Follow by Email

Senin, 26 Maret 2012

Memandang dari Kacamata Pelacur


Memandang dari Kacamata Pelacur
Sebuah Ulasan atas Buku ”Cantik itu Luka” Karya Eka Kurniawan

I.    Pendahuluan
Memandang yang dimaksudkan dalam judul di atas adalah memandang hidup. Penulis akan mengulas salah satu kesan dominan yang penulis rasakan dalam  Cantik itu Luka (CIL)  yaitu  Eka Kurniawan (EK) berusaha mewujudkan bagaimana sosok dunia/kehidupan ini dari kacamata seorang pelacur. Tentu ia takkan pernah pergi jauh dari pengalamannya sebagai seorang pelacur.


II.   Memandang Hidup
Yang Maha Pencipta, Allah swt., menciptakan kehidupan ini dengan ilmu-Nya dengan hikmah dan tujuan yang benar. 
”Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak….”
                                                            (Q.s. An-Nahl: 3)
Sekecil apa pun peristiwa di alam semesta ini maka ada hikmah yang dalam yang terdapat padanya.
Untuk manusia Allah telah tentukan bahwa:
·                     Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (q.s. Az-Zariyaat: 56).
·                     Manusia jadi khalifah di muka bumi (q.s. Al-Baqarah: 30).

Untuk mengemban tugasnya itu kepada manusia telah diberikan-Nya, a.l.:
·                     Kemuliaan
”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam….”
(Q.s. Al-Isra’: 70)
·                     Bentuk yang paling bagus
”Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(Q.s. At-Tiin: 4)
·                     Semua potensi langit dan bumi adalah untuk manusia
            ”Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu….”
            (Q.s. Al-Baqarah: 29)
              ”Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi  dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.
              (Q.s. Luqman: 20)

Demikianlah pandangan yang benar mengenai kehidupan. Untuk mencapai dan memahami pandangan yang benar ini manusia harus melalui proses. Ia tidak bisa serta-merta langsung memahami. Ia harus giat mengumpulkan pengetahuan yang berasal dari pengalamannya sendiri atau pengalaman orang lain. Pengetahuan yang terus-menerus ia dapat ini harus ia hubung-hubungkan. Usaha ini selangkah demni selangkah akan mengantarkannya pada pemahaman akan tujuan hidup yang telah ditentukan Yang Maha Pencipta.
Tidak ada yang salah dari berbagai pemandangan yang tampak saat Eka Kurniawan (EK) menggunakan pelacur sebagai media pandangan kehidupan dalam Cantik itu Luka (CIL). Pelacur dan kita semua yang harus arif untuk menjadikannya salah satu pengetahuan untuk memahami hakikat hidup ini dengan benar.


III.   Memandang Hidup dari Kacamata Pelacur
Sosok Dewi Ayu mendominasi cerita. Ia tokoh utama. Pusaran peristiwa berkisar mengelilinginya. Ia selalu muncul dan memberikan pengaruh kepada manusia-manusia yang ada dalam cerita.
Sebagai tokoh utama tentu ia punya (banyak) kelebihan. Kelebihan yang paling menonjol adalah kecantikan wajah dan keindahan fisik di samping kelebihan lain: kaya, berpendidikan, dll. Status yang kemudian dibebankan penulis kepada Dewi Ayu adalah pelacur. Ia menjadi pelacur elite dari awal hingga akhir hayatnya. Tak sembarang orang yang meniduri Dewi Ayu. Hanya orang-orang yang punya kelebihan pula (kelebihan uang, keberanian, dll.) yang bisa melakukannya.
Banyak hal-hal menarik yang bisa digali hikmahnya dari  perjalanan hidup Dewi Ayu. Penulis memfokuskan diri kepada pertanyaan: Bagaimanakah Dewi Ayu melihat kehidupan ini?
Sebagai seorang pelacur yang matang, ia punya pengalaman-pengalaman sendiri. Pengalaman-pengalaman inilah yang membentuk cara Dewi Ayu memandang hidup ini. Penulis tidak menyalahkan atau membenarkan cara pandang tersebut. Penulis mengungkap cara pandang ini kepada diri penulis dan pembaca untuk diambil hikmahnya. Dengan memahami cara seorang pelacur—yang diwakili Dewi Ayu—memandang hidup bisa memperkaya khasanah jiwa kita. Siapa yang berani berkata bahwa ia bisa memastikan  sanggup  mempunyai cara pandang lain andai ia di posisi Dewi Ayu? Tidak ada, kecuali orang-orang yang picik yang memandang dirinya hebat.

*

Inilah di antara pandangan yang dimiliki Dewi Ayu.

1.   Dewi Ayu tak pernah memandang hebat kemaluannya
Dengan kecantikan perpaduan Timur dan Barat yang dimilikinya, laki-laki memandang penuh imajinasi kepada Dewi Ayu. Mereka ingat akan bidadari, ingat akan puteri-puteri bangsawan, dan lambang-lambang kecantikan lainnya yang semuanya hebat dan cenderung luar biasa. Penggambaran yang diberikan Eka Kurniawan (EK) pun akan menggiring kita pada anggapan dan bayangan kecantikan yang menggiurkan pada diri Dewi Ayu.
Lelaki dilanda mimpi-mimpi hebat, mengguncangkan, sehebat angan-angan yang mengganggu tidur mereka. Khayalan akan keindahan seorang perempuan dan hasrat untuk menikmatinya. Kenikmatan itu berujung pada persetubuhan. Kecantikan menimbulkan hasarat yang besar bagi laki-laki untuk menyetubuhi seorang perempuan.
Khayalan akan keindahan perempuan menemukan muaranya di kemaluan perempuan itu sendiri.
Jadi, kecantikan telah memperindah hal-hal lain pada diri perempuan itu, terutama berkenaan dengan fisik. Ia tampak hebat. Yang mampu meraih sang perempuan cantik dipandang hebat dan memiliki kelebihan tertentu. Laki-laki hebat yang mampu memiliki sang perempuan cantik itulah nanti yang berhak menikmati sang perempuan sampai puncak kenikmatan: klimaks saat persetubuhan.
Dalam CIL Dewi Ayu menjungkirbalikkan semua anggapan itu. Ternyata, si cantik Dewi Ayu tidak memandang hebat sumber kenikmatan yang ia miliki yang diperebutkan  para lelaki.
Hal ini dapat kita simpulkan dari bagian cerita ketika Dewi Ayu membantu temannya yang bernama Ola. Ibu Ola sakit dan harus mendapat bantuan dokter. Dewi Ayu dengan keinginan sendiri memenuhi persyaratan yang diminta Komandan Jepang: bersetubuh. Obat dan dokter akhirnya diperoleh. Ola terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Dewi Ayu. Apa jawaban Dewi Ayu?


’’Tak apa,’’ kata Dewi Ayu pada si gadis,’’ anggap saja aku buang tai lewat  lubang depan.”
 (halaman 77)


Dewi Ayu sangat menganggap remeh apa yang telah ia lakukan dan korbankan. Padahal, itulah adalah pertama kali kemaluannya dimasuki kemaluan laki-laki.


…sebab bagaimanapun ini kali pertama  seorang lelaki menyetubuhinya….
                                                                                                                (halaman 77)



Dewi Ayu tidak memandang hebat sumber kenikmatan yang ada pada dirinya sebagaimana para lelaki memandang hebat hal tersebut. Para lelaki demikian mengimpikannya, sedangkan Dewi Ayu memandangnya sebagai sesuatu yang tidak berarti atau lebih rendah lagi.
Para lelaki menjadi korban penipuan persepsi mereka sendiri. Mereka memandang hal itu begitu luar biasa, sedangkan sang pemilik hal tersebut memandangnya tak berarti.


2.      Buah jatuh tak jauh dari pohonnya
Semua orang menaruh harapan kepada generasi yang akan datang. Orang berharap bahwa anak-anak mereka adalah manusia-manusia yang jauh lebih baik daripada diri mereka dalam semua hal. Orang berani mempertaruhkan dan mengorbankan banyak hal untuk mencapai cita-cita ini. Semua pengorbanan harta, tenaga, perasaan, sebesar apa pun terlihat kecil ketika harapan itu menampakkan diri padanya.
Di balik harapan-harapan kepada anak-anak mereka, para orang tua juga tahu bahwa anak-anak mereka akan jadi seorang manusia yang tak jauh dari diri mereka, orang tuanya. Kepada orang-orang yang baik, anak-anak mereka adalah di antara karunia Allah yang menambah kebahagiaan mereka. Banyak hal baru dan mengejutkan pada diri anak-anak mereka yang akan menambah semangat mereka menjalani kehidupan ini dengan lebih baik lagi.
Kepada orang tidak baik, mereka menjalani hal yang sama dalam bentuk kebalikannya. Kebalikan dari apa yang dialami oleh orang-orang baik. Anak-anak mereka adalah di antara bentuk azab yang pedih sebagai balasan dari amal perbuatan yang telah mereka lakukan. Andai mereka mau berpikir, tentu mereka akan menyadari dan memperbaiki diri.
Bagaimanakah Dewi Ayu memandang tentang anak  keturunannya? Dan bagaimana kenyataannya?
Eka Kurniawan mengungkap pernyataan Dewi Ayu tentang hal itu (pertanyaan pertama), dan menceritakan secara sangat panjang lebar tentang kenyataannya (pertanyaan kedua).
Dalam suatu dialog dengan Rosinah si gadis bisu, pelayannya, Dewi Ayu mengungkap tentang anak-anaknya.


… Rosinah kembali menulis.
       ”Kau bilang punya tiga anak?” tanyanya
       ”Benar,” kata Dewi Ayu. ”Mereka pergi begitu tahu bagaimana membuka kancing celana lelaki.”
                                                                                    (halaman 17)


Perangai anak-anaknya sedikit banyaknya telah meniru perangai dari ibunya. Dewi Ayu menyadari hal ini sebagaimana semua orang tua lain juga memahami hal ini jauh-jauh hari atau baru saja.
Kenyataannya? Kenyataannya adalah bahwa anak pertamanya, Alamanda,  kawin dengan orang yang memerkosa dirinya dan ibunya; anak keduanya, Maya Dewi, menikah dengang Maman Gendeng—gembong preman yang secara spesial mengontrak ibunya untuk dirinya sendiri; Adinda, anak ketiga, menikah dengan Kamerad Kliwon—laki-laki cerdas, komunis bejat yang hobi menzinai banyak perempuan; anak bungsunya, Si Cantik, berzina dengan keponakannya sendiri.
Inilah pernyataan anak-anak Dewi Ayu tentang keluarga mereka.


       ”Kita seperti keluarga yang dikutuk,” kata Adinda di tengah isak tangisnya.
       ”Tidak seperti,” kata Adinda, ”tapi sungguh-sungguh dikutuk.”
                                                                                         (halaman 526)


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Terus menurun ke generasi berikutnya sebagai sebuah kutukan.


3.      Dewi Ayu membenci kecantikan
Wanita berlomba-lomba untuk menjadi cantik, menarik, dengan tujuannya masing-masing. Wanita menggunakan banyak cara dan mengeluarkan dana yang besar. Merawat dan mempertahankan kecantikan membutuhkan dana yang besar, apalagi mempercantik sesuatu yang biasa-biasa saja. Banyak usaha dan perusahaan yang didirikan untuk menjaga kecantikan wanita. Ada juga cara lain untuk mencapai kecantikan bagi orang-orang yang menyenangi jalan pintas dan tidak masuk akal, yiatu susuk, dll. yang sejenis.
       Dewi Ayu beda. Ia melawan arus. Mungkin pengalaman yang membentuk cara pandangnya tersebut. Kalau wanita lain berlomba-lomba dan bangga dengan kecantikan, maka Dewi Ayu membenci kecantikan. Cara pandang ini adalah di antara cara pandang yang tampak ketika ia hendak memutuskan untuk mati, yakni setelah ia melahirkan anaknya yang keempat.


       ”Semestinya ia dibunuh saja,” kata seorang perempuan, yang pertama terbebas dari amnesia mendadak itu.
       ”Aku sudah mencobanya,” kata Dewi Ayu dengan kemunculannya. Ia hanya mengenakan daster kusut dan kain yang melilit pinggang. Rambutnya tampak kacau sekali, serupa orang yang bebas dari pertarungan dengan banteng.
       Orang-orang memandangnya dengan iba.
       ”Ia cantik, kan?” tanya Dewi Ayu.
       ”Ehm, yah.”
       Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin.”
                                                                                    (halaman 4—5)

Kecantikan lebih sebagai kutukan bagi Dewi Ayu. Kebenaran pernyataannya ini tentu bisa kita cocokkan dengan pengalaman hidupnya yang panjang. Pertama kali kecantikan itu mencampakkannya ke dalam  pelacuran untuk tentara Jepang. Dan seterusnya kecantikan dan pelacuran tak bisa dipisahkan lagi dari diri dan hidupnya. Kecantikan telah memberinya kehidupan dan lembar-lembar penuh catatan dosa. Pelacuran telah memberinya anak-anak yang cantik dan mewarisi wataknya sendiri yang ia benci.
Tampaknya Dewi Ayu tak bisa menemukan alasan lain yang lebih kuat daripada kecantikan, bahwa kecantikannyalah yang telah membawanya kepada kehidupan hina seorang pelacur.
Dalam kemiripan konsep dengan penjabaran yang sedikit berbeda, Krisan, cucu Dewi Ayu,  menyatakan hal yang sama di akhir hayatnya.


”… cantik itu luka.”
                                    (halaman 535)


*

Tentu saja masih banyak cara pandang Dewi Ayu tentang kehidupan ini beserta contoh-contohnya. Penulis menganggap ketiga cara pandang yang penulis angkat di atas adalah inti dan bisa mewakili  cara pandang lain yang masih bisa diungkapkan yang menampakkan kepribadian Dewi Ayu sebenarnya.
Setiap orang boleh mempunyai persepsi sendiri tentang cara pandang Dewi Ayu, atau tentang diri Dewi Ayu keseluruhan. Penulis kembali mengulangi bahwa penulis mencoba mengungkap cara pandang DewiAyu tentang beberapa sisi dalam kehidupan ini dengan tujuan bisa menambah khasanah pengetahuan kita akan hakikat hidup ini. Khasanah ini nantinya harus kita gunakan untuk selangkah lebih maju dalam memahami hakikat tujuan hidup yang sebenarnya yang telah ditentukan Yang Maha Pencipta.
Mereka yang memuja wanita telah tertipu. Dewi Ayu telah mementahkan anggapannya yang berpijak pada angan dan prasangka belaka. Dia memuja wanita, padahal wanita itu sendiri—dalam hal ini Dewi Ayu—meremehkan hal itu. Apalagi yang mereka puja kalau bukan kenikmatan yang bisa mereka dapatkan dari diri wanita. Kenikmatan itu berada/berpusat di kemaluan wanita. Ternyata wanita (Dewi Ayu) memandang hal itu sebagai sesuatu yang tiada berarti.
Orang yang tersesat di dunia ini gara-gara wanita , ia telah tertipu. Bukankah kenikmatan itu berada di suatu tempat yang penuh lendir berbau tidak sedap; bukankah kenikmatan itu berada di tempat di mana air kencing keluar/lewat; bukankah kenikmatan itu berada di mana manusia pertama kali keluar menempuh dunia. Ketika dan setelah proses kelahiran itu, tempat kenikmatan itu adalah tempat yang tidak menyenangkan untuk dipandang, berbau sangat tidak sedap. Juga, pada saat tertentu di tiap bulannya tempat kenikmatan itu dialiri sesuatu yang kotor.
Kamu para lelaki memuja para wanita dalam arti yang salah. Lihatlah hakikat, bukan zahir dan prasangka. Hakikat bahwa wanita itu sendiri tidak memandang tinggi apa yang kaum lelaki memuja dan mengangankannya.
Kita harus mencintai kaum wanita dan menempatkannya dalam cara pandang yang benar. Kaum wanita dan segala dimensi mereka (kecantikan dan kenikmatan yang bisa didapat dari wanita) harus membantu lelaki untuk lebih dekat dan taat beribadah kepada Allah Yang  Maha Pencipta.
*

Apakah dosa anak-anakmu hingga mereka harus ikut menanggungkan akibat dari dosa yang dilakukan oleh dirimu (orang tuanya). Hendaklah ini direnungkan sedalam-dalamnya. Sudah menjadi sunatullah bahwa anak-anak mewarisi watak, bakat, kebiasaan, dan hal-hal lain dari orang tuanya. Alangkah beruntung anak-anak yang terlahir dari orang tua yang memiliki banyak keunggulan. Tentu mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang unggul pula kelak.
Keunggulan yang utama adalah keunggulan dalam hal keimanan dan akhlak. Alangkah beruntung anak-anak yang mewarisi keimanan dan akhlak yang tinggi dari orang tuanya, baik itu hasil warisan gen atau hasil didikan. Mereka menjadi orang yang mulia di dunia dan pada kehidupan yang akan datang mereka lebih dimuliakan di surga yang dijanjikan.
Sebaliknya, alangkah celaka anak-anak yang terlahir dari orang tua yang jahat, bejat, penuh berlumur dosa. Betapa celaka hidup mereka, mewarisi banyak keburukan yang mereka tak pernah menginginkannya. Andai mereka bisa memilih tentu mereka tak pernah mau dilahirkan dan  dibesarkan oleh orang tua seperti itu. Kebanyakan mereka mewarisi derita panjang yang dimulai oleh orang tuanya. Semua ketentuan kembali pada Allah swt. Yang Mahaadil dan Mahabijaksana.
Dewi Ayu juga menyadari hal ini. Ia melihat sendiri perilaku anak-anaknya yang tidak jauh dari perilakunya. Ia benci, tapi tidak mampu berbuat apa-apa. Jangankan dalam kehidupan nyata, dalam novel yang penuh imajinasi pun penulis tidak bisa melepaskan diri dari hubungan kausal yang merupakan sunatullah ini: air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga atau buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Mari kita catat, camkan, dan jadikan pelajaran. Anda ingin anak-anak keturunan Anda adalah manusia-manusia yang mulia di dunia dan akhirat? Kalau ya, maka mulailah dari diri Anda dengan menjadi seorang yang mulia dalam menjalani kehidupan ini.



IV. Penutup
Manusia akan terus mencari apa tujuan hidupnya, untuk apa ia diciptakan. Allah telah menjelaskan tujuan hidup manusia dalam kitab suci yang ia turunkan melalui utusan-Nya. Untuk memahami tujuan yang disampaikan Allah ini, kita harus berusaha mencari pengetahuan melalui membaca atau pengalaman. Dengan petunjuk Allah, insyaallah pengetahuan dan pengalaman itu akan mengantarkan kita pada pemahaman terhadap apa yang telah Allah swt. sampaikan.
Profesi sebagai pelacur adalah cela. Namun pengalaman yang lahir dari profesi itu adalah di antara hikmah-hikmah yang bertebaran di muka bumi yang harus kita ambil dengan penuh semangat untuk memperbaiki dan menyempurnakan diri kita.
Hikmah yang bisa digali dari buku Cantik itu Luka ini tidak berbeda dengan hikmah dari sumber lain. Tergantung pada kita. Sehelai daun yang  luruh ke bumi menyimpan hikmah yang besar. Tidak ada yang sia-sia.
Wallaahua’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. 2007. Al-Quran dan Terjemahnya.
           Jakarta: CV Penerbit J-ART.

Hawwa, Said. 2001. Al-Islam. Jakarta: Al-I’tishom.




























SURAT KETERANGAN
NOMOR 421/LOMBA/VII/2009

Yang bertanda tangan di bawah ini  Pjs. Kepala SMA IT Mutiara Duri, menerangkan bahwa,

Nama                               :  Eva Yulia, S.Pd.
Jabatan                             :  Guru Bidang Studi  Bahasa Indonesia

Adalah BENAR  guru Bidang Studi Bahasa Indonesia di SMA IT Mutiara Duri hingga saat ini.

       Demikianlah surat keterangan ini dibuat untuk dapat dipergunakan seperlunya.





                                                                                    Duri, 10 Agustus 2009
                                                                                    Pjs. Kepala SMA IT Mutiara,



                                                                                           Edi Purnomo, Lc.




































PENULIS:

YUDI  HENDRA, S.PD.
GURU BAHASA INDONESIA SMA IT MUTIARA
YPIT MUTIARA DURI
KOMPLEKS  PT CPI SEBANGA DURI
RIAU
                                                     28884

HP  085271792820
















           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar