Senin, 28 Mei 2012

Frasa




                           Frasa

Kalimat terdiri atas beberapa satuan. Satuan-satuan tersebut terdiri
atas satu kata atau lebih. Satuan pembentuk kalimat tersebut menempati
fungsi tertentu. Fungsi yang dimaksud yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek
(O), Pelengkap (Pel.), dan Keterangan (Ket.).
Fungsi-fungsi tersebut boleh ada atau tidak dalam suatu kalimat.
Fungsi yang wajib ada yaitu subjek dan predikat. Fungsi dalam kalimat
dapat terdiri atas kata, frasa, maupun klausa. Frasa adalah satuan yang
terdiri atas dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi kalimat.
Contoh:
Dua orang mahasiswa baru itu sedang membaca buku di perpustakaan.
Perhatikan penjabaran fungsi kalimat di atas!
Dua orang mahasiswa sedang membaca di perpustakaan.
S P Ket. tempat
Kalimat di atas terdiri atas tiga frasa yaitu dua orang mahasiswa, sedang
membaca, dan di perpustakaan.
Jadi, frasa memiliki sifat sebagai berikut.
1. Frasa terdiri atas dua kata atau lebih.
2. Frasa selalu menduduki satu fungsi kalimat.

A. Kategori Frasa
1. Frasa Setara dan Frasa Bertingkat
Sebuah frasa dikatakan setara jika unsur-unsur pembentuknya
berkedudukan sederajat atau setara.
Contoh:
Saya dan adik makan-makan dan minum-minum di taman depan.
Frasa saya dan adik adalah frasa setara sebab antara unsur saya
dan unsur adik mempunyai kedudukan yang setara atau tidak
saling menjelaskan. Demikian juga frasa makan-makan dan minum-minum
termasuk frasa setara. Frasa setara ditandai oleh adanya
kata dan atau atau di antara kedua unsurnya. Selain frasa setara,
ada pula frasa bertingkat. Frasa bertingkat adalah frasa yang terdiri
atas inti dan atribut.
Contoh:
Ayah akan pergi nanti malam.
Frasa nanti malam terdiri atas unsur atribut dan inti.

2. Frasa Idiomatik
Perhatikan kata-kata bercetak miring berikut!
1) Dalam peristiwa kebakaran kemarin seorang penjaga toko
menjadi kambing hitam.
2) Untuk menyelamati saudaranya, keluarga Pinto menyembelih
seekor kambing hitam.
Kalimat 1) dan 2) menggunakan frasa yang sama yaitu frasa
kambing hitam. Kambing hitam pada kalimat 1) bermakna orang
yang dipersalahkan dalam suatu peristiwa , sedangkan dalam
kalimat 2) bermakna seekor kambing yang warna bulunya hitam .
Makna kambing hitam pada kalimat 1) tidak ada kaitannya
dengan makna kata kambing dan kata hitam. Frasa yang maknanya
tidak dapat dirunut atau dijelaskan berdasarkan makna kata-kata
yang membentuknya dinamakan frasa idiomatik.

B. Konstruksi Frasa
Frasa memiliki dua konstruksi, yakni konstruksi endosentrik dan
eksosentrik.
Perhatikan kalimat berikut!
Kedua saudagar itu telah mengadakan jual beli.
Kalimat di atas terdiri atas frasa kedua saudagar itu, telah mengadakan,
dan jual beli. Menurut distribusinya, frasa kedua saudagar itu dan telah
mengadakan merupakan frasa endosentrik. Sebaliknya, frasa jual beli
merupakan frasa eksosentrik.
Frasa kedua saudagar itu dapat diwakili kata saudagar. Kata saudagar
adalah inti frasa bertingkat kedua saudagar itu. Demikian juga frasa
telah mengadakan dapat diwakili kata mengadakan. Akan tetapi, frasa
jual beli tidak dapat diwakili baik oleh kata jual maupun kata beli. Hal
ini disebabkan frasa jual beli tidak memiliki distribusi yang sama
dengan kata jual dan kata beli. Kedua kata tersebut merupakan inti
sehingga mempunyai kedudukan yang sama.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa frasa kedua saudagar
itu berdistribusi sama dengan frasa saudagar itu dan kata saudagar. Frasa
telah mengadakan berdistribusi sama dengan mengadakan. Frasa yang
distribusinya sama dengan salah satu atau semua unsurnya dinamakan
frasa endosentrik. Frasa yang distribusinya tidak sama dengan salah
satu atau semua unsurnya disebut frasa eksosentrik. Frasa jual beli
termasuk frasa eksosentrik karena baik kata jual maupun kata beli tidak
dapat menggantikan jual beli.
Frasa endosentrik meliputi beberapa macam frasa.
1. Frasa Endosentrik yang Koordinatif
Frasa ini dihubungkan dengan kata dan dan atau.
Contoh:
Pintu dan jendelanya sedang dicat.
2. Frasa Endosentrik yang Atributif
Frasa ini terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara.
Contoh:
Pekarangan luas yang akan didirikan bangunan itu milik Haji
Abdulah.
3. Frasa Endosentrik yang Apositif
Secara semantik unsur yang satu pada frasa endosentrik apositif
mempunyai makna sama dengan unsur yang lain. Unsur yang
dipentingkan merupakan unsur pusat, sedangkan unsur
keterangan merupakan aposisi.
Contoh:
Alfia, putri Pak Bambang, berhasil menjadi pelajar teladan.

C. Kelas Frasa
Frasa dibagi menjadi enam kelas kata. Pembagian frasa meliputi frasa
benda, kerja, sifat, keterangan, bilangan, dan depan.
1. Frasa Benda atau Frasa Nomina
Frasa benda atau frasa nomina adalah frasa yang distribusinya
sama dengan kata benda. Unsur pusat frasa benda yaitu kata
benda.
Contoh:
a. Dita menerima hadiah ulang tahun.
b. Dita menerima hadiah.
Frasa hadiah ulang tahun dalam kalimat distribusinya sama
dengan kata benda hadiah. Oleh karena itu, frasa hadiah ulang tahun
termasuk frasa benda atau frasa nomina.

2. Frasa Kerja atau Frasa Verba
Frasa kerja atau frasa verba adalah frasa yang distribusinya
sama dengan kata kerja atau verba.
Contoh:
Adik sejak tadi akan menulis dengan pensil baru.
Frasa akan menulis adalah frasa kerja karena distribusinya sama
dengan kata kerja menulis dan unsur pusatnya kata kerja, yaitu
menulis.

3. Frasa Sifat atau Frasa Adjektiva
Frasa sifat atau adjektiva adalah frasa yang distribusinya sama
dengan kata sifat. Frasa sifat mempunyai inti berupa kata sifat.
Kesamaan distribusi itu dapat dilihat pada jajaran berikut.
Contoh:
a. Lukisan yang dipamerkan itu memang bagus-bagus.
b. Lukisan yang dipamerkan itu – bagus-bagus.

4. Frasa Keterangan atau Frasa Adverbia
Frasa keterangan adalah frasa yang distribusinya sama
dengan kata keterangan. Biasanya inti frasa keterangan juga
berupa kata keterangan dan dalam kalimat sering menduduki
fungsi sebagai keterangan.
a. Frasa keterangan sebagai keterangan.
Frasa keterangan biasanya mempunyai keleluasaan
berpindah karena berfungsi sebagai keterangan. Oleh karena
itu, frasa keterangan dapat terletak di depan atau di belakang
subjek atau di awal dan di akhir kalimat.
Contoh:
1) Tidak biasanya dia pulang larut malam.
2) Dia tidak biasanya pulang larut malam.
3) Dia pulang larut malam tidak biasanya.
b. Frasa keterangan sebagai keterangan pada kata kerja.
Contoh:
Saya tidak hanya bertanya, tetapi juga mengusulkan sesuatu.

5. Frasa Bilangan atau Frasa Numeralia
Frasa bilangan adalah frasa yang distribusinya sama dengan
kata bilangan. Pada umumnya frasa bilangan atau frasa numeralia
dibentuk dengan menambahkan kata penggolong atau kata bantu
bilangan.
Contoh:
Dua orang serdadu menghampirinya ke tempat itu.

6. Frasa Depan atau Frasa Preposisional
Frasa depan adalah frasa yang terdiri atas kata depan dengan
kata lain sebagai unsur penjelas.
Contoh:
Laki-laki di depan itu mengajukan pertanyaan kepada pembicara.


D. Frasa yang Bersifat Ambigu
Ambiguitas terkadang ditemui dalam susunan frasa. Ambiguitas
berarti kegandaan makna.
Contoh:
Kambing hitam dan mobil tetangga baru.
Frasa kambing hitam dapat mempunyai dua makna, yakni kambing
yang berbulu (berwarna) hitam dan sebuah ungkapan yang berarti
orang yang dipersalahkan. Frasa mobil tetangga baru juga dapat
memiliki dua makna, yakni yang baru adalah mobil (milik tetangga)
dan yang baru adalah tetangga (bukan mobilnya). Frasa ambigu akan
menjadi jelas jika digunakan dalam kalimat.


Sumber: Sintaksis, Ramlan, 1997, Yogyakarta, Karyono


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar