Tuesday, March 27, 2012

Membedakan dan Melafalkan Fonem Bahasa Indonesia


Membedakan dan Melafalkan Fonem Bahasa Indonesia

Dua orang teman Anda akan membacakan dialog. Dengarkan
pengucapan vokal dan konsonan dalam dialog berikut!
Ari : ”Nur, jangan lupa esok kamu bawa spidol dan gunting, ya.”
Nuri : ”Buat apa, Ri?”
Ari : ”Esok kita buat majalah dinding.”
Nuri : ”O . . . iya, aku hampir lupa. Baiklah, aku bawa alat-alat itu.”
Apa perbedaan pengucapan vokal dan konsonan dalam dialog tersebut?

Perbedaan Vokal dan Konsonan
Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas vokal, konsonan, dan semivokal.
Perbedaan antara vokal dan konsonan didasarkan pada ada atau
tidaknya hambatan (proses artikulasi) pada alat bicara. Agar lebih jelas,
Anda dapat melihat tabel berikut.


Vokal
– Bunyi yang tidak disertai
hambatan pada alat bicara.
Hambatan hanya terdapat
pada pita suara.
– Tidak terdapat artikulasi.
– Semua vokal dihasilkan
dengan bergetarnya pita
suara. Dengan demikian,
semua vokal adalah bunyi
suara.

Konsonan
– Bunyi yang dibentuk dengan
menghambat arus udara pada
sebagian alat bicara.
– Terdapat artikulasi.
– Konsonan bersuara adalah
konsonan yang dihasilkan
dengan bergetarnya pita
suara. Konsonan tidak bersuara
adalah konsonan yang
dihasilkan tanpa bergetarnya
pita suara.


Vokal
Bunyi vokal dibedakan berdasarkan posisi tinggi rendahnya lidah,
bagian lidah yang bergerak, struktur, dan bentuk bibir. Dengan demikian,
bunyi vokal tidak dibedakan berdasarkan posisi artikulatornya karena
pada bunyi vokal tidak terdapat artikulasi. Artikulator adalah bagian alat
ucap yang dapat bergerak. Klasifikasi vokal sebagai berikut.
1.    Vokal berdasarkan tinggi rendahnya posisi lidah.

3. Vokal berdasarkan posisi strukturnya
Struktur adalah keadaan hubungan posisional artikulator aktif dan
artikulator pasif. Artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak
menuju alat ucap yang lain saat membentuk bunyi bahasa. Artikulator
pasif adalah alat ucap yang dituju oleh artikulator aktif saat membentuk
bunyi bahasa.
Dalam bunyi vokal tidak terdapat artikulasi, maka struktur untuk
vokal ditentukan oleh jarak lidah dengan langit-langit. Menurut
strukturnya, vokal dapat dibedakan seperti uraian berikut.
a. Vokal tertutup (close vowels) yaitu vokal yang dibentuk dengan
lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit. Vokal
tertutup antara lain [ i ], [ u ].
b. Vokal semitertutup (half-close) yaitu vokal yang dibentuk dengan
lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga di bawah tertutup atau
dua per tiga di atas vokal terbuka. Vokal semitertutup antara lain
[ e ], [ o ], [ I ], [ U ].
c. Vokal semiterbuka (half-open) yaitu vokal yang dibentuk dengan
lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga di atas terbuka atau
dua per tiga di bawah vokal tertutup. Vokal semiterbuka antara
lain [ a ], [ 􀁈 ], [ c ].

d. Vokal terbuka (open vowels) yaitu vokal yang dibentuk dengan
lidah dalam posisi serendah mungkin. Vokal terbuka adalah [ a ].
4. Vokal berdasarkan bentuk bibir saat vokal diucapkan.


Bunyi vokal dapat diucapkan dengan memanjangkan atau
memendekkan vokal tersebut. Pemanjangan dan pemendekan pengucapan
vokal dapat mengubah maksud pembicaraan. Pemanjangan vokal diberi
tanda [ . . . ] di atas bunyi yang dipanjangkan atau tanda [ . . . : ] di samping
kanan bunyi yang dipanjangkan.
Contoh:
Frasa tatap muka [ t a t a p ] [ m u k a ] bila vokal [ u ] dilafalkan pendek
maka akan bermakna bertemu . Namun, jika vokal [ u ] dilafalkan
memanjang [ t a t a p ] [ m u : ] [ k a ] maka akan menimbulkan makna
menatapmu dan bunyi [ k a ] seakan-akan menghilang.
Dalam kehidupan sehari-hari pemanjangan dan pemendekan vokal
jarang ditemui. Pemanjangan dan pemendekan vokal biasa ditemui dalam
dunia hiburan, seperti pada dagelan atau acara humor dan komedi.
Konsonan
Konsonan dibedakan menurut:
1. cara hambat (cara artikulasi) atau cara pengucapannya;
2. tempat hambat (tempat artikulasi);
3. hubungan posisional antara penghambat-penghambat atau hubungan
antara artikulator pasif; dan
4. bergetar tidaknya pita suara.
Klasifikasi konsonan berdasarkan cara pengucapan atau cara artikulasi
seperti uraian berikut.

1. Konsonan Hambat Letup (Stops, Plosives)
Konsonan hambat letup ialah konsonan yang terjadi dengan
hambatan penuh arus udara. Kemudian, hambatan itu dilepaskan
secara tiba-tiba. Berdasarkan tempat artikulasi, konsonan hambat letup
dibedakan seperti berikut.
a. Konsonan hambat letup bilabial. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya bibir atas.
Bunyi yang dihasilkan [ p, b ].
b. Konsonan hambat letup apiko-dental. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya ujung lidah dan artikulator pasifnya gigi atas.
Bunyi yang dihasilkan [ t, d ].
c. Konsonan hambat letup apiko-palatal. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya ujung lidah dan artikulator pasifnya langitlangit
keras (langit-langit atas). Bunyi yang dihasilkan [ t , d ]. [ t ]
ditulis th sedangkan [ d ] ditulis dh.
d. Konsonan hambat letup medio-palatal. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya langitlangit
keras. Bunyi yang dihasilkan [ c, j ].
e. Konsonan hambat letup dorso-velar. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langitlangit
lunak (langit-langit bawah). Bunyi yang dihasilkan
[ k, g ].
f. Konsonan hamzah. Konsonan ini terjadi dengan menekan rapat
yang satu terhadap yang lain pada seluruh pita suara, langit-langit
lunak beserta anak tekak di tekan ke atas sehingga arus udara
terhambat beberapa saat. Bunyi yang dihasilkan [ ? ].

2. Konsonan Nasal (Sengau)
Konsonan nasal (sengau) ialah konsonan yang dibentuk dengan
menghambat rapat (menutup) jalan udara dari paru-paru melalui rongga
hidung. Bersama dengan itu langit-langit lunak beserta anak tekaknya
diturunkan sehingga udara keluar melalui rongga hidung. Berdasarkan
tempat artikulasinya, konsonan nasal dibedakan sebagai berikut.
a. Konsonan nasal bilabial. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya bibir atas. Nasal
yang dihasilkan [ m ].
b. Konsonan nasal medio-palatal. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras.
Nasal yang dihasilkan ialah [ ñ ].
c. Konsonan nasal apiko-alveolar. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya ujung lidah dan artikulator pasifnya gusi. Nasal yang
dihasilkan ialah [ n ].
d. Konsonan nasal dorso-velar. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak.
Nasal yang diberikan [ h ].

3. Konsonan Paduan ( i tes)
Konsonan paduan adalah konsonan hambat jenis khusus. Tempat
artikulasinya ialah ujung lidah dan gusi belakang. Bunyi yang dihasilkan
[ts , d5]. Bunyi [ ts ] ditulis ch sedangkan bunyi [d5] ditulis dg.
4. Konsonan Sampingan ( te ls)
Konsonan sampingan dibentuk dengan menutup arus udara di
tengah rongga mulut sehingga udara keluar melalui kedua samping
atau sebuah samping saja. Tempat artikulasinya ujung lidah dengan
gusi. Bunyi yang dihasilkan [ I ].
5. Konsonan Geseran atau Frikatif
Konsonan geseran atau frikatif adalah konsonan yang dibentuk
dengan menyempitkan jalan arus udara yang diembuskan dari paruparu,
sehingga jalan udara terhalang dan keluar dengan bergeser.
Menurut artikulasinya, konsonan geseran dibedakan sebagai berikut.
a. Konsonan geseran labio-dental. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya gigi atas. Bunyi yang
dihasilkan [ f , v ].
b. Konsonan geseran lamino-alveolar. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktifnya daun lidah (lidah bagian samping) dan ujung
lidah sedangkan artikulator pasifnya gusi. Bunyi yang dihasilkan
[ s , z ].
c. Konsonan geseran dorso-velar. Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak.
Bunyi yang dihasilkan [ x ].
d. Konsonan geseran laringal. Konsonan ini terjadi jika artikulatornya
sepasang pita suara dan glotis dalam keadaan terbuka. Bunyi yang
dihasilkan [ h ].
6. Konsonan Getar ( ills, i ts)
Konsonan getar ialah konsonan yang dibentuk dengan
menghambat jalan arus udara yang diembuskan dari paru-paru secara
berulang-ulang dan cepat. Menurut tempat artikulasinya konsonan
getar dinamai konsonan getar apiko-alveolar. Konsonan ini terjadi jika
artikulator aktif yang menyebabkan proses menggetar adalah ujung
lidah dan artikulator pasifnya gusi. Bunyi yang dihasilkan [ r ].
7. Semivokal
Bunyi semivokal termasuk konsonan. Hubungan antarpenghambat
dalam mengucapkan semivokal adalah renggang terbentang
atau renggang lebar. Berdasarkan hambatannya, ada dua jenis
semivokal sebagai berikut.
a. Semivokal bilabial, semivokal ini terjadi jika artikulator aktifnya
bibir bawah dan artikulator pasif adalah bibir atas. Bunyi yang
dihasilkan adalah bunyi [ w ].
b. Semivokal medio-palatal, semivokal ini terjadi jika artikulator
aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras.
Bunyi yang dihasilkan [ y ].
Sumber: Fonetik, Marsono, 1984, Gadjah Mada University Press