Follow by Email

Minggu, 17 Juni 2012

Kalimat Inti dan Pengembangan Paragraf

     Kalimat inti atau kalimat topik bertugas memberitahukan kepada pembaca  gagasan pokok yang akan dibicarakan dalam alinea dimaksud. Karena karangan terdiri dari alinea-alinea yang memiliki kesatuan yang utuh, maka kalimat inti yang biasanya terletak di awal paragraf juga berfungsi menhubungkan alinea  itu dengan alinea sebelumnya. Apabila kalimat inti tidak dapat secara lansung menjadi penghubung dengan paragraf sebelumnya, bisa dibuatkan kalimat penghubung khusus yang mendahului kalimat inti.
     Kalimat inti yang baik mempunyai ciri-ciri sbb.:
1. dirumuskan secara menarik
2. terlihat hubungan yang logis degan alinea sebelumnya
3. dirumuskan cukup umum agar dapat dikembangkan dalam alinea
4. dirumuskan secara spesifik sehingga pembaca tahu apa yang hendak dikemukakan pengarangnya.


Teknik Pengembangan Kalimat Inti

1. dengan menyajikan hal-hal khusus
Misal:
     Lalu lintas di perempatan jalan itu tampak ruwet. Polisi yang jaga sudah tidak ada lagi. Lampu  pengatur lalu lintas telah rusak sejak sebulan yang lalu. Di samping jalan ke arah pasar ada sebuah truk sedang mogok.
Hari itu begitu panas dan persis saat itu pemakai jalan sedang banyak-banyaknya. Mobil, sepeda motor, bemo, becak, sepeda, menjadi campur aduk di persimpangan itu.

2. dengan mengadakan perbandingan/perlawanan
Ini dimaksudkan untuk menggambarkan atau menjelaskan pokok persoalan dengan memberikan gambaran yang lebih sederhana, lebih konkret. Dengan perbandingan menunjukkan kesamaan dan perlwanan menunjukkan perbedaan.
Misalnya:
-      Ilmu pengetahuan yang kita miliki memang sangat terbatas. Kalau kita umpamakan ilmu itu lautan, ilmu 
   yang kita miliki kini hanyalah setetes dari lautan yang luas itu.
-      Matematika amat sukar baginya. Tak pernah ia memperoleh angka sampai dengan enam. Tetapi kalau 
   bahasa Inggris jangan ditanya, ia paling unggul di kelasnya. Tak pernah ia memperoleh angka di bawah 
   delapan.

3. dengan cara kronologis
Misalnya:
     Berkali-kali kupanggil namanya, tak ada jawaban. Mula-mula tak begitu kuhiraukan. Mungkin lagi tidur atau memang tak mendengar sahutanku. Tetapi setelah berkali-kali, aku mulai berpikir jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi atas dirinya. Kuberanikan mengetok pintu kamarnya. "Rahmaan..!" Tak ada juga jawaban.

4. dengan menyatukan detail-detail yang saling berhubungan
Detail-detail dapat dihubungkan menjadi satu alinea apabila dapat menggambarkan sifat-sifat khusus seseorang atau bagian suatu pemandangan.
Misalnya:
     Kesan pertama setelah berjumpa dengan tokoh ini adalah menyenangkan, tetapi wibawanya tetap memantul. Perawakannya sedang, tidak terlalu besat, tidak terlalu kecil. Rambutnya lurus disisir ke belakang. Dahiya lebar, menandakan pandangannya yang luas. Kulitnya agak hitam. Nadanya bersahabat, tidak menggurui.

5. dengan pernyataan-pernyataan yang disusun secara logis
Misalnya:
     Pola hidup sederhana memang layak dimasyarakatkan. Akan tetapi tidak tepat kalau pola hidup sederhana itu digembar-gemborkan di tengah masyarakat yang taraf hidup mereka pas-pasan. Pola hidup sederhana diketengahkan kepada para orang kaya yang lupa diri dan lupa daratan, menghambur-hamburkan uangnya untuk kesenanga-kesenangan yang sebenarnya hanya sia-sia dan tidak ia butuhkan. Para pejabat termasuk pada golongan kedua ini. Ia menjadi pejabat untuk menikmati segala fasilitas mewah dan lobi-lobi yang mempertebal saldo rekeningnya. Dengan uangnya yang banyak dari berbagai jalan itu, sang pejabat lebih mirip penjahat mafia yang hidup penuh hura-hura.

Tipe-Tipe Peserta Diskusi

1. tipe suka berbicara
Banyak sekali gagasan yang ingin disampaikannya, baik ada argumentasi atau tidak. Interupsilah secara bijaksana dan batasi waktu bicaranya.

2. tipe positif
Kehadirannya sangat menghidupkan suasana diskusi. Berikan kesempatan mengumukakan pendapat yang lebih banyak.

3. tipe sok tahu
Bersikap angkuh dan sok tahu banyak hal. Berilah kesempatan peserta lain untuk "memukulnya".

4. tipe suka bertengkar
Tipe ini selalu ingin menyanggah pendapat orang lain dan ingin memonopoli pembicaraan. Pemimpin diskusi harus tenang dan menghentikan keinginan memonopolinya dengan cara yang bijaksana.

5. tipe pemalu

soal

1. Yang termasuk fakta adalah
a. Rumah yang terkena banjir berjumlah 92 buah.
b. Semua anak Indonesia wajib bersekolah.
c. Kita harus memberantas narkoba sampai ke akarnya.
d. Agar lingkungan kota bersih mari kita jaga kebersihan.
e. Jakarta rawan kecelakaan lalu lintas.

2. Seorang siswa SMK bercita-cita ingin masuk ke Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Alasan yang tepat untuk dapat masuk ke Fakultas Ekonomi di UI
ialah
a. Keluarganya umumnya lulusan UI.
b. Nilai Matematika dan IPA saya selalu sangat memuaskan.
c. Lulusan Fakultas Ekonomi UI selalu dapat pekerjaan.
d. Saya akan mengembangkan bakat, minat, kemampuan di bidang
ekonomi.
e. Setuju ekonomi sangat dibutuhkan oleh perusahaan.

3. Terjadi gerakan reformasi dan krisis ekonomi yang berkepanjangan
di negeri ini telah membawa pengaruh dalam kehidupan sosial.
Salah satu contoh negatif dari pengaruh itu adalah makin meluasnya
kenakalan remaja. Berbagai tindakan kenakalan seperti kebut-kebutan,
penggunaan obat-obat terlarang, pencurian, perampokan, sampai
dengan tindakan asusila hampir setiap hari tertampung di surat kabar.
Tentu saja kita tak boleh tinggal diam menghadapi peristiwa seperti
ini.
Kalimat opini yang sesuai dengan ilustrasi di atas adalah
a. Maraknya aksi kebut-kebutan di Jalan Karangmenjangan setiap
malam minggu meresahkan masyarakat sekitar dan pemakai
kendaraan.
b. Berkali-kali gobang itu dibacokkan ke tubuh Dewi karena tidak
mau menyerahkan sepeda motornya.
c. Sabtu dini hari, petugas Polres Surabaya menangkap empat “ayam”
ABG yang sedang beroperasi di hotel.
d. Para orang tua seharusnya memerhatikan lebih serius perilaku
putranya untuk mengurangi perilaku yang menyimpang.
e. Minggu dini hari, petugas kepolisian berhasil mengamankan
empat remaja yang kedapatan membawa cimeng (ganja) setelah
melakukan razia.

4. Kalimat yang merupakan fakta khusus ialah
a. Indonesia belum memiliki kereta api bawah tanah.
b. Peristiwa itu terjadi pada pagi hari, Sabtu, 23 Juni 2007 di Pantai
Indramayu.
c. Beberapa nelayan dinyatakan hilang saat melaut.
d. Para siswa harus melakukan ujian susulan karena sakit.
e. Kita harus menghormati orang tua dan guru.

5. Kalimat yang termasuk opini ialah
a. Indonesia belum memiliki kereta api bawah tanah.
b. Peristiwa itu terjadi pada pagi hari, Sabtu, 23 Juni 2007 di Pantai
Indramayu.
c. Beberapa perairan pantai rusak akibat abrasi karena tidak dipelihara
dengan baik.
d. Para siswa harus melakukan ujian susulan karena sakit.
e. Kita harus menghormati orang tua dan guru.

6. Gizi yang baik sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan kecerdasan,
terutama untuk anak-anak balita dan usia sekolah. Dalam situasi
krismon seperti sekarang, banyak anak usia sekolah yang perlu
mendapatkan bantuan. Ibu-ibu pengajian mengadakan kegiatan sosial
dengan nama “peduli balita”, misalnya pemberian minuman susu
gratis dan pemberian makanan bergizi.
Pernyataan yang sesuai dengan fakta dalam bacaan di atas adalah
a. Kegiatan itu baik, tetapi apakah tidak menimbulkan kecemburuan
sosial?
b. Kegiatan-kegiatan positif dalam menunjang perbaikan gizi balita
perlu direalisasikan.
c. Sebaiknya, sebelum kita melaksanakan kegiatan, perlu dievaluasi
untung dan ruginya.
d. Pikiran saya sejalan dengan gagasan Anda, yaitu bahwa fakta
tentang anak putus sekolah perlu dicari.
e. Saya sependapat dengan Anda dan siap membantunya.

7. Bahasa yang dipakai di berbagai bidang ilmu dan masing-masing
memiliki perbedaan disebut
a. ragam bahasa
b. bentuk bahasa
c. laras bahasa
d. gaya bahasa
e. unsur bahasa

8. (1) Di sini peran pendidikan sangat vital. (2) Pemberdayaan perempuan
pun menjadi agenda dalam proses pembelajaran. (3) Para penentu
kebijakan kurikulum mestinya berkaca pada agenda ini. (4) Data empiris
dari ekonomi Marco Francesconi menganalisis dan British Household
Panel Survey yang mendata 10 ribu individu dari 5.500 keluarga. (5)
Penelitian dilakukan sejak 1991-1999. (6) Data ini menunjukkan bahwa
pria yang sukses justru akan memilih dengan wanita karier yang bekerja
keras.
Kalimat yang berisi fakta pada paragraf tersebut terdapat pada nomor
a. (1) dan (2) b. (2) dan (3)
c. (3) dan (5) d. (4) dan (6)
e. (3) dan (5)

9. Yang merupakan bahasa surat kabar ialah
a. Alfalfa mengandung klorofil yang bermanfaat bagi kesehatan
manusia.
b. Penelitian ini mengambil objek di daerah utara wilayah Cirebon.
c. Proses pemilihan kepala daerah berlangsung sangat tertib.
d. Kebakaran hanguskan puluhan rumah di Penjaringan Utara.
e. Rasa terima kasih kami sampaikan pada semua pihak yang telah
membantu.

10. Ragam bahasa ilmu pengetahuan ialah
a. Kejadian ini melibatkan berbagai disiplin ilmu.
b. Drama kolosal itu digarap oleh sutradara Imam Tantowi.
c. Saturnus memiliki diameter kurang lebih 10 kali diameter bumi
dalam tata surya.
d. Beberapa pekerja ikut tertimbun tanah longsor itu.
e. Gunung Semeru menunjukan aktifitasnya.

11. Ragam bahasa sastra ialah
a. Polisi dan Tim SAR belum menemukan nelayan yang hilang.
b. Lelaki umur tiga puluh tahun dan berjenggot itu masuk ke rumah
makan itu dengan tenang.
c. Pasien rumah sakit itu memprotes adanya mal praktek yang terjadi
padanya.
d. Tumbuhan anggur hidup di daerah tropis dengan kelembaban
tertentu.
e. Hasil penyelidikan sementara menunjukkan ialah tersangkanya.

12. (1) Lain benalu lain pula cendana. (2) Kalau benalu dianggap bukan
tanaman berharga, lain cerita dengan pohon yang bernama santalun
album atau cendana. (3) Kayu berbau harum ini termasuk komoditi
agak bernilai tinggi. (4) Jelas harganya mahal. (5) Sayangnya,
populasinya makin menipis karena para penangkar mengalami
kesulitan mengembangkannya. (6) Biji cendana sulit tumbuh. (7) Meski
bijinya mudah berkecambah, cendana muda mudah mati.
Kalimat fakta dalam paragraf di atas terdapat pada nomor
a. 1 dan 3
b. 3 dan 5
c. 4 dan 6
d. 5 dan 6
e. 5 dan 7

13. Kalimat yang menyatakan hasil adalah
a. Rambutan itu mahal harganya.
b. Ia suka berkumpul dengan temannya di pangkalan itu.
c. Penghasilannya bisa mencapai lima juta rupiah per bulan.
d. Ia memendam perasaannya selama lima tahun.
e. Karangannya mendapat juara satu lomba mengarang tingkat
kotamadya.

14. Kalimat yang menyatakan proses ialah
a. Pemerintah merencanakan membangun transportasi sungai di
Jakarta.
b. Penantian yang panjang membuahkan hasil sangat mengharukan
antara sang ibu dan anaknya.
c. Habis manis sepah dibuang.
d. Pengungsi korban lumpur Lapindo mengharapkan bantuan
pemerintah.
e. Telah terjadi unjuk rasa besar-besar pada hari buruh sedunia.

15. Sejak jam tujuh pagi, ia mengikuti ... tentang narkoba.
Kata berimbuhan pe–an untuk pengisi titik-titik yang tepat adalah
a. pelajaran
b. pemberantasan
c. penanggulangan
d. penyuluhan
e. penelitian

16. Ia diminta pimpinan untuk menyerahkan ... keuangan bulan ini.
Kata berakhiran –an untuk pengisi titik-titik yang tepat pada kalimat
di atas adalah
a. laporan
b. rincian
c. uraian
d. rancangan
e. bayaran

17. Karangan yang berisi uraian cara atau tahapan proses beserta pernyataan
hasilnya disebut juga
a. narasi d. argumentasi
b. deskripsi e. persuasi
c. eksposisi

18. Kata hubung yang menunjukkan adanya proses yang berlangsung atau
penandaan urutan waktu ialah di bawah ini, kecuali
a. selanjutnya d. kemudian
b. setelah itu e. lalu
c. dan lagi

19. Pemerintah kota dan DPRD menyepakati anggaran untuk pendidikan
sekitar 23 persen tahun ini.
Akhiran –an pada kata anggaran berarti
a. sesuatu yang berkaitan dengan uang
b. hasil dari sesuatu yang dianggarkan
c. proses menganggarkan
d. hal penganggaran
e. masalah keuangan yang direncanakan

20. Kalimat yang berisi pemerian adalah
a. Ahmad membeli sepatu di Pasar Baru dan Jatinegara.
b. Barang itu dijual seharga Rp. 50.000 dan Rp. 30.000.
c. Ibu sedang menawar harga barang-barang rumah tangga.
d. Bibi membeli keperluan dapur berupa kecap, garam, gula pasir,
dan cabe.
e. Barang-barang rumah tangga ini dapat dijual di pasar loak.

soal

1. Menurut para ahli, tujuan menyimak adalah berikut ini, kecuali
a. memahami informasi
b. memahami unsur bahasa
c. memecahkan masalah
d. melatih pendengaran
e. mengevaluasi pekerjaan

2. Pengertian menyimak adalah
a. mendengarkan informasi atau pesan secara tertulis maupun lisan
b. menginterpretasi informasi
c. memahami perubahan bunyi dan pola tekanan
d. mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian supaya dapat
memahami isi dari semua informasi
e. mengapresiasikan informasi yang disampaikan

3. Ilmu bahasa yang membahas mengenai unsur-unsur bahasa yang
berhubungan dengan bunyi dan pengucapan disebut
a. lafal
b unsur segmental dan suprasegmental
c. intonasi
d. konteks
e. lambang bahasa

4. Unsur segmental yang terkecil berhubungan dengan bunyi ujaran
adalah
a. prosa
b. artikulasi
c. morfem
d. fonem
e. huruf

5. Di bawah ini yang bukan unsur-unsur suprasegmental adalah
a. tekanan
b. jeda
c. intonasi
d. lafal
e. konsep

6. Ilmu yang mempelajari tata bunyi dan alat ucapnya disebut
a. morfologi
b. fonologi
c. fonemik
d. fonetik
e. morfofonemik

7. Cara dan kebiasan seseorang atau kelompok masyarakat dalam
mengucapkan bunyi atau lambang bahasa disebut
a. kata
b. lafal
c. tekanan
d. intonasi
e. fonem

8. Yang merupakan unsur segmental di bawah ini, kecuali
a. tekanan
b. intonasi
c. lafal
d. a dan b
e. a, b, dan c

9. Variasi lafal fonem yang tidak membedakan arti disebut
a. alofon
b. alomorf
c. rima
d. intonasi
e. jeda

10. Penonjolan suku kata yang dilakukan dengan cara memperpanjang
pengucapannya, meninggikan nada, atau memperbesar tenaga dalam
ucapan dinamakan
a. irama
b. tekanan
c. nada
d. jeda
e. intonasi

11. Menandai batasan ujaran juga membantu memahami ketepatan pesan
atau informasi serta membantu pengambilan napas bagi pembicara
ialah fungsi dari
a. tekanan
b. jeda
c. fonem
d. irama
e. lafal

12. Gabungan vokal yang diikuti oleh bunyi konsonan luncuran / w / atau
/ y / disebut
a. diftong
b. prosa
c. irama
d. jeda
e. tekanan

13. Kata-kata yang menggunakan diftong di bawah ini, yaitu kata
a. mau
b. risau
c. namai
d. pantai
e. memuai

14. Huruf e yang diucapkan lemah terdapat pada kata
a. bebek
b. karpet
c. perang
d. nenek
e. berkotek

15. Huruf e yang diucapkan terbuka terdapat pada kata
a. pedas
b. terang
c. teliti
d. teman
e. peta

16. Di bawah ini, kata yang tidak mengandung diftong / au / ialah
a. harimau
b. menghimbau
c. kalau
d. walau
e. mau

17. Menggunakan bahasa baku dalam keadaan atau situasi di bawah ini,
kecuali
a. formal
b. seminar
c. pertemuan ilmiah
d. pergaulan
e. resmi

18. Kalimat yang tidak menggunakan kosakata baku di bawah ini, yaitu
a. Pemerintah akan menggalakkan kebersihan lingkungan.
b. Siswa-siswi SMK PELITA akan mengadakan wisata ke Anyer.
c. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan menghakpatenkan
semua hasil penelitian ini.
d. Hadirin dipersilakan berdiri!
e. Dia sudah dikasih uang oleh orang tuanya.

19. Contoh fonem vokal yang berbeda arti, adalah
a. mantel–mental
b. perang--parang
c. ari–sari
d. makin--mangkin
e. tema–tamu

20. Di bawah ini adalah kalimat yang tidak sesuai dengan lafal baku,
kecuali
a. Paman jalan-jalan ke Ragunan, kemaren.
b. Kami haturkan terima kasih banyak atas bantuannya.
c. Dian setiap pagi sarapan dengan nasi goreng.
d. Silahken tunggu sebentar.
e. Awas, hati-hati ada lobang!

Pemahaman terhadap Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda


Unsur bahasa yang terkecil berupa lambang bunyi ujaran disebut
fonem. Ilmu yang mempelajari fonem disebut fonologi atau fonemik. Fonem
dihasilkan oleh alat ucap manusia yang dikenal dengan artikulasi. Dalam
bentuk tertulisnya disebut huruf. Lambang-lambang ujaran ini di dalam
bahasa Indonesia terbagi dua, yaitu vokal dan konsonan. Cara mengucapkan
lambang-lambang bunyi ini disebut dengan lafal. Jadi lafal adalah cara
seseorang atau sekelompok penutur bahasa dalam mengucapkan lambanglambang
bunyi yang dihasilkan oleh alat ucapnya.
Fonem vokal di dalam bahasa Indonesia secara umum dilafalkan
menjadi delapan bunyi ujaran walaupun penulisannya hanya lima ( a, i , u,
e, o ). Misalnya,
fonem / a / dilafalkan [ a ]
fonem / i / dilafalkan [ i ]
fonem / u / dilafalkan [u ]
fonem / e / dilafalkan tiga bunyi yaitu: [ e ] , [ ə ] atau e lemah, dan [ε]
atau e lebar.
Contoh pemakaian katanya;
lafal [ e ] pada kata < sate >
lafal [ə ] pada kata < pəsan >
lafal [ε ] pada kata < n ε n ε k >
fonem / o / terdiri atas lafal [ o ] biasa dan lafal [ ] atau o bundar.
Contoh pemakaian katanya:
lafal [ o ] pada kata [ orang ]
lafal [ ] pada kata [ p h n ], saat mengucapkannya bibir lebih maju
dan bundar.
Variasi lafal fonerm / e / dan / o / ini memang tak begitu dirasakan,
cenderung tersamar karena pengucapannya tidak mengubah arti kecuali
pada kata-kata tertentu yang termasuk jenis homonim.
Tidak ada pedoman khusus yang mengatur ucapan atau lafal ini seperti
bagaimana diaturnya sistem tata tulis atau ejaan dalam Pedoman Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD) yang harus dipatuhi setiap pemakai bahasa tulis
bahasa Indonesia sebagai ukuran bakunya. Lafal sering dipengaruhi oleh
bahasa daerah mengingat pemakai bahasa Indonesia terdiri atas berbagai
suku bangsa yang memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Bahasa
daerah ini merupakan bahasa Ibu yang sulit untuk dihilangkan sehingga
saat menggunakan bahasa Indonesia sering dalam pengucapan diwarnai
oleh unsur bahasa daerahnya. Contoh: kata <apa> diucapkan oleh orang
Betawi menjadi <ape>, <p h n> diucapkan <pu’un>. Pada bahasa Tapanuli
(Batak), pengucapan e umumnya menjadi ε, seperti kata <benar> menjadi
<bεnar>, atau pada bahasa daerah Bali dan Aceh pengucapan huruf t dan d
terasa kental sekali, misalnya ucapan kata teman seperti terdengar deman,
di Jawa khusunya daerah Jawa Tengah pengucapan huruf b sering diiringi
dengan bunyi /m / misalnya, <Bali> menjadi [mBali], <besok> menjadi
{mbesok] dan sebagainya.
Selain itu pelafalan kata juga dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari yang
tidak baku. Perhatikan contoh di bawah ini.
telur -------- telor
kursi -------- korsi
lubang -------- lobang
kantung -------- kant ng
senin -------- sənεn
rabu -------- reb
kamis -------- kemis
kerbau -------- kebo, dan lain sebagainya.
Menurut EYD, huruf vokal dan konsonan didaftarkan dalam urutan
abjad, dari a sampai z dengan lafal atau pengucapannya. Secara umum
setiap pelajar dapat melafalkan abjad dengan benar, namun ada pelafalan
beberapa huruf yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena sering
dipengaruhi oleh lafal bahasa asing atau bahasa Inggris.
Contoh:
-- huruf c dilafalkan ce bukan se,
-- huruf g dilafalkan ge bukan ji
-- huruf q dilafalkan ki bukan kyu
-- huruf v dilafalkan fe bukan fi
-- huruf x dilafalkan eks bukan ek
-- huruf y dilafalkan ye bukan ey
Jadi : Pengucapan MTQ adalah [em te ki] bukan [em te kyu]
Pengucapan TV adalah [te fe] bukan [ti fi]
Pengucapan exit adalah [eksit] bukan [ekit]
Dalam bahasa Indonesia ada gabungan vokal yang diikuti oleh bunyi
konsonan w atau y yang disebut dengan diftong.
Contoh:
1. Gabungan vokal /ai/ menimbulkan bunyi konsonan luncuran [ay]
pada kata:
- sungai menjadi sungay
- gulai menjadi gulay
- pantai menjadi pantay
2. Gabungan vokal /au/ menimbulkan bunyi konsonan luncuran
[aw] pada kata:
- harimau menjadi harimaw
- limau menjadi limaw
- kalau menjadi kalaw
3. Gabungan vokal / oi / menimbulkan bunyi konsonan luncuran
[oy] pada kata:
- koboi menjadi koboy
- amboi menjadi amboy
- sepoi menjadi sepoy
Tetapi, ada kata-kata yang menggunakan unsur gabungan tersebut di
atas tetap dibaca sesuai lafal kedua vokalnya.
Contoh: - dinamai tetap dibaca [dinamai]
- bermain tetap dibaca [bermain]
- mau tetap dibaca [mau]
- daun tetap dibaca [daun]
- koin tetap dibaca [koin]
- heroin tetap dibaca [heroin]
Ada juga dalam tata bahasa Indonesia, gabungan konsonan yang
dilafalkan dengan satu bunyi, seperti fonem /kh/, / sy/, ny/, /ng/ dan /nk/.
Meskipun ditulis dengan dua huruf, tetapi dilafalkan satu bunyi, contoh:
khusus , syarat, nyanyi, hangus, bank.
Lafal dan fonem merupakan unsur segmental di dalam bahasa Indonesia.
Selain unsur ini, ada pula unsur lain yang fungsinya berkaitan dengan unsur
suprasegmental, yaitu tekanan, intonasi, dan jeda. Tekanan adalah gejala
yang ditimbulkan akibat adanya pengkhususan dalam pelafalan sebuah
suku kata atau kata. Tekanan adalah bentuk tinggi rendahnya, panjang
pendeknya, atau keras lembutnya suara atau pengucapan. Biasanya kata
yang mengalami tekanan tertentu adalah kata yang dipentingkan.
Tekanan dalam bahasa Indonesia tidak mengubah makna seperti
pada bahasa Batak Toba /bóntar/ artinya putih, dan /bentár/ artinya darah.
Tekanan hanya menunjukkan sesuatu kata atau frasa yang ditonjolkan atau
dipentingkan agar mendapat pemahaman secara khusus bagi pendengar.
Tekanan tertentu pada sebuah kata atau frasa menguatkan maksud
pembicara. Biasanya tekanan didukung oleh ekspresi atau mimik wajah
sebagai bagian dari ciri bahasa lisan.
Contoh penggunaan pola tekanan:
1. Adi membeli novel di toko buku.
(yang membeli novel Adi, bukan orang lain)
2. Adi membeli novel di toko buku.
(Adi membeli novel, bukan membaca)
3. Adi membeli novel di toko buku.

(yang dibeli Adi novel bukan alat tulis)
4. Adi membeli novel di toko buku.
(Adi membeli novel di toko buku bukan di pasar)
Ciri suprasegmental lainnya adalah intonasi. Intonasi ialah tinggi
rendahnya nada dalam pelafalan kalimat. Intonasi lazim dinyatakan dengan
angka (1,2,3,4). Angka 1 melambangkan titinada paling rendah, sedangkan
angka 4 melambangkan titinada paling tinggi. Penggunaan intonasi
menandakan suasana hati penuturnya. Dalam keadaan marah seseorang
sering menyatakan sesuatu dengan intonasi menaik dan meninggi,
sedangkan suasana sedih cenderung berintonasi menurun. Intonasi juga
dapat menandakan ciri-ciri sebuah kalimat. Kalimat yang diucapkan
dengan intonasi akhir menurun biasanya bersifat pernyataan, sedangkan
yang diakhiri dengan intonasi menaik umumnya berupa kalimat tanya.
Contoh:
- Mereka sudah pergi.
- Mereka sudah pergi? Kapan?
Berbicara tentang intonasi berarti berbicara juga tentang jeda. Jeda adalah
penghentian atau kesenyapan. Jeda juga berhubungan dengan intonasi,
penggunaan intonasi yang baik dapat ditentukan pula oleh penjedaan
kalimat yang tepat. Untuk kalimat panjang penempatan jeda dalam
pengucapan menentukan ketersampaian pesan. Dengan jeda yang tepat
pendengar dapat memahami pokok-pokok isi kalimat yang diungkapkan.
Penggunaan jeda yang tidak baik membuat kalimat terasa janggal dan tidak
dapat dipahami. Dalam bahasa lisan, jeda ditandai dengan kesenyapan.
Pada bahasa tulis jeda ditandai dengan spasi atau dilambangkan dengan
garis miring [/], tanda koma [,], tanda titik koma [;], tanda titik dua [:], tanda
hubung [-], atau tanda pisah [--]. Jeda juga dapat memengaruhi pengertian
atau makna kalimat. Perhatikan contoh di bawah ini.
Menurut pemeriksaan dokter Joko Susanto memang sakit
Kalimat ini dapat mengandung pengertian yang berbeda jika jedanya
berubah. Misalnya,
a. Menurut pemeriksaan / dokter Joko Susanto / memang sakit.
(yang sakit dokter Joko Susanto)
b. Menurut pemeriksaan dokter / Joko Susanto / memang sakit.
(yang memeriksa dokter dan yang sakit ialah Joko Susanto)
c. Menurut pemeriksaan dokter Joko/ Susanto/ memang sakit.
(yang memeriksa bernama dokter Joko, yang sakit Susanto)

Tujuan Menyimak


Salah satu keterampilan bahasa ialah menyimak. Menyimak
menggunakan indra pendengaran, namun bukan berarti saat mendengar
seseorang sudah dikatakan sedang menyimak. Sesungguhnya proses
menyimak tidak sekadar mendengar, tetapi lebih dari itu, yaitu mendengar
dengan memusatkan perhatian kepada objek yang disimak. Proses
menyimak merupakan kegiatan mendengarkan yang disengaja dalam
rangka mencapai maksud-maksud tertentu. Maksud-maksud tersebut
misalnya, untuk tujuan belajar, mengapresiasi sebuah karya, mendapatkan
informasi khusus, memecahkan masalah, atau untuk memahami aspekaspek
sebuah bahasa.
Kegiatan menyimak yang bertujuan untuk mempelajari aspek-aspek
bahasa meliputi hal-hal berikut.
a. Pengenalan dan pemahaman tentang unsur-unsur bunyi dan hal yang
membentuknya seperti alat ucap yang disebut dengan ilmu fonetik dan
fonemik.
b. Proses pembentukan kata, frasa, klausa, kalimat, dan unsur-unsur
kalimat.
c. Pembagian kosakata dan hal yang menyangkut makna.
d. Makna kata berdasarkan situasi dan konteks pemakaiannya.
e. Makna budaya yang tercakup dan tersirat dalam suatu pesan, dan
sebagainya.

Sabtu, 16 Juni 2012

Macam-Macam Perubahan Bentuk Kata

1. Asimilasi
yaitu dua buah fonem yang tidak sama dijadikan sama
- alsalam --> assalam
- ad similatio --> asimilasi
- in moral --> imoral

2. disimilasi
yaitu dua fonem yang sama dijadikan tidak sama
- vanantara (Skt) --> belantara
- citta (Skt)  >  cipta
- sajjana (Skt)  >  sarjana
- rapport  >  lapor
- lauk-lauk  >  lauk-pauk
- sayur-sayur  >  sayur-mayur

3. Diftongisasi
yaitu proses monoftong berubah menjadi diftong
- anggota  >  anggauta
- teladan  >  tauladan

4. Monoftongisasi
yaitu proses perubahan diftong menjadi monoftong
- pulau > pulo
- sungai > sunge
- danau > dano
- manteiga (Prt) --> mentega
- parceiro --> persero

5. Haplologi
yaitu proses di mana sebuah kata kehilangan sebuah silaba (suku kata) di tengah-tengahnya
- samanantara (Skt)  >  sementara
- budhidaya  >  budaya
- mahardhika (Skt) > merdeka

6. Anaptiksis
yaitu proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata guna melancarkan ucapannya.
- sloka > seloka
- glana > gelana, gulana
- putri > puteri
- srgala  > serigala
- candra > candera, cendera

7. Metatesis
yaitu proses perubahan bentuk kata di mana dua fonem dalam sebuah kata bertukar tempatnya
- padma > padam     (padma = lotus merah)
- drohaka > durhaka
-pratyaya > percaya
- rontal > lontar
- peluk > pekul
- beting > tebing
- apus > usap, sapu
- lutut > telut
- arca > reca
- banteras > berantas
- kelikir > kerikil
- almari > lemari
- resap > serap
- lebat > tebal


8. Afresis
yaitu proses di mana suatu kata kehilangan satu atau lebih fonem pada awal katanya.
- tathapi  (Skt) > tetapi, tapi
- adhyaksa > jaksa
- upawasa > puasa
- velocipede > sepeda
- pepermunt > permen

9. Sinkop
yaitu suatu kata kehilangan satu fonem atau lebih di tengah-tengah kata tersebut
- utpatti > upeti
- listuhaju > lituhayu
- niyata > nyata


10. Apokop
yaitu hilangnya satu fonem di akhir kata
- pelangit > pelangi
- possesiva > posesif
- diectiva > ajektif
- mpulaut > pulau

11. Protesis
yaitu suatu kata mendapat tambahan satu fonem di awal
- lang > elang
- smara > asmara
- mas > emas
- stri > istri

12. Epentesis
yaitu suatu kata mendapat tambahan satu fonem atau lebih di tengah-tengah
- akasa > angkasa
- jaladhi > jeladri
- general > jendral
- kapak > kampak
- kemarin > kelemarin
- gopala (Skt) > gembala
- racana (Skt) > rencana
- tabacco > tembakau
- upama > umpama

13. Paragog
yaitu penambahan satu fonem pada akhir suatu kata
- hulubala > hulubalang
- ina > inang
- adi > adik
- boek > buku
- ana > anak>
- kaka > kakak
- lamp  > lampu
- das > dasi




                                                                M@lin Batu@h































Kalimat Perintah

    
     Kalimat perintah adalah kalimat yang berisi permintaan/menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Sebab itu perintah meliputi suruhan yang keras hingga ke permintaan yang sangat halus. Begitu pula perintah dapat ditafsirkan sebagai mengijinkan seseorang mengerjakan sesuatu atau menyatakan syarat untuk terjadinya sesuatu , malahan sampai kepada tafsiran makna ejekan atau sindiran.
     Suatu perintah dapat pula berbalik dari menyuruh menjadi mencegah atau melarang.

Macam-macam kalimat perintah:

1. perintah biasa
- usirlah ayam itu!
- pergilah dari sini!
- selesaikan ujian bahasa Indonesia itu dengan baik!

2. permintaan
- tolong bantu saya mendorong mobil ini ke rumah!
- coba ambilkan gelas itu!

3. izin
- ambillah buah mangga itu semaumu!
- tinggalkan saja kalau kau tak mau!

4. ajakan
- mari kita jaga kebersihan rumah kita!
- baiklah kamu mencari ibumu di hutan sana!

5. syarat
- tanyakanlah kepadanya, tentu ia akan menerangkan kepadamu

6. cemooh/sindiran
- buatlah sendiri kalau engkau bisa!
- tangakaplah jika engkau berani!

7. larangan
- jangan lewat jalan ini!
- jangan bicara seenak perutmu!


   
Ciri-ciri kalimat perintah:
1. intonasi keras, terutama perintah biasa dan larangan
2. kata kerja yang mendukung kalimat biasanya kata kerja dasar
3. menggunakan partikel pengeras:  lah

Kalimat Berita

     Kalimat berita adalah kalimat yang mendukung suatu pengungkapan peristiwa atau kejadian. Orang yang menyampaikan peristiwa tersebut berusaha mengungkapkannya seobjektif mungkin. Ia boleh menyampaikannya secara lansung atau secara tak langsung.
a. ucapan langsung
- Ahim mengatakan, "Aku akan merantau ke Madinah."
- "Aku tak akan menyerah sebelum berhasil," kata Imron tegas.

b. ucapan tak langsung
- Neneng mendirikan panti asuhan yatim piatu.
- Syifa menyantuni fakir  miskin setiap bulan.


     Ciri-ciri formal yang dapat membedakan kalimat berita dari kalimat lain hanyalah intonasinya yang netral, tak ada suatu bagian yang dipentingkan dari yang lain. Susunan kalimat tak dapat dijadikan ciri-ciri karena hampir sama saja dengan kalimat lain. Suatu bagian dari kalimat berita  dapat dijadikan pokok pembicaraan. Dalam hal ini bagian tersebut dapat ditempatkan di depan kalimat, atau bagian tersebut mendapat intonasi yang lebih keras. Intonasi yang lebih keras yang menyertai kalimat seperti ini disebut intonasi pementing.

Jenis-Jenis Kata Keterangan

1. keterangan tempat (lokatif)
menjelaskan dalam ruang mana suatu perbuatan atau peristiwa berlangsung. biasanya dinyatakan oleh kelompok kata yang didahului kata tugas: di, ke, dari, pada, dll.

2. keterangan waktu (temporal)
menjelaskan dalam bidang waktu yang manakah  suatu perbuatan itu terjadi ; biasanya dinyatakan
dengan kata tugas : kemarin, sekarang, besok, lusa, dll.

3. keterangan alat (instrumental)
menerangkan dengan alat manakah perbuatan itu dilakukan. biasanya dinyatakan dengan kelompok kata :
dengan + kata benda.
-Ibrahim menaklukkan Palestina dengan armada kapal laut yang tangguh.

4. keterangan kesertaan (komitatif)
menjelaskan ikut sertanya seseorang dalam suatu tindakan. biasanya dinyatakan dengan kelompok kata:
dengan + orang, dan kata tugas: bersama.
- imron bersama ayah menangkap harimau yang mengganggu penduduk Duri.

5. keterangan sebab (kausal)
menyatakan sebab atau alasan mengapa suatu peristiwa terjadi. biasanya didahului kata-kata tugas: sebab, karena, oleh karena.

6. keterangan akibat (konsekutif)
menjelaskan  hasil atau akibat yang diperoleh karena suatu tindakan. hasil dicapai secara wajar. keterangan ini biasanya didahului kata-kata tugas: sehingga, sampai, akibatnya.

7. keterangan tujuan ( final)
menjelaskan hasil dari suatu perbuatan yang dengan sengaja dikehendaki. kata-kata tugas yang dipakai adalah: untuk, guna, supaya, agar

8. keterangan perlawanan ( konsesif)
menjelaskan berlakunya suatu perbuatan berlawanan/bertentangan dengan keadaan atau kehendak si pembicara. kata tugas yang mendukung: meskipun, biarpun, walaupun, sekalipun, sungguhpun, biar.
- kojek tetap gagal sekalipun ia telah mengerahkan segala kemampuannya

9. keterangan pembatasan
menjelaskan dalam batas-batas mana saja suatu perbuatan boleh dilakukan
kata tugas:  kecuali, selain

10. keterangan situasi
menjelaskan dalam suasana apa suatu perbuatan dilaksanakan.
-dengan tersenyum ia menanti kedatangan malaikat maut

11. keterangan kualitatif
menjelaskan dengan cara mana atau bagaimana suatu pebutan dilaksanakan
- syifa berjalan dengan cepat

12. keterangan kuantitatif
menjelaskan berapa kali suatu proses berlangsung
- kerjakanlah semampumu
- yudi membaca seribu lembar sehari

13. keterangan perbandingan
menjelaskan  bagaiman suatu perbuata atau hal dibandingkan dengan perbuatan/hal lainnya.
kata tugas: sama, sebagai
-ia gagah seperti ayahnya

14. keteranagan modalitas
menjelaskan bahwa suatu proses  berlaku secara subjektif
-mungkin dia yang menghasut pengacau itu
- engkau mendapat hadiah jika rajin.

15. keterangan aspek
menjelaskan terjadinya suatu peristiwa melalui  proses objektif.
- mereka pun berangkatlah


Alat Ucap

Ada tiga alat ucap yang perlu untuk menghasilkan bunyi ujaran:
1. udara, yang dialirkan keluar dari paru-paru
2. artikulator, bari dari alat ucap yang dapat digerakkan atau digeserkan untuk menimbulkan bunyi
3. titik artikulasi, bagian dari alat ucap yang menjadi tujuan sentuh dari artikulator

Dalam menimbulkan bunyi ujaran /k/ misalnya dapat kita lihat kerjasama antara ketiga faktor di atas. Mula-mula udara mengalir keluar dari paru-paru, sementara itu bagian belakang lidah bergerak ke atas serta merapat ke langit-langit lembut. Akibatnya, udara terhalang. Dalam hal ini belakang lidah menjadi artikulatornya karena belakang lidah merupakan alat ucap yang bergerak atau digerakkan sedangkan langit-langit lembut menjadi titik artikulasinya karena ia tidak bergerak.

Yang termasuk alat-alat ucap adalah : paru-paru, tenggorok (larinx--Latin), di ujung atas tenggorok terdapat pita suara. Ruang di atas pita suara hingga ke perbatasan rongga hidung disebut: pharinx.

Alat-alat ucap dalam rongga mulut adalah:
1. bibir (Latin: Labium)
2. gigi
3. lengkung kaki gigi (Latin: alveolum)
4. langit-langit keras (Latin: Palatum)
5. langit-langit lembut (velum
6. anak tekak (uvula)
7. lidah, yang terbagi atas:
    a. ujung lidah (apex)
    b. lidah bagian depan
    c. lidah bagian belakang
    d.akar lidah

Salah satu rongga lagi yang penting dalam menghasilkan bunyi adalah rongga hidung.

Bahasa-Bahasa Austronesia

Wilhelm Schmidt seorang sarjana Austria membagi rumpun Austria menjadi dua rumpun:

1. Bahasa-bahasa Austro-Asia
yaitu bahasa-bahasa yang terdapat di daerah Asia Tenggara:
- bahasa Khasi
- bahasa Nikobar
- Mon
- Khmer
- Munda
-
- Tsyam
- Palaung-Wa
- Annam-Muong
- Semang-Sakai

2. Bahasa-bahasa Austronesia
terbagi dua :
a. bahasa-bahasa Nusantara
- bahasa Malagasi
- bahasa Formosa
- bahasa-bahasa di kepulauan Filiphina
- bahasa Melayu
- Jawa
- Batak
- Bali
- Dayak
- Sika
- Solor
dll.

b. bahasa-bahasa Ocenia
- Malanesia :
    * New Caledonia
    * Hibrid
    * Fiji
    * Salomon
    * Santa Cruz

- Polinesia:
   * Maori
   * Hawaii
   * Tahiti, dll.

Daerah penyebaran bahasa-bahasa Austronesia terbentang dari Pulau Madagaskar di sebelah barat sampai ke Pulau Rapanui (Paskah) di sebelah timur, dekat pantai barat Amerika Selatan, serta dari Selandia Baru di sebelah selatan sampai ke Taiwan di sebelah utara.

Rumpun Bahasa

Rumpun bahasa berdasarkan genealogi (=asal-usul dan sejarah perkembangan yang sama):

1. rumpun Indo-Eropa:
- bahasa German
- bahasa Keltik
- bahasa Baltik
- bahasa Slavia
- Albania
- Yunani
- Armenia
- Indo-Iran

2. rumpun Semito-Hamit:

3. rumpun Finno-Ugria

4. rumpun Ural-Altai

5. rumpun Sino-Tibet

6. rumpun Austria :
- rumpun Austro-Asia
- rumpun Austonesia

7. bahasa-bahasa lain di Asia dan Ocenia yang tidak masuk salah satu rumpun di atas:
- bahasa Irian
- bahasa Dravida
- bahasa Australia
- bahasa Andaman

8. rumpun bahasa bantu

9. rumpun bahasa-bahasa Sudan

10. bahasa-bahasa Khoisan: bahasa-bahasa orang kerdil di Afrika

11. bahasa-bahasa Amerika Utara:
- Algonkin
- Irokes
- Penutia
- Sioux
- Uto-Aztek
- Athabascan

12. bahasa-bahasa Amerika Tengah:
- Maya
- Otomi
- Mixe-Zoke

13. Bahasa-bahasa Amerika Selatan:
- Arawak
- Karibi
- Tupi-Guarani


Perkembangan Bahasa Indonesia pada Masa Kolonial dan Pergerakan

     Pada masa orang Barat sampai ke Indonesia abad XVI mereka menghadapi kenyataan bahwa bahasa Melayu sudah resmi menjadi bahasa pergaulan dan bahasa perdagangan. Bahasa Portugis maupun Belanda mendirikan sekolah-sekolah. Mereka kemudian terbentur masalah bahasa. Usaha pemakaian bahasa mereka (Portugis/Belanda) selalu mengalami kegagalan. Akhirnya keluar keputusan dari pemerintah kolonial, K.B. 1871 No. 104, yang menyatakan  bahwa pengajaran di sekolah-sekolah  bumi putera dilakukan dalam bahasa daerah atau bahasa Melayu.
       Pada tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan suatu komisi yang disebut Comissie voor Volkslectuur diketuai Dr. G.A.J. Hazeu. Kemudian komisi ini berubah nama menjadi Balai Pustaka pada tahun 1917. Kegiatan badan ini membantu penyebaran dan pendalaman bahasa Melayu  karena menerbitkan buku-buku  murah berbahasa Melayu. Pada 25 Juni 1918 Ratu Belanda menetapkan bahwa anggota Volksraad (DPR) bebas menggunakan bahasa Melayu dalam kegiatan mereka.
     Untuk menyatukan rakyat Indonesia perlu satu bahasa yang diakui bersama. Untuk hal ini organisasi Jong Java dan Jong Sumatra telah memilih bahasa Melayu. Dalam kongres II Jong Sumatra dengan tegas dinyatakan untuk memakai bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu tinggi, untuk dipakai sebagai bahasa persatuan.
     Surat kabar-surat kabar yang terbit pada masa itu pun telah memakai bahasa Melayu, misalnya: Bianglala, Bintang Timur, Kaum Muda, Neratja. Pengaruh mereka sangat besar dalam memasyarakatkan bahasa Melayu.
     Puncaknya adalah terjadinya peristiwa Kongres Pemuda yang sangat terkenal itu pada 28 Oktober 1928 di Jakarta yang menyatakan:
"Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan - Bahasa Indonesia."

Perkembangan Bahasa Indonesia pada Masa Kerajaan Sriwijaya

     Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia mengalami proses berabad-abad lamanya. Di wilayah Nusantara sudah terkenal sebuah bahasa perhubungan, lingua franca, yang disebut Melayu Pasar. Melayu pasar inilah yang menjadi faktor penting diterimanya Melayu Riau menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah.
     Walaupun bukti-bukti masih kurang, namun dapat dipastikan bahwa bahasa yang dipakai  oleh kerajaan Sriwijaya  pada abad VII adalah bahasa Melayu. Bukti-bukti tertulis ditemukan sekitar tahun 680 M: di Kedukan Bukit berangka tahun 683 , Talang Tuwo 684, Kota Kapur 686, dan Karang Brahi 688.  Sriwijaya adalah sebuah kerajaan maritim yang memiliki armada perkapalan buat perdagangan. Orang-orangmya menjelajah pelosok tanah air dan memperkenalkan bahasa Melayu untuk mempermudah hubungan perdagangan dengan penduduk Nusantara. Bukti yang ditemukan adalah sebuah prasasti di Pulau Jawa di daerah Kedu yang terkenal dengan nama Inskripsi Gandasuli yang berangka tahun  832, yang menggunakan bahasa Melayu Kuno. Bukti lainnya adalah adanya dialek bahasa Melayu di berbagai daerah Nusantara seperti dialek Melayu Ambon, dialek Melayu Jakarta, dialek Melayu Kupang, dll.
     I Tsing, seorang musafir Tiongkok yang bertahun-tahun belajar di Sriwijaya pada akhir abad VII menggunakan bahasa Kwu'un Lun yang tidak lain adalah bahasa Melayu Kuno.

Dialek dan Idiolek

A. Idiolek
     Bila kita membandingkan  bahasa seseorang dengan bahasa seorang yang lain, maka akan tampak bahwa setiap orang memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain, walaupun mereka sama-sama anggota dari suatu masyarakat bahasa. Abiq dalam kebiasaan sehari-harinya suka mengucapkan kata  "ya kan", sedangkan temannya Imron tidak suka dengan kebiasaan seperti itu. Pilihan kata pun dalam mengungkapkan sesuatu berbeda antara satu orang dengan orang yang lain, namun mereka sebenarnya pemakai satu bahasa, perbendaharaan dari satu bahasa. Tutur kata setiap anggota masyarakat bahasa yang ditandai perbedaan-perbedaan kecil semacam itu disebut idiolek.


B. Dialek
     Setiap kelompok idiolek mempunyai persmaan yang khas dalam tata bunya, kata-kata, ungkapan-ungkapan, dan lain-lain. Tiap kumpulan mempunyai ciri tertentu yang membedakannya dengan kumpulan yang lain. Dalam bahasa Melayu kita mengenal ada Melayu Jakarta, Melayu Ambon, Melayu Medan. Dalam bahasa Jawa, terdapat perbedaan bahasa Jawa yang dipakai orang Surabaya dengan yang dipakai orang Semarang. Tiap-tiap perbedaan itu merupakan suatu kesatuan yang disebut dialek. Jadi, ada dialek Melayu Jakarta, dialek Melayu Medan, dialek Jawa Surabaya, dialek Semarang, dan lain-lain.

Kalimat Majemuk




Kalimat  majemuk adalah kalimat yang merupakan penggabungan dari dua buah kalimat tunggal.

Macam-macam kalimat majemuk:
1.       Kalimat majemuk setara
2.       Kalimat majemuk bertingkat
3.       Kalimat majemuk campuran

A.      Kalimat  Majemuk Setara
Dalam kalimat majemuk setara kedudukan pola-pola kalimat sama tinggi, tidak ada pola kalimat yang menduduki satu fungsi dari kalimat yang lain.

 Macam-macam kalimat majemuk setara:
1.       Setara menggabungkan
Penggabungan itu dapat terjadi dengan merangkaikan dua kalimat tunggal dengan diantarai  kesenyapan antara  atau dirangkaikan dengan kata tugas sperti: dan, lagi, sesudah itu, karena itu
-          Ahim membaca Alquran dan Imron menghafal hadis.
-          Syifa telah mempelajari secara mendalam ilmu ekonomi dan perbankan syariah,  setelah itu ia mendirikan bank  sendiri.

2.       Setara memilih
Kata tugas yang dipakai untuk menyatakan hubungan ini adalah  atau.
-          Kautinggal saja di sini atau pergi merantau mencari ilmu.
-          Lakuka sesuatu atau engkau akan menyesal selamanya.

3.       Setara mempertentangkan
Kata tugas yang dipakai dalam hubungan ini adalah: tetapi, melainkan, hanya.
-          Sudah sepantasnya Edi Purnomo menikah, tetapi  sampai hari ini ia acuh tak acuh saja jika ditanya.
-          Bukan harta berlimpah yang ia inginkan, melainkan ketenangan hidup dalam keberkahan iman dan harta yang halal.
-          Ia tahu hal itu dosa, hanya setan laknatullah telah menguasai dirinya.


B.      Kalimat  Majemuk  Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan pola-polanya  tidak sederajat. Salah satu pola menduduki fungsi lebih tinggi dari pola lain. Bagian yang lebih tinggi disebut  induk kalimat, bagian yang lebih rendah disebut  anak kalimat.

Sesuai dengan fungsinya anak kalimat dapat  dibagi atas:
1.       Anak kalimat yang menduduki fungsi inti (subjek atau predikat)
Contoh:
Yang harus menyelesaikan pekerjaan itu telah meninggal dunia sehari yang lalu.
Yag harus menyelesaikan pekerjaan itu adalah anak kalimat yang menduduki fungsi sebagai subjek.

2.       Anak kalimat yang menduduki fungsi tambahan
a.       Sebagai pelengkap
Contoh:
·         Ia tidak mengetahui bahwa kami telah pergi meninggalkan Kampung Banda Gadang selama-lamanya.
·         PT  Yura Islami Internasional telah menganugerahkan sepuluh ribu rumah kepada para fakir miskin yang telah terbukti dan teruji menjalani hidup dalam kejujuran dan keimanan.

b.      Sebagai keterangan
·         Ibrahim telah merubuhkan seluruh patung yang telah dijadikan sembahan oleh kaumnya.
·         Rasulullah Muhammad SAW tak pernah berhenti meminta kepada Allah agar umatnya diselamatkan dari berbagai fitnah yang membinasakan iman mereka.
·         Muhammad lebih memilih dakwah ketika ia ditawari dengan harta, kekuasaan, dan wanita.

Kadang perluasan kalimat terjadi sedemikian rupa sehingga rangkaian hubungan itu sangat kompleks.  Ada pola kalimat dalam satuan yang kompleks itu yang menduduki fungsi lebih rendah dari anak kalimat. Bagian ini disebut  cucu kalimat.
Contoh:
Sepanjang jalan itu telah ditanam pepohonan yang rindang  yang dapat memberi keteduhan pada orang-orang desa yang setiap hari berjalan kaki pulang pergi ke kota.


C.      Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran dapat terdiri atas:  a) satu induk kalimat dan dua anak kalimat atau  b)dua induk kalimat dan satu anak kalimat.
Contoh:
a)      Kami telah menyelenggarakan sebuah  tablik akbar yang dihadiri oleh masyarakat Pematang Pudu serta dihadiri pula oleh para pejabat kecamatan dan kelurahan.
b)      Pak Yudi mengajarkan cara menulis puisi yang benar dan Pak  Salman mengajarkan teknik berpidato yang memikat  agar siswa SMA IT Mutiara mempunyai bekal yang memadai dalam hal keterampilan berbahasa.






Rabu, 13 Juni 2012

Partikel kah, tah, lah, pun

Partikel adalah semacam kata tugas yang mempunyai bentuk sangat ringkas dan kecil dan mempunyai fungsi  tertentu.

A. Partikel  kah
Fungsi:
1. memberi tekanan dalam pertanyaan, kata yang dihubungkan dengan kah itu dipentingkan.
- sawah atau ladangkah yang digarapnya?
- bekerja atau bermalas-malasankah dia?

2. dipakai untuk menyatakan hal yang tak tentu, sebenarnya hal itu pertanyaan juga , tetapi pertanyaan yang tidak langsung
- datangkah atau tidakkah, kami tidak tahu
- terserah padamu, mau menerimakah atau tidak lamaran Buya Adi Balai Masiang


B. Partikel tah
Fungsi partikel tah ini sama dengan kah, tetapi lebih terbatas pemakaiannya hanya pada kata tanya : apatah, manatah, siapatah. Bentuk-bentuk ini lebih sering ditemui pada bahasa Melayu lama. Saat ini kurang dipakai. Makna pertanyaan dengan partikel tah adalah meragukan atau kurang tentu.


C. Partikel  lah
Fungsi:
1. mengeraskan kata yang menunjukkan perbuatan
- bacalah dengan nyaring!
- datanglah ke Banda Gadang saat Lebaran!

2. mengeraskan kata keterangan
- tiadalah ada aral yang bisa menghalangi Ayahibrahim untuk pulang kampung menengok amaknya
- apa pun yang terjadi, pastilah ditempuhnya juga untuk menghapus dosa-dosanya

3. menekankan kata ganti orang yang terletak di awal
- kamulah yang harus memulai memperbaiki dirimu sendiri
- engkaulah yang telah memulai, maka engkau pula yang harus menyelesaikannya



D. Partikel  pun

Fungsi:
1.mengeraskan atau memberi tekanan pada kata yang bersangkutan
- dia pun mengetahui hal itu
- Abiq pun bisa membawa truk balak

2. mengandung arti perlawanan
- mengorbankan nyawa sekali pun aku rela
- betapa pun ia berjuang, takdir telah putus

3. gabungan pun dan lah mengandung aspek inkoatif
- mereka pun berhentilah
- ia pun duduklah di bawah pohon ketaping


Selasa, 12 Juni 2012

Perubahan-Perubahan Fonem

A. Asimilasi
Asimilasi adalah bunyi yang tidak sama  disamakan/bersamaan.
1. berdasarkan tempat fonem
a. asimilasi progresif
yaitu bunyi yang diasimilasikan terletak sesudah bunyi yang mengasimilasikan.
Dalam bahasa Indonesia tidak ada.
Contoh dalam bahasa Latin:
Latin kuno: colnis
Latin :  collis

b. asimilasi regresif
yaitu bunyi yang diasimilasikan mendahului bunyi yang mengasimilasikan.
Misalnya :
alsalam - assalam --> asalam
in + moral - immoral --> imoral
in + perfect - imperfect --> imperfek

2. Disimilasi
(kebalikan asimilasi) yaitu dua bunyi yang sama dijadikan tidak sama.
Contoh:
lalita (Sansekerta) --> jelita
citta (Sansekerta) --> cipta
kolonel --> kornel
lauk-lauk --> lauk-pauk
saj-jana (Sansekerta) --> sarjana
prakrti --> pekerti

3. Suara bakti

Senin, 11 Juni 2012

Drama

Drama adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog yang dipertunjukkan oeh tokoh-tokoh di atas pentas di hadapan para penonton.

Drama ada yang didahului oleh prolog dan diakhiri oleh epilog.
Prolog adalah kata pendahuluan sebelum drama dipertunjukkan supaya penonton mempunyai gambaran . .mengenai apa dan bagaimana isi drama.
Epilog adalah kata-kata yang diucapkan ketika drama selesai.

Gerak dalam drama berupa:
1. gerak-gerik
a. mimik = perubahan air muka
b. pantomimik = gerak badan

2. suara
a. monolog = percakapan seorang diri
b. dialog = percakapan bersama


Syarat pokok yang harus ada bila mementaskan drama:
1. harus ada pemain drama yang pandai memainkan drama
2. harus ada sutradara
3.harus ada konflik (pertentangan batin) yang akan berakhir dengan kesedihan atau kegembiraan


Susunan drama
1. pendahuluan
pemaparan keadaan sekadarnya  melalui tokoh-tokoh untuk menunjukkan situasi dan peristiwa yang mendahului, yang sedang berlaku, atau yang akan datang.

2. titik desak
babak yang menggambarkan lakon sampai kepada konflik menjadi gawat.

3. saat risau
babak yang menggambarkan bahwa ketegangan mulai ada

4. klimaks
babak yang menggambarkan ketegangan sudah sampai di puncak kegawatannya

5. antiklimaks
menggambarkan ketegangan meledak, mengungkapkan peleraian bentrokanyang kritis ke arah penyelesaian tertentu

6. kata strada = penyelesaian = konklusi
babak pembersihan (katarsis), nasib pelaku utama ditentukan.

Pola drama di atas tidak sepenuhnya dipakai, ada yang memakai semua ada yang memakai sebagian/beberapa bagiannya saja.


Corak drama
Menurut isi, tujuan, dan pelaksanaan drama dapat dibedakan atas:
1. tragedi
drama yang menimbulkan perasaan takut, terharu, dan iba hati penonton sandiwara. Selalu diakhiri dengan kesedihan karena pelaku utama sia-sia dalam perjuangannya melawan nasibnya yang buruk.

2. komedi
yaitu cerita yang melukiskan kelucuan-kelucuan dalam kehidupan menimbulkan suasana riang gembira penuh humoritis. Tujuan supaya penonton riang gembira. Sering dipergunakan untuk mengadakan sindiran atau kritikan terhadap kejadian-kejadian yang terdapat dalam masyarakat.

3. Tragedi-komedi
yaitu pertunjukan yang melukiskan kesedihan dan hal-hal menggelikan.

4. Lelucon/dagelan
yaitu pertunjukan yang semata-mata hanya bermaksud membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

5. opera dan operette
yaitu pertunjukan dengan nyanyian (solo, duet, terzet). Opera yang pendek disebut operette.

6. pantomine
yaitu drama yang dipertunjukkan hanya dengan gerak-gerik saja, tidak ada suara.

7. tableau
yaitu drama yang dipertunjukkan dengan suara saja, tidak ada gerak.

8. sendratari
yaitu drama yang dipertunjukkan dengan tarian. Pemain-pemainnya tidak mengadakan percakapan, melainkan hanya menari saja untuk melukiskan peristiwa yang terjadi.


Kata Depan : akan, dengan, atas, antara

1. akan
fungsi:
a. pengantar objek
ia tidak tahu akan hal itu
aku lupa akan semua kejadian iti

b. untuk menyatakan masa yang akan datang
saya akan pulang ke Padang
amak akan ke Duri minggu depan

c. untuk penguat atau penekan, dalam hal ini berfungsi sebagai penentu
akan hari pernikahan kita perhitungkan seminggu lagi


2. dengan
fungsi:
a. untuk menyatakan alat
ia membasuh kaki amak dengan kain paling bersih
Adi menulis surat kepada ibunya dengan pena paling bagus

b. menyatakan hubungan kesertaan
Imron ke sekolah dengan ayah

c. membentuk adverbial kualitatif
memilih calon istri harus dilakukan dengan cermat

d. untuk menyatakan keterangan komparatif
Ibrahim sama tinggi dengan ayahnya


3. atas
fungsi:
a. membentuk keterangan tempat, dalam hal ini sama artinya dengan   di atas
kami menerima tanggung jawab itu di atas pundak kami

b. menggabungkan kata benda atau kata kerja dengan keterangan
imron mengucapkan terima kasih atas keikhlasan One Eva
Mudi sangat menyesal atas perbuatan maksiat yang pernah ia lakukan

c. dipakai di depan beberapa kata dengan arti :  dengan atau demi
atas nama
atas desakan
atas kehendak
atas perintah
atas kemauan


4. antara
fungsi:
a. penunjuk jarak
jarak yang sangat jauh antara Duri ke Padang ia tempuh dengan Revo barunya

b. sebagai penunjuk tempat
antara anak-anak Gang Kelinci itu, manakah yang paling saleh?

c. menyatakan arti  kira-kira
ia telah meninggalkan keluarganya antara lima enam bulan untuk menolong rakyat Palestina


                                                                                         M@lin B@tuah

Tata Bahasa Indonesia, G. Keraf

Awalan-Awalan Baru

1. tak
Bentuk ini dipakai untuk mengimbangi istilah-istilah asing yang memakai awalan  a-. Gunanya untuk menidakkan suatu hal.
takssosial
taksadar
takinsaf
takorganik

2. purba
Prefiks ini disejajarkan dengan awalan asing  ante :  antedate, antedelivium.
purbatunggal
purbakala
purbasangka

3. prati
Kata-kata asing yang mengandung arti anti atau kontra diimbangi dengan  prefiks  prati, diambil dari bahasa Sansekerta.
pratirasa = antipati
pratijangkit = antiseptis
pratikunjung

4. swa
Swa mengandung arti sendiri, dipakai untuk menggantikan prefiks auto.
swadidik  = autodidak
swasembada
swakuasa = autokrasi
swariwayat = autobiografi

5. dwi
Prefiks  dwi  senilai dengan  bi-  dalam bahasa asing.
dwiwarna
dwibahasa
dwiroda
dwiminggu
dwipihak

Di samping prefiks  dwi  ditemukan juga prefiks dengan kata-kata bilangan lain
tri (tiga) : trikora, trirangkai
catur  (empat) : caturtunggal
panca (lima) : pacasila, pancaindra, pancadharma

6. antar
Senilai dengan inter dalam bahasa asing.
antartempat  =  interlokal
antarhubungan = interelasi
antarkota
antarsekolah
antarhubungan

7. pra
Untuk menggantikan awalan sing : pre, prae.
pratinjau = preview
prasejarah - prehistorie
prasangka
prasejarah
prarasa
prasaran
prakarya

8. serba
arti semua
serbabaru
serbaada
serbaguna
serbasalah

9. anu
arti sesudah
anumerta  =  sesudah mati

10. tuna
arti kehilangan sesuatu, ketiadaan sesuatu
tunakarya
tunanetra
tunasosial
tunatertib

11. ulang
untuk menyatakan bahwa sesuatu dibuat kembali, sejajar dengan prefiks  re-.
ulangcetak  =  reprint
ulangbuat
ulangsusun

12. maha
diambil dari bahasa Sansekerta, artinya  besar
mahaputera
mahaadil
mahakarya
mahasiswa



                                                                                              M@lin B@tuah


Sumber :  Tata Bahasa Indonesia, Gorys Keraf


Minggu, 10 Juni 2012

Ejaan Van Ophuysen

Ejaan ini berlaku tahun 1901 dan dapat kita baca dalam kitab Logat Melayu. Sistem ejaan Latin untuk bahasa Melayu ini diciptakan oleh Ch. A. Van Ophuysen. Inilah ejaan Latin resmi yang pertama di Indonesia. Buku Kitab Logat Melayu (1901) dikerjakan bersama dengan Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan M. Taib Sutan Ibrahim.

Ejaan ini berisi :
1. u  ditulis   oe
2. jika suatu kata berakhir dengan huruf   a    mendapat akhiran   i, maka di atas akhiran itu diberi tanda trema
    (").
3. apostrop atau koma hamzah (') ditulis sebagai pengganti   k    pada akhir kata. Misalnya: bapa', kaka'
4. huruf  e  keras diberi tanda  ( ' ), misalnya :  e'jaan, he'bat.
5. kata ulang boleh memakai angka  2  jika kata yang mendahului tanda angka 2  itu berulang seluruhnya,
    misalnya jalan-jalan --> jalan2.
6. kata majemuk ditulis dengan  tiga cara, yaitu:
    a. dihubungkan : hoeloebalang, apabila
    b. memakai tanda penghubung : batoe-bara, anak-negeri
    c. dipisahkan : anak negeri, jeroek manis

Fonologi

Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa.
Fonologi terbagi atas dua:
1. fonetik
yaitu ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bumyi ujaran dalam tutur, juga mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia.
Fonetik terbagi tiga:
a.  fonetik akustik yaitu fonetik yang mempelajari ciri bunyi bahasa
b. fonetik auditoris yaitu fonetik yang mempelajari cara penerimaan bunyi bahasa oleh pendengar.
c. fonetik organis atau artikulatoris yaitu fonetik yang mempelajari bagaimana bunyi-bunyi bahasa dihaslkan
    oleh alat ucap

2. fonemik
yaitu ilmu yang mempelajari bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti.

Bidal

Bidal atau peribahasa  yaitu kiasan kata atau bahasa berkias dan beribarat.

Penggolongan bidal menurut asal kejadiannya:
1. bidal dari lingkungan petani
Contoh:
a. Dahulu bajak daripada jawi.
b. Pagar makan tanaman.

2. bidal dari lingkungan rumah tangga
Cotoh:
a. Sambil berdiang nasi masak.
b. Besar pasak daripada tiang.

3. bidal dari kalangan guru dan alim ulama
Contoh:
a. Lancar kaji karena diulang, pasa jalan karena ditempuh.
b. Lubuk akal tepian ilmu.

4. Bidal dari kalangan pedagang
Contoh:
a. Murah di mulut, mahal di timbangan.
b. Seperti menghasta kain sarung.

5. Bidal dari kalangan nelayan
Contoh:
a. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
b. Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu.

6. Bidal yang mengisahkan suatu dongeng atau cerita
Contoh:
a. Katak hendak jadi lembu.
b. Lebai malang


Jenis-jenis bidal
Menurut susunan katanya dan gunanya, bidal dapat dibedakan menjadi:
1. ungkapan (idiom)
yaitu satu atau beberapa kata yang diucapkan tidak dengan arti sebenarnya atau arti kiasan. Guna ungkapan untuk memberi teguran halus atau kiasan terhadap suatu kejadian tingkah laku manusia.
Contoh :  panjang akal, manis mulut, tebal telinga, keras kepala, jantung hati.
Contoh idiom dalam kalimat:
a. Orang itu anaknya selilit pinggang.
b. Selama sakit patah seleraku.
c. Dia padai bertanam tebu di bibir.
d. Rumah pemulung itu berlantai tanah, beratap bintang-gemintang.

2. peribahasa
yaitu kalimat yang dipergunakan tidak dengan arti sebenarnya (kiasan). Guna peribahasa untuk memberi nasihat, teguran, pelajaran, terhadap kesalahan/kealpaan seseorang, juga dipergunakan dalam upacara adat.
Contoh:
a. Air dingin dapat memadamkan api.
b. Seorang yang makan cempedak semua kena getahnya.
c. Manis jangan lekas ditelan, pahit jangan lekas dimuntahkan.
d. Bukan air muara yang ditimba, sudah disauk dari hulunya.
 
3. pepatah
 yaitu kiasan tepat yang dipergunakan untu mematahkan perkataan orang.
 Contoh:
a. Tong kosong nyaring bunyinya.
b. Besar pasak daripada tiang.

4. Tamsil
yaitu perumpamaan yang bersampiran, bersajak, dan berirama.
Contoh:
a. Diam ubi, makin lama makin berisi.
 b. Keras-keras kerak, kena air lunak juga.

 5. perumpamaan
yaitu kalimat yang membandingkan keadaan yang sebenarnya dengan keadaan lain yang ada dalam alam. Perumpamaan biasanya dimulai dengan kata: seperti, bagai, umpama, laksana, bak, sepantun.
Contoh:
a. Seperti menghasta kain sarung.
b. Seperti biduk dikayuh ke hilir.
c. Sepantun ayam kehilangan induk.
d. Bagai anjing dengan kucing.

6. ibarat
yaitu perumpamaan yang seterang-terangnya dengan mengadakan perbandingan dengan alam.
Contoh:
a. Bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.
b. Ibarat bunga, segar dipakai layu dibuang. 

7. pameo
yaitu ucapan tiruan yag biasaya hanya berlaku untuk sementara waktu saja. Pameo = pem + beo, artinya peniru. Pameo digunakan sebagai semboyan atau penambah semangat.
Contoh:
a. Sekali merdeka tetap merdeka.
b. Pantang surut walau selangkah.
c. Hidup mulia atau mati syahid.

8. kata arif
yaitu hadis dari Rasulullah Muhammad SAW yang kemudian terasa sebagai milik umum.
Contoh:
a. Ilmu yang tiada diamalkan  seperti pohon yang tiada berbuah.
b . Senangkanlah hatimu dengan menyenangkan hati orang lain.

                                                                                   Salam cinta bahasa Indonesia dari Malin Batuah.


(Sumber: Bahasa dan Sastra Indonesia, Dra. Nursyam Ilyas)