Selasa, 27 Maret 2012

Menulis Paragraf Eksposisi

   Menulis Paragraf Eksposisi
Perhatikan paragraf berikut!
Di dunia pengobatan, nama tanaman inkgo biloba sudah tidak asing
lagi. Ekstrak daunnya banyak digunakan dalam penyediaan suplemen
untuk kebugaran otak. inkgo biloba merupakan tanaman yang jarang
ditemui di Indonesia. Tanaman tersebut berasal dari Cina. Di negeri Cina
tanaman tersebut sebagai obat batuk, asma, alergi, mengatasi gangguan
jantung dan paru-paru.
Sumber: Intisari, Juni 2007
Paragraf di atas termasuk paragraf eksposisi. Paragraf eksposisi adalah
paragraf yang menerangkan, menjelaskan, atau memaparkan sebuah
benda, gagasan, atau ide. Paragraf eksposisi lebih mengarah pada tingkat
kecerdasan atau akal. Untuk memperjelas paparan, karangan atau paragraf
eksposisi disertai data, seperti grafik, gambar, data statistik, contoh, denah,
organogram, dan peta. Penulisan paragraf eksposisi biasa didahului
dengan penelitian.
Tujuan paragraf eksposisi sebagai berikut.
1. Memberikan informasi atau keterangan yang terperinci mengenai
objek.
2. Memberi tahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu.
Hal-hal yang diungkapkan atau dijelaskan berupa informasi. Informasi
tersebut dapat berupa (a) hal, kondisi, atau fakta yang benar-benar terjadi
(misalnya fungsi oksigen dan air bagi makhluk hidup, proses bekerja
mesin) dan (b) analisis atau penafsiran terhadap suatu fakta.
Anda dapat mengikuti langkah-langkah membuat paragraf eksposisi
berikut ini.
1. Mencari topik-topik yang berkaitan dengan lingkungan, baik
lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
2. Mengembangkan topik menjadi sebuah karangan. Sebaiknya Anda
membuat pola pengembangan terlebih dahulu agar karangan Anda
runtut atau sistematis. Pola karangan eksposisi bisa dimulai dari hal
yang bersifat umum ke khusus atau dari khusus ke umum.
3. Memberikan rincian atau gagasan pendukung. Tujuannya agar
karangan Anda menjadi lebih terarah.
Contoh:
a. Pelatih
1) Kualitas
2) Peran dalam pelatihan
b. Pemain
1) Kualitas
2) Peran dalam pertandingan
4. Mengembangkan gagasan pokok dan gagasan pendukung menjadi
karangan yang utuh dan padu.
Sumber: Komposisi, Gorys Keraf, 1984, Flores, Nusa Indah

Klausa


Klausa
Klausa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas S–P baik disertai
O, PEL, dan KET maupun tidak. Dengan ringkas, klausa ialah S P (O)
(PEL) (KET). Tanda kurung menandakan bahwa yang terletak dalam
kurung itu bersifat manasuka, artinya boleh ada, boleh juga tidak ada.
Contoh:
Ketika orang-orang mulai menyukai ayam bekisar, Edwin sudah
memelihara untuk dijual di pasaran.
Kalimat di atas terdiri dari empat klausa, yaitu:
1. (ketika) orang-orang mulai (S–P);
2. menyukai ayam bekisar (P–O);
3. Edwin sudah memelihara (S–P); dan
4. untuk dijual di pasaran (P–Ket.).
A. Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frasa
Perhatikan kalimat di bawah ini!
Toni belum sempat mengunjungi kakeknya kemarin.
Klausa kalimat tersebut jika dianalisis secara fungsional, hasilnya
sebagai berikut.
Toni belum sempat mengunjungi kakeknya kemarin
S P O1 KET
N V N Ket.
Toni belum sempat mengunjungi kakeknya kemarin
Frasa P O1 KET
Kata V N ADV
Keterangan:
N = Nomina
= kata benda
V = Verba
= kata kerja
ADV = Adverbia
= kata keterangan
B. Klausa Berdasarkan Struktur
Klausa dapat digolongkan berdasarkan tiga dasar.
1. Klausa Berdasarkan Struktur Intern
Unsur inti klausa ialah S dan P. Namun demikian, S sering
kali dihilangkan dalam kalimat luas sebagai akibat penggabungan
klausa dan dalam kalimat jawaban. Klausa yang terdiri atas S dan
P disebut klausa lengkap, sedangkan klausa yang tidak ber-S
disebut klausa tidak lengkap.
Contoh:
1. din tidak masuk sekolah karena din sakit.
Subjek din dalam anak kalimat dapat dihilangkan akibat
penggabungan klausa din tidak masuk sekolah dan din sakit.
2. Sedang bermain-main.
Sebagai jawaban pertanyaan Anak-anak itu sedang apa?
Klausa dibagi menjadi dua macam, yaitu klausa lengkap dan
klausa tidak lengkap. Klausa lengkap, berdasarkan struktur
internnya, dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu klausa
lengkap yang S-nya terletak di depan P, dan klausa lengkap yang
S-nya terletak di belakang P. Klausa yang S-nya terletak di depan
P disebut klausa lengkap susun biasa. Klausa lengkap yang S-nya
terletak di belakang P disebut klausa lengkap susun balik atau
klausa inversi.
Contoh:
Klausa lengkap susun biasa
Klausa lengkap susun balik
S P Ket.
daun pohon itu
para siswa
sangat rimbun
masuklah ke ruang kelas
a.
b.
P S Ket.
sangat rimbun
masuklah
daun pohon itu
para siswa ke ruang kelas
c.
d.
Klausa tidak lengkap sudah tentu hanya terdiri atas unsur P,
disertai O, PEL, atau KET.
Contoh:
e. sedang bermain-main
f. menulis surat
g. telah berangkat ke Jakarta
Klausa e terdiri atas P, klausa f terdiri atas P diikuti O, dan klausa
g terdiri atas P diikuti KET.
2. Klausa Berdasarkan Ada Tidaknya Kata Negatif yang secara
Gramatik Menegatifkan P
a. Klausa Positif
Klausa positif ialah klausa yang tidak memiliki kata
negatif yang secara gramatik menegatifkan P.
Contoh:
1) Mereka diliputi oleh perasaan senang.
2) Mertua itu sudah dianggap sebagai ibunya.
b. Klausa Negatif
Klausa negatif ialah klausa yang memiliki kata-kata
negatif yang secara gramatik menegatifkan P. Kata-kata
negatif itu ialah tiada, tak, bukan, belum, dan jangan.
Contoh:
1) Orang tuanya sudah tiada.
2) Yang dicari bukan dia.
3. Penggolongan Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frasa yang
Menduduki Fungsi P
P mungkin terdiri atas kata atau frasa golongan N, V, Bil,
dan FD. Berdasarkan golongan atau kategori kata atau frasa yang
menduduki fungsi P, klausa dapat digolongkan menjadi empat
golongan.
a. Klausa Nominal
Klausa nominal ialah klausa yang P-nya terdiri atas kata
atau frasa golongan N.
Contoh:
1) Ia guru.
2) Yang dibeli orang itu sepeda.
Kata golongan N ialah kata-kata yang secara gramatik
mempunyai perilaku sebagai berikut.
1) Pada tataran klausa dapat menduduki fungsi S, P, dan O.
2) Pada tataran frasa tidak dapat dinegatifkan dengan kata
tidak, melainkan dengan kata bukan, dapat diikuti kata itu
sebagai atributnya, dan dapat mengikuti kata depan di
atau pada sebagai aksisnya.
b. Klausa Verbal
Klausa verbal ialah klausa yang P-nya terdiri atas kata
atau frasa golongan V.
Contoh:
1) Petani mengerjakan sawahnya dengan tekun.
2) Dengan rajin, bapak guru memeriksa karangan murid.
Kata golongan V ialah kata yang pada tataran klausa
cenderung menduduki fungsi P dan pada tataran frasa dapat
dinegatifkan dengan kata tidak. Misalnya kata-kata berdiri,
gugup, menoleh, berhati-hati, membaca, tidur, dan kurus.
Berdasarkan golongan kata verbal itu, klausa verbal dapat
digolongkan sebagai berikut.
1) Klausa verbal adjektif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata golongan V yang
termasuk golongan kata sifat atau terdiri atas frasa
golongan V yang unsur pusatnya berupa kata sifat.
Contoh:
a) Udaranya panas sekali.
b) Harga buku sangat mahal.
2) Klausa verbal intransitif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja intransitif atau terdiri atas frasa
verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja intransitif.
Contoh:
a) Burung-burung beterbangan di atas permukaan air laut.
b) Anak-anak sedang bermain-main di teras belakang.
3) Klausa verbal aktif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja transitif atau terdiri atas frasa
verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja transitif.
Contoh:
a) Arifin menghirup kopinya.
b) Ahmad sedang membaca buku novel.
4) Klausa verbal pasif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja pasif atau terdiri atas frasa verbal
yang unsur pusatnya berupa kata kerja pasif.
Contoh:
a) Tepat di muka pintu, aku disambut oleh seorang
petugas.
b) Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR untuk
jangka waktu lima tahun.
5) Klausa verbal yang refleksif
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja refleksif, yaitu kata kerja yang
menyatakan perbuatan yang mengenai pelaku perbuatan
itu sendiri. Pada umumnya kata kerja ini berbentuk
kata kerja meN- diikuti kata diri.
Contoh:
a) Anak-anak itu menyembunyikan diri.
b) Mereka sedang memanaskan diri.
6) Klausa verbal yang resiprokal
Klausa ini P-nya terdiri atas kata verbal yang termasuk
golongan kata kerja resiprokal, yaitu kata kerja
yang menyatakan kesalingan . Bentuknya ialah (saling)
meN-, saling ber-an dengan proses pengulangan atau tidak
dan saling meN-.
Contoh:
a) Pemuda dan gadis itu berpandang-pandangan.
b) Mereka saling memukul.
c. Klausa Bilangan
Klausa bilangan atau klausa numeral ialah klausa yang P-nya
terdiri atas kata atau frasa golongan bilangan.
Contoh:
1) Roda truk itu ada enam.
2) Kerbau petani itu hanya dua ekor.
Kata bilangan ialah kata-kata yang dapat diikuti oleh kata
penyukat. rang, ekor, batang, keping, buah, kodi, helai, dan masih
banyak lagi. Misalnya kata satu, dua, dan seterusnya; kedua,
ketiga, dan seterusnya; beberapa, setiap, dan sebagainya; sedangkan
frasa bilangan ialah frasa yang mempunyai distribusi yang
sama dengan kata bilangan, misalnya dua ekor, tiga batang, lima
buah, setiap jengkal, beberapa butir, dan sebagainya.
4. Klausa Depan
Klausa depan atau klausa preposisional ialah klausa yang Pnya
terdiri atas frasa depan, yaitu frasa yang diawali oleh kata
depan sebagai penanda.
Contoh:
a. Kredit itu untuk para pengusaha lemah.
b. Pegawai itu ke kantor setiap hari.
Dalam kalimat tertentu, klausa memiliki dua bagian, yakni
klausa induk (induk kalimat) dan klausa subordinatif (anak
kalimat). Keberadaan klausa induk dan klausa anak ini mensyaratkan
konstruksi tataran sintaksis yang lebih besar.
Perhatikan contoh berikut ini!
Ana pergi pada pukul 06.00 ketika saya sedang mandi.
klausa induk klausa anak
Penggabungan klausa induk dan klausa anak berarti klausa
tersebut memasuki tahap struktur kalimat. Penghubungan
antarklausa ini mensyaratkan kehadiran konjungsi (kata
sambung). Dilihat dari perilaku sintaksisnya dalam kalimat,
konjungsi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu konjungsi
koordinatif (dan, serta, atau, tetapi, . . .); konjungsi korelatif (baik
. . . maupun . . .; entah . . . entah . . .; tidak hanya . . ., tetapi juga . . .;
. . .); konjungsi subordinatif (sejak, karena, setelah, seperti, agar, dengan,
. . . .); dan konjungsi antarkalimat (meskipun demikian begitu,
kemudian, oleh karena itu, bahkan, lagi pula, . . .).
Contoh:
a. Dia menangis dan istrinya pun tersedu-sedu.
b. Entah disetujui entah tidak, dia tetap akan mengusulkan
gagasannya.
c. Narto harus belajar giat agar naik kelas.
d. 1) Kami tidak sependapat dengan dia. Kami tidak akan
menghalanginya.
2) Kami tidak sependapat dengan dia. Biarpun begitu, kami
tidak akan menghalanginya.
Konjungsi-konjungsi itu dapat menghubungkan kata, frasa,
ataupun klausa. Dalam hubungannya dengan kata dan frasa,
bentuk konjungsi bertindak sebagai preposisi. Dalam hubungannya
dengan klausa, bentuk konjungsi bertindak sebagai murni
konjungsi. Dengan demikian, kalimat frasa dan klausa pun dapat
diidentifikasi.
Contoh:
Ibu tidak berbelanja karena uangnya habis.
frasa konjungsi klausa
klausa
�������������� ������ ��������������
������������������
Klausa Ibu tidak berbelanja sebagai klausa induk dan klausa
uangnya habis sebagai klausa anak. Konjungsi karena sebagai
konjungsi subordinatif-sebab yang menghubungkan dua klausa
atau lebih dengan status sintaksis tidak sama. Jadi, ada klausa
induk dan klausa anak.
Sumber: Sintaksis, Ramlan, 1997, Yogyakarta, Karyono

Frasa


Frasa

Kalimat terdiri atas beberapa satuan. Satuan-satuan tersebut terdiri
atas satu kata atau lebih. Satuan pembentuk kalimat tersebut menempati
fungsi tertentu. Fungsi yang dimaksud yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek
(O), Pelengkap (Pel.), dan Keterangan (Ket.).
Fungsi-fungsi tersebut boleh ada atau tidak dalam suatu kalimat.
Fungsi yang wajib ada yaitu subjek dan predikat. Fungsi dalam kalimat
dapat terdiri atas kata, frasa, maupun klausa. Frasa adalah satuan yang
terdiri atas dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi kalimat.
Contoh:
Dua orang mahasiswa baru itu sedang membaca buku di perpustakaan.
Perhatikan penjabaran fungsi kalimat di atas!
Dua orang mahasiswa sedang membaca di perpustakaan.
S P Ket. tempat
Kalimat di atas terdiri atas tiga frasa yaitu dua orang mahasiswa, sedang
membaca, dan di perpustakaan.
Jadi, frasa memiliki sifat sebagai berikut.
1. Frasa terdiri atas dua kata atau lebih.
2. Frasa selalu menduduki satu fungsi kalimat.

A. Kategori Frasa
1. Frasa Setara dan Frasa Bertingkat
Sebuah frasa dikatakan setara jika unsur-unsur pembentuknya
berkedudukan sederajat atau setara.
Contoh:
Saya dan adik makan-makan dan minum-minum di taman depan.
Frasa saya dan adik adalah frasa setara sebab antara unsur saya
dan unsur adik mempunyai kedudukan yang setara atau tidak
saling menjelaskan. Demikian juga frasa makan-makan dan minumminum
termasuk frasa setara. Frasa setara ditandai oleh adanya
kata dan atau atau di antara kedua unsurnya. Selain frasa setara,
ada pula frasa bertingkat. Frasa bertingkat adalah frasa yang terdiri
atas inti dan atribut.
Contoh:
Ayah akan pergi nanti malam.
Frasa nanti malam terdiri atas unsur atribut dan inti.
2. Frasa Idiomatik
Perhatikan kata-kata bercetak miring berikut!
1) Dalam peristiwa kebakaran kemarin seorang penjaga toko
menjadi kambing hitam.
2) Untuk menyelamati saudaranya, keluarga Pinto menyembelih
seekor kambing hitam.
Kalimat 1) dan 2) menggunakan frasa yang sama yaitu frasa
kambing hitam. Kambing hitam pada kalimat 1) bermakna orang
yang dipersalahkan dalam suatu peristiwa , sedangkan dalam
kalimat 2) bermakna seekor kambing yang warna bulunya hitam .
Makna kambing hitam pada kalimat 1) tidak ada kaitannya
dengan makna kata kambing dan kata hitam. Frasa yang maknanya
tidak dapat dirunut atau dijelaskan berdasarkan makna kata-kata
yang membentuknya dinamakan frasa idiomatik.

B. Konstruksi Frasa
Frasa memiliki dua konstruksi, yakni konstruksi endosentrik dan
eksosentrik.
Perhatikan kalimat berikut!
Kedua saudagar itu telah mengadakan jual beli.
Kalimat di atas terdiri atas frasa kedua saudagar itu, telah mengadakan,
dan jual beli. Menurut distribusinya, frasa kedua saudagar itu dan telah
mengadakan merupakan frasa endosentrik. Sebaliknya, frasa jual beli
merupakan frasa eksosentrik.
Frasa kedua saudagar itu dapat diwakili kata saudagar. Kata saudagar
adalah inti frasa bertingkat kedua saudagar itu. Demikian juga frasa
telah mengadakan dapat diwakili kata mengadakan. Akan tetapi, frasa
jual beli tidak dapat diwakili baik oleh kata jual maupun kata beli. Hal
ini disebabkan frasa jual beli tidak memiliki distribusi yang sama
dengan kata jual dan kata beli. Kedua kata tersebut merupakan inti
sehingga mempunyai kedudukan yang sama.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa frasa kedua saudagar
itu berdistribusi sama dengan frasa saudagar itu dan kata saudagar. Frasa
telah mengadakan berdistribusi sama dengan mengadakan. Frasa yang
distribusinya sama dengan salah satu atau semua unsurnya dinamakan
frasa endosentrik. Frasa yang distribusinya tidak sama dengan salah
satu atau semua unsurnya disebut frasa eksosentrik. Frasa jual beli
termasuk frasa eksosentrik karena baik kata jual maupun kata beli tidak
dapat menggantikan jual beli.

Frasa endosentrik meliputi beberapa macam frasa.
1. Frasa Endosentrik yang Koordinatif
Frasa ini dihubungkan dengan kata dan dan atau.
Contoh:
Pintu dan jendelanya sedang dicat.

2. Frasa Endosentrik yang Atributif
Frasa ini terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara.
Contoh:
Pekarangan luas yang akan didirikan bangunan itu milik Haji
Abdulah.

3. Frasa Endosentrik yang Apositif
Secara semantik unsur yang satu pada frasa endosentrik apositif
mempunyai makna sama dengan unsur yang lain. Unsur yang
dipentingkan merupakan unsur pusat, sedangkan unsur
keterangan merupakan aposisi.
Contoh:
Alfia, putri Pak Bambang, berhasil menjadi pelajar teladan.
C. Kelas Frasa
Frasa dibagi menjadi enam kelas kata. Pembagian frasa meliputi frasa
benda, kerja, sifat, keterangan, bilangan, dan depan.
1. Frasa Benda atau Frasa Nomina
Frasa benda atau frasa nomina adalah frasa yang distribusinya
sama dengan kata benda. Unsur pusat frasa benda yaitu kata
benda.
Contoh:
a. Dita menerima hadiah ulang tahun.
b. Dita menerima hadiah.
Frasa hadiah ulang tahun dalam kalimat distribusinya sama
dengan kata benda hadiah. Oleh karena itu, frasa hadiah ulang tahun
termasuk frasa benda atau frasa nomina.

2. Frasa Kerja atau Frasa Verba
Frasa kerja atau frasa verba adalah frasa yang distribusinya
sama dengan kata kerja atau verba.
Contoh:
Adik sejak tadi akan menulis dengan pensil baru.
Frasa akan menulis adalah frasa kerja karena distribusinya sama
dengan kata kerja menulis dan unsur pusatnya kata kerja, yaitu
menulis.

3. Frasa Sifat atau Frasa Adjektiva
Frasa sifat atau adjektiva adalah frasa yang distribusinya sama
dengan kata sifat. Frasa sifat mempunyai inti berupa kata sifat.
Kesamaan distribusi itu dapat dilihat pada jajaran berikut.
Contoh:
a. Lukisan yang dipamerkan itu memang bagus-bagus.
b. Lukisan yang dipamerkan itu – bagus-bagus.

4. Frasa Keterangan atau Frasa Adverbia
Frasa keterangan adalah frasa yang distribusinya sama
dengan kata keterangan. Biasanya inti frasa keterangan juga
berupa kata keterangan dan dalam kalimat sering menduduki
fungsi sebagai keterangan.
a. Frasa keterangan sebagai keterangan.
Frasa keterangan biasanya mempunyai keleluasaan
berpindah karena berfungsi sebagai keterangan. Oleh karena
itu, frasa keterangan dapat terletak di depan atau di belakang
subjek atau di awal dan di akhir kalimat.
Contoh:
1) Tidak biasanya dia pulang larut malam.
2) Dia tidak biasanya pulang larut malam.
3) Dia pulang larut malam tidak biasanya.
b. Frasa keterangan sebagai keterangan pada kata kerja.
Contoh:
Saya tidak hanya bertanya, tetapi juga mengusulkan sesuatu.

5. Frasa Bilangan atau Frasa Numeralia
Frasa bilangan adalah frasa yang distribusinya sama dengan
kata bilangan. Pada umumnya frasa bilangan atau frasa numeralia
dibentuk dengan menambahkan kata penggolong atau kata bantu
bilangan.
Contoh:
Dua orang serdadu menghampirinya ke tempat itu.

6. Frasa Depan atau Frasa Preposisional
Frasa depan adalah frasa yang terdiri atas kata depan dengan
kata lain sebagai unsur penjelas.
Contoh:
Laki-laki di depan itu mengajukan pertanyaan kepada pembicara.

D. Frasa yang Bersifat Ambigu
Ambiguitas terkadang ditemui dalam susunan frasa. Ambiguitas
berarti kegandaan makna.
Contoh:
Kambing hitam dan mobil tetangga baru.
Frasa kambing hitam dapat mempunyai dua makna, yakni kambing
yang berbulu (berwarna) hitam dan sebuah ungkapan yang berarti
orang yang dipersalahkan. Frasa mobil tetangga baru juga dapat
memiliki dua makna, yakni yang baru adalah mobil (milik tetangga)
dan yang baru adalah tetangga (bukan mobilnya). Frasa ambigu akan
menjadi jelas jika digunakan dalam kalimat.
Sumber: Sintaksis, Ramlan, 1997, Yogyakarta, Karyono