Senin, 21 Mei 2012

BAHASA INDONESIA DALAM KARYA TULIS ILMIAH


BAHASA INDONESIA DALAM KARYA TULIS ILMIAH:
POKOK-POKOK PIKIRAN

Anang Santoso[1]
Sunaryo H.S.

Untuk mengawali tulisan, satu hal penting perlu dikemukakan, yakni kaidah “selingkung” dalam tatatulis ilmiah. Kaidah selingkung adalah aturan-aturan yang sifatnya berlaku dalam lingkungan tertentu, misalnya departemen satu berbeda dengan departemen lainnya, pemda satu berbeda dengan pemda lainnya, majalah satu berbeda dengan majalah lainnya, jurnal satu berbeda dengan jurnal lainnya. Dengan demikian, apabila kita menyusun karya tulis ilmiah, kita harus mengikuti aturan yang ada di lingkungan yang dimaksud.
Tulisan ini tidak membahas aturan dalam “selingkung” itu. Tulisan ini hanya memfokuskan pada aturan yang sifatnya berlaku untuk semua penulisan karya ilmiah.
Apa yang harus diperhatikan dalam menggunaan bahasa Indonesia (BI) untuk karya tulis ilmiah? Banyak hal yang harus dikuasai oleh seorang penulis karya ilmiah. Berikut dikemukakan beberapa hal yang harus diperhatilkan.

PERTAMA, BI YANG DIGUNAKAN ADALAH BI RAGAM TULIS. Ragam ini mengharuskan penggunaan kata yang utuh, terutama kata yang mengandung afiksasi atau pengimbuhan.

SESUAI
TIDAK SESUAI
·        Bekerja
·        kerja
·        menjual
·        jual
·        tidak
·        nggak atau tak
·        bukan
·        ‘kan
·        Memang
·        emang

Dalam ragam tulisan peranan tanda baca atau pungtuasi menjadi sangat penting. Perhatikan kalimat (1) dan (2) berikut!

(1)   Peninggalan Kerajaan Majapahit, yang ada di Probolinggo, sekarang sudah rusak parah.
(2)   Peninggalan Kerajaan Majapahit yang ada di Probolinggo sekarang sudah rusak parah.
(3)   Istri Pak Zaini, yang ada di Blitar, sedang bekerja.—yang ada di Blitar itu satu-satunya
(4)   Istri Pak Zaini yang ada di Blitar sedang bekerja. (yang ada di Malang ikut PLPG, yang ada di Tulungagung sedang ....3 bulan)
(5)   Feed-back ‘balikan’

Dalam kalimat (1), anak kalimat yang ada di Probolinggo, yang ditulis di antara dua tanda koma, hanyalah merupakan keterangan tambahan dan tidak membatasi frasa peninggalan Kerajaan Mahapahit. Sebaliknya, pada kalimat (2) anak kalimat yang sama membatasi pengertian peninggalan Kerajaan Mahapahit.
Implikasinya dari perbedaan ini ialah bahwa dalam kalimat (1) Kerajaan Majapahit hanya mempunyai satu-satunya peninggalan sejarah dan peninggalan itu ada di Probolinggo, sedangkan pada kalimat (2) Kerajaan Majapahit mempunyai lebih dari satu peninggalan sejarah dan salah satu di antara peninggalan itu ada di Probolinggo. Perbedaan yang dalam bahasa lisan dinyatakan dengan menurunkan intonasi pada (1) di atas dalam bahasa tulis harus diungkapkan dengan jelas sehingga tidak akan timbul salah mengerti.

KEDUA, BI YANG DIGUNAKAN ADALAH BI YANG FORMAL. Formal artinya resmi. Bentuk formal berlawanan dengan bentuk yang kolokial atau bahasa sehari-hari. Bentuk formal digunakan dalam situasi berbahasa yang formal, misalnya dalam penulisan karya ilmiah. Berikut contoh kata-kata formal dan tidak formal.

FORMAL
TIDAK FORMAL
·        Daripada
·        ketimbang
·        hanya
·        cuma
·        berkata
·        bilang
·        membuat
·        bikin
·        bagi
·        buat/pro/teruntuk
·        memberi
·        kasih

Berikut contoh bentukan kata yang formal dan tidak formal.

FORMAL
TIDAK FORMAL
·        mencuci
·        nyuci
·        ditemukan
·        diketemukan
·        legalisasi
·        legalisir
·        lokalisasi
·        lokalisir
·        realisasi
·        realisir
·        terbentur
·        kebentur
·        tertabrak
·        ketabrak
·        pergelaran
·        pagelaran
·        metode
·        metoda
·        mengubah
·        merubah/merobah/mengobah

KETIGA, BAHASA ILMIAH BERTOLAK DARI GAGASAN. Itu berarti, penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan. Pilihan kalimatnya lebih cocok kalimat pasif.

ORIENTASI GAGASAN
ORIENTASI PENULIS
·        Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menumbuhkan dan membina anak berbakat sangat penting.
·        Dari uraian tadi penulis dapat menyimpulkan bahwa menumbuhkan dan membina anak berbakat sangat penting.
·        Perlu diketahui bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam penanaman moral Pancasila
·        Kita tahu bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam penanaman moral Pancasila.
Peneliti mengemukakan x
Dikemukakan oleh peneliti


Kalimat aktif yang berorientasi pada gagasan dapat digunakan seperti contoh (3) dan (4) berikut.

(3)   Badudu (1985) menyatakan bahwa bahasa ilmiah merupakan suatu laras (register) bahasa yang khusus yang memiliki coraknya sendiri.
(4)   Perkembangan perekonomian Indonesia pascareformasi berjalan sangat lambat.

KEEMPAT, BAHASA ILMIAH BERSIFAT OBJEKTIF. Syarat ini terkait dengan ciri ketiga. Dengan menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak, sifat objektif akan terwujud.

OBJEKTIF
SUBJEKTIF
·  Contoh-contoh di atas telah memberikan bukti besar peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.
·  Contoh-contoh di atas telah memberikan bukti betapa besarnya peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.
·  Dari paparan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.
·  Dari paparan tersebut kiranya dapat disimpulkan sebagai berikut.

KELIMA, BI YANG DIGUNAKAN ADALAH BAHASA YANG LUGAS. Lugas artinya ‘apa adanya’. Bahasa lugas membentuk ketunggalan arti. Dengan bahasa yang bermakna apa adanya, salah tafsir dan salah paham terhadap paparan ilmiah dapat dihindarkan. Dalam kalimat (5) ditemukan keambiguan (kemaknagandaan) karena keterangan “yang muda” dapat menerangkan hanya “wanita” atau “pria dan wanita”.

(5)   Pria dan wanita yang muda harus ikut serta.

Kalau prianya tidak harus muda maka kalimat (6) berikut akan lebih jelas.

(6) Wanita yang muda dan pria harus ikut serta.

KEENAM, KALIMAT YANG DIGUNAKAN DALAM KARYA ILMIAH ADALAH KALIMAT HEMAT. Kalimat hemat menghindari penggunaan kata yang berlebihan. Berikut ditampilkan kalimat hemat dan tidak hemat.

HEMAT
TIDAK HEMAT
·        Nilai etis tersebut menjadi pedoman hidup bagi setiap warga negara Indonesia.
·        Nilai etis tersebut di atas menjadi pedoman dan dasar pegangan hidup bagi setiap warganegara Indonesia.
·        Pendidikan agama di sekolah dasar tidak akan terlaksana dengan baik tanpa dukungan dari orang tua.
·        Pendidikan agama di sekolah dasar tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya dukungan dari orang tua dalam keluarga.
·        Obahorok dengan iklhas menerima dan menghisap cerutu pemberian kepala suku yang lebih besar, Presiden RI.
·        Obahorok dengan ikhlas menerima dan menghisap rokok cerutu pemberian kepala suku yang lebih besar, Presiden RI.



KETUJUH, KALIMAT YANG DIGUNAKAN ADALAH KALIMAT LENGKAP. Kalimat lengkap adalah kalimat yang unsur-unsur wajibnya hadir dalam kalimat itu, khususnya subjek dan predikat. Berikut ditampilkan contoh kalimat lengkap dan tidak lengkap.

LENGKAP
TIDAK LENGKAP
·        Pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara subjek didik dengan pendidik.
·        Di dalam pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara subjek didik dengan pendidik.
·        Kenakalan anak-anak yang kadang-kadang merupakan perbuatan kriminal memerlukan perhatian yang cukup serius dari alat-alat negara.
·        Dengan kenakalan anak-anak yang kadang-kadang merupakan perbuatan kriminal memerlukan perhatian yang cukup serius dari alat-alat negara.
·        Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan kata kerja karena perubahan kala dan persona.
·        Di dalam bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan kata kerja karena perubahan kala dan persona.
·        Di dalam bahasa Indonesia tidak dikenal perubahan kata kerja karena perubahan kala dan persona.

KEDELAPAN, BAHASA DALAM KARYA TULIS BERSIFAT KONSISTEN. Konsisten artinya ‘taat asas’ atau ajeg. Sekali sebuah unsur bahasa, tanda baca, dan tanda-tanda lain, serta istilah digunakan sesuai dengan kaidah, itu semua selanjutna digunakan secara konsisten. Sebagai contoh, apabila pada bagian awal uraian terdapat singkatan SMP (Sekolah Menengah Pertama), pada uraian selanjutnya digunakan singkatan SMP, bukan SLTP. Kalimat (7) adalah tidak konsisten, sedangkan kalimat (8) adalah konsisten.

(7)   Perlucutan senjata di wilayah Libanon Selatan itu tidak penting bagi pejuang Hisbullah. Untuk mereka, yang penting adalah pencabutan embargo persenjataan.
(8)   Perlucutan senjata di wilayah Libanon Selatan itu tidak penting bagi pejuang Hisbullah. Bagi mereka, yang penting adalah pencabutan embargo persenjataan.

Merujuk pada pandangan Suparno (1988) kata tugas “untuk” digunakan untuk mengantarkan tujuan dan kata tugas “bagi” digunakan untuk mengantarkan objek.

Papaparan di atas hanyalah sebagaian hal yang harus dipahami oleh seorang penulis karya ilmiah. Masih banyak aspek lain yang harus dikuasai oleh penulis, seperti (1) cara merujuk atau mengutip dari pelbagai sumber, (2) cara menuliskan daftar rujukan dan atau daftar pustaka, (3) cara menulis abstrak, (4) cara merumuskan masalah dan tujuan, (5) cara menjabarkan isi, (6) cara menyusun simpulan, dan sebagainya.
Perlu dipahami bahwa penguasaan berbagai-bagai kaidah penulisan, termasuk di dalamnya penggunaan bahasa, tidak langsung jadi begitu saja. Para penulis memerlukan proses yang panjang untuk menguasainya. Bagi peserta seminar ini, menurut saya, haruslah menerapkan motto 3M1—membaca, membaca, membaca—dan 3M2—menulis, menulis, menulis. Tanpa aktivitas membaca, pengetahuan kita akan kering sehingga bekal untuk menulis pun sangat minim. Demikian juga, menulis perlu dibiasakan dan dilatihkan. Tanpa pembiasaan dan pelatihan yang intensif, kemampuan menulis kita sulit dikembangkan.
 
DAFTAR RUJUKAN

Basuki, I.A. 2000. Bahasa Indonesia Artikel Ilmiah. Dalam Saukah, Ali & Waseso, Mulyadi Guntur (Eds.), Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah (hlm. 65—84). Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Dardjowidjojo, S. 1988. Prinsip dan Format dalam Penulisan Ilmiah. Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia, 2(9): hlm. 111—134.
Johannes, H. 1983. Gaya Bahasa Keilmuan. Dalam Halim, A. & Lumintaintang, Y.B. (Eds.), Kongres Bahasa Indonesia III (hlm. 644—659). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud.
Moeliono, A. Tanpa Tahun. Bahasa yang Efisien dan Efektif dalam Bidang Iptek. Makalah disampaikan pada Penataran Calon Penerjemah Buku Ajar Perguruan Tinggi, Sub-Proyek Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia, Ditjen Dikti, Depdiknas.
Rivai, M.A. 2005. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Suparno. 1998. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Tulisan Ilmiah. Makalah disajikan pada Seminar-Lokakarya Penyuntingan Jurnal Angkatan IV IKIP Malang, tanggal 13—16 Januari 1998.


[1] Dr. Anang Santoso, M.Pd. dan Dr. Sunaryo H.S., S.H., M.Hum. adalah dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UM). Makalah dipresentasikan dalam Seminar Penulisan Karya Ilmiah di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, tanggal 10 Agustus 2008.

2 komentar: