Jumat, 01 Juni 2012

Klausa


Di dalam sebuah paragraf terdapat macam-macam klausa. Pada pelajaran kali ini, Anda akan belajar mengidentiikasi jenis-jenis klausa berdasarkan kategori unsur yang menjadi predikatnya. Dengan mempelajari, Anda akan diharapkan dapat menentukan jenis-jenis klausa, dan dapat menjawab pertanyaan tentang klausa dengan benar pada saat ujian di sekolah.
Jenis klausa dapat dibedakan berdasarkan strukturnya dan berdasarkan kategori yang menjadi predikatnya. Berdasarkan strukturnya, klausa dapat dibedakan menjadi klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya subjek dan predikat. Oleh karena itu, mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Umpamanya, klausa nenekku masih cantik dan kakekku gagah berani, yang masing-masing hanya dengan diberi intonasi final sudah menjadi kalimat mayor. Perhatikan kalimat berikut!

1.  Nenekku masih cantik.
2.  Kakekku gagah berani.

Berbeda dengan klausa bebas yang mempunyai struktur lengkap, klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap. Unsur dalam klausa ini mungkin subjek saja, mungkin objeknya saja, atau berupa keterangan saja. Oleh karena itu, klausa terikat tidak mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Klausa terikat biasanya dapat dikenali dengan adanya konjungsi (penghubung antarkata, antarfrase, antarklausa, dan antarkalimat) di depannya. Umpamanya, ketika kami sedang belajar.
Berdasarkan kategori unsur yang menjadi predikatnya. Klausa dapat dibedakan menjadi klausa verbal, klausa nominal, klausa ajektival, klausa adverbial, dan klausa preposisional.

1.  Klausa verbal adalah klausa yang predikatnya berkategori verba. Contoh,
•  nenek mandi
•  susi menari
•  sapi itu beranak
•  matahari terbit
Kemudian, sesuai dengan adanya berbagai tipe verba maka dikenal adanya klausa transitif dan klausa intransitif.
a.  Klausa transitif, yaitu klausa yang predikatnya berupa verba transitif (memerlukan objek). Misalnya,
•  nenek menulis surat
•  kakek membaca buku silat
b.  Klausa intransitif, yaitu klausa yang predikatnya berupa verba intransitif (tidak memerlukan objek). Contohnya,
•  nenek menangis
•  adik melompat-lompat

2.  Klausa nominal, yaitu klausa yang predikatnya berupa nomina atau frase nominal. Contohnya,
•  Ayahnya petani di desa itu
•  Dia dulu guru bahasa
•  Pacarnya karyawan bank swasta

3.  Klausa ajektival adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektif, baik berupa kata maupun frase. Umpamanya klausa-klausa berikut.
•  Ibu guru itu cantik sekali
•  Bumi ini sangat luas
•  Sekolah sudah tua sekali

4.  Klausa adverbial, yaitu klausa yang predikatnya berupa adverbia. Misalnya, klausa  bandelnya teramat sangat. Dalam bahasa Indonesia klausa adverbial sangat terbatas, sejalan dengan jumlah kata atau frase adverbia yang memang tidak banyak.

5.  Klausa preposisional, yaitu klausa yang predikatnya berupa frase yang berkategori preposisi. Contohnya,
•  nenek di kamar
•  dia dari Medan
•  kakek ke pasar baru

Dalam bahasa Indonesia ragam tidak baku, klausa preposisional ini cukup produktif, tetapi dalam ragam baku, konstruksi ini dianggap salah. Dalam ragam bahasa Indonesia baku ketiga klausa di atas akan disusun menjadi:
•  nenek ada di kamar
•  dia datang dari Medan
•  kakek pergi ke pasar baru

Jadi, klausa-klausa itu harus diberi verba  ada, datang, dan pergi. Dengan demikian, klausa itu bukan lagi berupa klausa preposisional, melainkan klausa verbal yang dilengkapi dengan keterangan. Jadi, klausa preposisional banyak dijumpai dalam bahasa tidak baku.

6.  Klausa numeral, yaitu klausa yang predikatnya berupa kata
atau frase numeralia. Contohnya,
•  gajinya satu juta sebulan
•  anaknya dua belas orang
•  taksinya lima buah

Dalam bahasa Indonesia baku, konstruksi klausa numeral itu dianggap salah konstruksi. Contoh yang benar  sebagai berikut.
•  gajinya adalah satu juta sebulan
•  anaknya ada dua belas orang
•  taksinya ada lima buah




Dengan demikian, kata adalah dan ada termasuk verba maka klausa tersebut sebenarnya bukanlah klausa numeral, melainkan klausa verbal. Jadi, klausa numeral pun hanya dapat ditemui pada ragam tidak baku.
Selanjutnya, apakah bedanya frase, klausa, dan kalimat? Seperti yang telah Anda ketahui bahwa frase itu bersifat nonpredikatif (bentuknya tanpa predikat), klausa bersifat predikatif (bentuknya harus berpredikat), dan kalimat harus sedikitnya terdiri atas subjek dan predikat. Akan tetapi, jika frase dan klausa diakhiri dengan intonasi inal (berupa tanda baca), otomatis bentuknya berubah menjadi kalimat. Misalnya, jawaban dari pertanyaan ini.
•  Mahalkah harga buku ini?
•  Mahal sekali! (kalimat)
•  Andi sedang membaca buku apa?
•  Buku humor. (kalimat)
Sama halnya dengan frase, klausa juga dapat berpotensi menjadi kalimat jika dibubuhi intonasi inal. Contohnya,
•  Ibu sedang makan (klausa)
•  Ibu sedang makan. (kalimat)
Berdasarkan contoh tersebut, frase atau klausa dapat berpotensi sebagai kalimat  jika setiap frase atau klausa dibubuhi intonasi inal.
Selain contoh-contoh tersebut, carilah contoh-contoh lainnya.
Anda juga dapat mencarinya dari bacaan-bacaan yang ada dalam pembelajaran-pembelajaran sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar