dengan demikian kalimat berikut tidak bisa diterima.
(3) Dan dia belum memberi keputusan.
(4) Kalau semua orang mematuhi peraturan.

Konjungsi antarkalimat yaitu konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah paragraf.
(5) Dia sudah berkali-kali tidak menepati janjinya kepadaku. Karena itu, aku tidak dapat memercayainya lagi.
(6) Sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang. Dengan demikian pendidikan dapat terlaksana dengan baik.

Frase karena itu pada kalimat (5) dan dengan demikian pada kalimat (6) adalah konjungsi antarkalimat.


1.3  Gagasan Pokok
Gagasan pokok terletak pada awal kalimat. Jika hendak menggabungkan dua buah kalimat, penulis harus menentukan bahwa kalimat yang menjadi gagasan pokok terletak di awal kalimat.
Perhatikan contoh berikut:
(1) Ia ditembak mati ketika masih dalam tugas militer.
(2) Ia masih dalam tugas militer ketika ditembak mati.
Gagasan pokok dalam kalimat (1) adalah Ia ditembak mati, kalimat (2) Ia masih dalam tugas militer.


1.4  Penggabungan dengan ”yang”, ”dan”
Jika dua kalimat digabungkan dengan kata penghubung dan, maka hasilnya kalimat majemuk setara. Jika dua kalimat digabungkan dengan kata penghubung yang, maka hasilnya adalah kalimat majemuk bertingkat.
Perhatikan contoh berikut:
(1) Masyarakat merasakan bahwa mutu pendidikan kita masih rendah.
(2) Perbaikan mutu pendidikan adalah tugas utama perguruan tinggi.
Kedua kalimat di atas mempunyai gagasan pokok yang sama penting. Penggabungan yang efektif untuk keduanya adalah dengan kata penghubung dan.
(3) Masyarakat merasakan bahwa mutu pendidikan kita masih rendan dan perbaikannya adalah tugas utama perguruan tinggi.
Perhatikan contoh berikut:
(4) Kongres lingkungan hidup diadakan di Kota Padang.
(5) Kongres itu membicarakan masalah pembuangan limbah ke laut oleh negara-negara industri maju.
Kedua kalimat di atas dapat digabung dengan kata penghubung yang.
(6) Kongres lingkungan hidup yang diadakan di Kota Padang membicarakan masalah pembuangan limbah ke laut oleh negara-negara industri maju.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar