Rabu, 16 Mei 2012

Naskah Drama Legenda Putri Tujuh


Legenda Putri Tujuh: Asal Mula Kota Dumai

Penulis :  Yudi Hendra, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia SMA IT MUTIARA DURI

Daftar nama putri sesuai usia:
1.  Putri Cahya Mentari   (CM)
2.  Putri Bunga Melati   (BM)
3.  Putri Mutiara Jingga  (MJ)
4.  Putri Awan Pelangi         (meninggal duluan)         
5.  Putri Nyiur Melambai  (NM)
6.  Putri Embun Pagi  (EP)
7.  Putri Mayang Mengurai   (MM)

NARASI : 
       Alkisah  zaman dahulu adalah sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini dipimpin seorang ratu bernama Cik Sima. Cik Sima mempunyai tujuh orang putri yang cantik jelita. Yang tercantik dari putri-putri ini adalah yang bungsu yang bernama Puteri Mayang Mengurai.
       Suatu saat pergilah ketujuh puteri ini mandi-mandi ke pemandian yang bernama Sungai Umai. Tanpa dinyana lewat di dekat pemandian itu seorang pangeran dari Kerajaan Empang Kuala. Pangeran Empang Kuala jatuh hati pada Puteri Mayang Mengurai. Ia menyebut puteri yang dicintainya itu putri yang ada di umai.
       Maka datanglah utusan raja Empang Kuala melamar Puteri Mayang Mengurai. Cik Sima sebagai orang tua dan Ratu menolak dengan halus lamaran ini. hal ini menimbulkan kemarahan dari Kerajaan Empang Kuala. Datanglah Pangeran Empang Kuala membawa pasukannya memerangi kerajaan Seri Bunga Tanjung. Terjadilah peperangan yang dahsyat.
Untuk menjaga keselamatan ketujuh puteri, Ratu menyembunyikan mereka di sebuah lubang tanah/gua yang sangat rahasia. Kepada mereka Ratu meninggalkan perbekalan untuk tiga bulan.
Ternyata peperangan berlangsung lama, melebihi masa tiga bulan. Tinggallah ketujuh putri di dalam gua itu dalam kesengsaraan.

*
       Sesosok tubuh tertutup kain putih. Sesosok tubuh yang telah menjadi  mayat. Dialah Putri Awan Pelangi, anak keempat dari Ratu Cik Sima yang memerintah di Kerajaan Seri bunga Tanjung. Mayat Putri Awan Pelangi dikelilingi keenam saudaranya di goa persembunyian mereka. Suasana duka bertumpuk-tumpuk di hati dan wajah mereka.


MM       :  (menangis terisak-isak tanda duka yang amat dalam)
”Tidaklah sakit dunia yang aku tangiskan
Bukan derita hidup yang aku duka
Kasih pergi ganti tiada

Akhirat pasti akan datang
Kematian pasti akan tiba
Namun duka tak hendak pergi
Sayang tak berhingga akan kanda Awan Pelangi.”
(menangis lebih keras, demikian pula saudara-saudaranya yang lain. Kecuali putri kedua, Putri Bunga Melati.)
”Gabak di hulu tanda kan hujan
 Bantaran sungai hendak disusuri
tumpahlah air mata sepenuh lautan
belumlah sedih kan bisa pergi”

”Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha. Ya Allah, ampunilah dosanya, sayangilah ia, maafkan sa….”


BM         : (sontak berdiri, berteriak histeris)
”Cuku….p!!!  Cukup .. Mayang Mengurai. Cuku…pp!! Cukup sudah omong kosongmu!”(menunjuk Mayang Mengurai dengan telunjuk kirinya. Matanya merah penuh amarah, kebencian).
CM         :  (lekas berdiri merengkuh Bunga Melati)
”Adindaku sayang Bunga Melati. Sabar, Dek. Allah cinta kepada orang-orang yang sabar.”
(memeluk Bunga Melati)

BM         : (melepaskan pelukan Cahya Mentari)
”Biar… biar, Kak. Biar semua tahu. Biar semua jadi saksi. Gua yang pengap dan memuakkan ini kelak juga akan jadi saksi atas laknat yang patut ditimpakan kepada .. dia….”
(menunjuk dengan telunjuk tangan kiri kepada Mayang Mengurai, penuh amarah dan benci)
Dia….

MM       : ”Aku, kak….?”  (memandang Bunga Melati dengan keheranan)

BM         :  ”Ya kamu…!”

MM       :  ”Apa salahku, Kak?”

BM         :   ”Jangan pura-pura bodoh. Kamulah pangkal bala ini. Kamulah yang menyebabkan kehancuran     
                    Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Kamu yang membuat kita semua dikurung dalam lubang tanah  
                    yang busuk, pengap, dan sekarang dalam kelaparan menanti kematian.”

MM       :   ”Mengapa aku, Kak. Apa salahku?”  (menghampiri Bunga Melati)

BM            : (Mendorong Mayang Mengurai sehingga Mayang Mengurai jatuh terjungkang. Mayang Mengurai menangis ditemani saudaranya yang lain.)
”Mengapa kamu tolak lamaran Pangeran Empang Kuala? Apa yang kurang pada pangeran itu. Ia gagah, kaya, keturunan orang terhormat. Ia calon raja. Apa lagi yang kauinginkan….”

MM       :  ”Aku tak menolak…ibu yang menolak.  Bukan aku..”

BM         :  ”Ibu menolak karena permintaanmu.
Lihat..lihat akibat perbuatanmu. Ribuan orang mati tak berguna..sia-sia. Mati hanya demi seorang wanita. Darah berserakan memenuhi bumi. Sungguh engkau patut dikutuk manusia sepanjang zaman. Terkutuklah engkau… terkutuklah dirimu selama bumi terbentang!!!  Kau  wanita penghuni neraka jahanam!!
Ribuan wanita jadi janda. Ribuan anak jadi yatim. Engkau menebar darah, duka, airmata di tanah ini, tanah tumpah darahmu.”
 (mendekati mayat Awan Pelangi)
”Andai tak kau tolak lamaran itu, Awan Pelangi takkan mati.”

CM            :   ”Jangan menyesali apa yang telah terjadi. Itu tidak boleh. Apa yang telah terjadi adalah takdir yang telah ditulis di lauh mahfuz  lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.
Mayang, jangan bersedih. Kamu tidak salah. Kakakmu Bunga Melati  sedang galau. Pikiran sehatnya tidak berfungsi.”

MM          :  ”Ini memang salahku. Kak Bunga Melati  benar. Seharusnya aku tidak menolak lamaran Pangeran Empang Kuala.  Aku benci diriku. Karena aku rakyat Kerajaan Seri Bunga Tanjung binasa. Karena aku, kita semua akan mati di gua ini.”

EP              :  “Sudahlah, Dek. Kami merasa tidak menderita. Bukankah hidup ini memang selalu begini. Susah senang, suka duka, bahagia, derita. Kalau dalam hari-hari ini kita dalam penderitaan, maka ini adalah jalan pasti kehidupan yang tidak hanya kita yang merasakan.”

MJ             : ”Kita tidak boleh berputus asa. Berputus asa adalah sifat orang kafir. Kita masih punya Allah yang Maha mengetahui apa yang terjadi pada kita. Allahhussomad, Allah tempat meminta tempat bergantung. Allah pasti menolong kita.”

CM         :  “Sekarang mari kita kuburkan jenazah Awan Pelangi.”

(mereka bersiap mengangkat jenazah Awan Pelangi bersama-sama)

EP           :  ”Aduuh.. kak… kepalaku sakit sekali, pandanganku berkunang-kunang..  Aduu..h..!”

CM         : Kalau begitu engkau tinggal saja. Istirahatlah. Mayang, engkau temani  Embun Pagi.

Jenazah Awan Pelangi diangkat untuk dikebumikan. Embun Pagi dan Mayang Mengurai tertinggal.

EP              : ”Aduu..h,  aduu…h…. kepalaku sakit sekali. Rasanya mau pecah. Mayaan…g  sakit sekali… aduuh…”

MM       :  “Bertahanlah, Kak.”

(Mayang mengambil segelas air putih. Membacakan alfatihah, lalu memberikannya kepada Embun)

MM       :   ”Minumlah air ini kak, mudah-mudahan bisa meringankan.”

EP           :   “Terima kasih.”

Embun menjangkau gelas yang disodorkan Mayang. Baru saja gelas tersentuh olehnya, langsung lepas lagi. Gelas pecah, air tumpah semua. Embun menjelang sakaratul maut.

EP           :  ”Asyha…..dualaa..ilaa ha illallaaa……”

Mayang menangis dengan hati hacur berkeping. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia terus menangis dengan tak berhenti memanggil-manggil nama Embun Pagi dengan suara yang pelan.
Embun menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan Mayang.

MM       :   “Embuun……..”

(suara Mayang panjang menggema membelah alam. Pasti didengar semua yang bisa mendengar. Lolongan kesedihan dan kepedihan yang teramat dalam)

                ”Jangan tinggalkan aku embun….
Jangan pergi…
Buka matamu  kak embun…
……
Atau bawa aku bersamamu….”

(Siapa pun yang melihat dan mendengar Mayang pasti akan terperangkap dalam duka dan air mata. Kesedihan dari hati yang sangat berduka)

”Bangun.. embun
Bangun..
Embuun…”

Bukan hanya Embun yang diratapi Mayang. Ia meratapi semua. Kata tak cukup lagi mengungkap duka. Air mata bertahta dalam jiwa.

Tiba-tiba Mayang terdiam. Semua sunyi. Ia mengangkat kepalanya, tengadah. Ia menatap langit. Matanya tajam dan liar.
Tiba-tiba  ia berteriak keras. Keras sekali. Alam seakan berguncang, bumi gempa, burung-burung beterbangan.

”Huaaa……………….aaaaaaaaa…aaaaaaaaaaaa…!!!!!!!!!!!!!!!!!”


MM          : ”Bunga Melati benar. Akulah manusia terkutuk yang telah membawa malapetaka ini. karena aku  Seri Bunga Tanjung banjir darah.
Aduhai, mengapa aku tak mati saja sebelum musibah ini.
Andai aku tak pernah dilahirkan.
Andai aku debu.
Wahai  Robb langit dan bumi. Jika laknat ini untukku, biarlah kutanggungkan semua.
Jangan timpakan lanknat ini pada ibuku, saudara-saudaraku, rakyatku.
Mengapa mereka yang mesti menaggungkan azab ini…
Mengapa tidak aku saja yang menanggungkannya..
Banjir darah di mana-mana.
Air mata tumpah menggenangi negeriku.
Tawa dan senyum telah hilang, berganti tangisan, tak tahu kapan akan berhenti.
Anak-anak kehilangan masa indah mereka.
Para wanita kehilangan kehormatan dan tempat bergantung.
Masa depan mereka menjadi gelap, segelap malam saat bulan bintang menghilang.

Akulah sumber malapetaka ini.

Saudaraku satu per satu mati.
Rakyatku mati.
Sedang aku, sumber malapetaka ini, masih hidup.
Aku lebih baik mati. Mungkin kematianku bisa menjadi tumbal untuk menghentikan petaka ini.

Ya Allah..
Aku tahu engkau akan murka
Aku tahu jahanam telah menantiku
Tapi,
Aku tak sanggup menanggungkan lagi”

(Mayang bermaksud bunuh diri. Ia telah memegang sebilah belati di tangan kanannya. Dengan cepat belati itu ia tancapkan ke perutnya.)

(Tiba-tiba saudara-saudara Mayang datang dan mencegah perbuatannya.)

MJ          :   ”Apa yang kaulakukan mayang. Ini perbuatan hina. Tempatnya di kerak neraka.”

MM       :  ”Biarkan, biarkan aku mati. Aku pantas masuk neraka. Aku sumber petaka.  
Lepaskan..
Lepaskan…
Lepaskan….
Lepaskan…..
Aku mau mati…”

Plak ..
Cahya Mentari menampar Mayang Mengurai. Keras. Mayang tersungkur, tengkurap mencium bumi.


CM            :  ”Kamu jangan membuat malu sejarah nenek moyang kita dengan kelemahanmu plus kebodohanmu itu. Ratu Cik Sima, ibu kita, saat sekarang sedang bertungkus lumus mempertaruhkan kepalanya dan kepala kestria Kerajaan Seri Bunga Tanjung untuk menegakkan muruah negeri kita. Tindakan dan ucapanmu sebagai salah seorang puteri kerajaan bertolak belakang dengan kegagahberanian yang terkenal pada penduduk negeri kita. Laki-laki perempuan orang Seri Bunga Tanung berdarah pahlawan.  Ingat itu dan hentikan ucapanmu yang tak bernilai itu!!

Setiap orang pasti mati. Perang hanya alat bagi pemilik kehidupan mendatangkan kematian. Bukan perang yang membuat orang mati. Tidak ajal berpantang mati. Kalau ajal belum sampai, tak ada apa pun yang bisa merenggut nyawa orang.
Kuatkan hati. Istighfar. Sebut nama-Nya sebanyak-banyaknya.”


MJ          :  ”Embun Pagi kak….”

Mereka bersama-sama mengerubungi jenazah Embun Pagi.

CM         :    Kullu nafsin zaa ikatul maut.
Kalau Allah menghendaki kita semua mati di gua persembunyian ini, kita harus terima. Ia pasti memberikan yang terbaik bagi kita.
Berdoalah agar kita bisa berkumpul lagi bersama di kehidupan mendatang, yang kekal abadi.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah. Irji’I ila robbiki rodiyyatam mardhiyyah. Fadkuli fii ‘ibadi, wadkuli jannati.”


NARASI:
      Setelah perang usai barulah ibu mereka, Cik Sima, datang menjemput. Dan dia harus menelan kenyataan pahit bahwa ketujuh puterinya telah meninggal dalam keadaan sengsaran dan kelaparan.

     Terkenallah tempat putri cantik itu sekarang  dengan nama Dumai (= berasal dari ucapan Pangeran Empang Kuala yang menyatakan puteri diumai, untuk menyebut puteri Mayang Mengurai). Legenda mereka terkenal dengan Legenda Puteri Tujuh.


****








1 komentar:

  1. makasih ya bbpk, ni bisa jdi bahan penyelesaian tugas anak saya

    BalasHapus